Matematika sering menjadi patokan kepintaran anak di sekolah, sehingga hal ini dapat membuat anak merasa takut atau stres. Apalagi sebagian orang tua berlomba-lomba membuat anaknya pandai matematika sejak dini. Padahal belajar matematika tetap bisa dilakukan dengan menyenangkan.

Sebuah studi menemukan, anak yang diberitahu bahwa ia pintar dalam matematika akan lebih berpeluang benar-benar menguasai matematika, terlepas dari apakah mereka memang benar-benar mampu atau tidak. Penting untuk membuat anak berpikir positif lebih dulu bahwa mereka bisa mengerjakan soal-soal matematika.

Yuk Bunda, Jadikan Belajar Matematika Menyenangkan untuk Si Kecil - Alodokter

Belajar Matematika dengan Menyenangkan

Balita usia 2-3 tahun kemungkinan sudah dapat mengenali angka, tapi belum bisa menggunakannya sebagai sarana menghitung benda. Di usia ini Bunda dapat mulai memperkenalkan hitungan dengan cara yang menyenangkan, seperti menghitung langkah kaki.

Di usia 3-4 tahun, anak mulai memahami konsep jumlah. Sementara di usia 4-6, ia mulai bisa mengasosiasikan jumlah barang dengan angka, yang berarti adalah mereka mulai dapat menghitung. Sementara di usia 5-7 tahun, Bunda dapat melihat ia bisa menghitung jumlah temannya atau mengambil permen dengan jumlah yang sama untuk dibagikan.

Beberapa cara yang dapat dilakukan Bunda untuk belajar berhitung dengan menyenangkan, seperti:

  • Menghitung berapa mobil berwarna merah yang ditemui sepanjang perjalanan ke supermarket.
  • Menghitung berapa jumlah baju yang baru diangkat dari jemuran.
  • Menghitung jumlah sayur atau buah yang akan dimasak hari itu.

Bunda juga dapat mengajaknya membantu pekerjaan rumah sambil berhitung. Misalnya, memisahkan pakaian putih dari pakaian berwarna untuk dicuci sambil menghitungnya..

Membantu Anak yang Kesulitan Belajar

Umumnya di kelas 1 sekolah dasar (SD) anak belajar penambahan dan pengurangan terbatas hanya satu angka. Kemudian, meningkat menjadi dua angka pada kelas 2. Ketika anak duduk di kelas 3-4, anak akan mulai belajar perkalian dan pembagian. Seiring waktu Bunda mungkin mendapat bahwa anak mungkin menguasai beberapa jenis hitungan tapi lemah pada bagian lain.

Kapan Bunda perlu lebih memberikan perhatian atau mencari bantuan profesional? Jika anak sudah terlihat sering tidak gembira saat belajar berhitung. Bunda dapat mencoba perhatikan bagaimana anak mengerjakan hitungan yang biasa dilakukan anak seusianya.

Kalau ia memang terlihat lambat atau kesulitan belajar matematika (dyscalculia), orang tua dapat mengobservasi dan menunggu hingga kira-kira satu tahun sebelum meminta bantuan ahli atau profesional. Namun, hindari memberinya sebutan atau stigma yang menandakan ia tidak mampu menguasai matematika.

Hal yang pasti, Bunda perlu ingat bahwa kesulitan yang dihadapi anak seharusnya tidak membuat Bunda panik, tapi justru membuat Bunda ingat untuk terus memotivasi. Bunda bisa mengatakan pada anak bahwa ia tidak perlu sempurna dalam matematika, namun tetap ajak Si Kecil berusaha sebaik mungkin.

Yuk Bunda, terus dukung Si Kecil belajar matematika dengan menyenangkan.