Anak Kesulitan Matematika? Bisa Jadi Ia Mengalami Dyscalculia

Nilai akademis anak Bunda baik-baik saja di pelajaran lain, tetapi mengapa ya Matematika selalu membuatnya resah? Untuk pelajaran yang satu itu, nilainya selalu di bawah rata-rata. Seakan-akan ia tidak memahami semua penjelasan gurunya. Apa yang sebenarnya terjadi?

Penelitian menemukan bahwa sekitar 7% anak yang duduk di sekolah dasar (SD) mengalami dyscalculia atau mengalami kesulitan belajar Matematika. Dyscalculia membuat anak kesulitan memahami Matematika, karena kondisi tertentu dalam otak. Walau ternyata lebih sering dialami anak-anak ADHD (attention deficit hyperactivity disorder), tetapi dyscalculia bukan gangguan mental ya, Bunda. Yuk kenali lebih jauh.

Anak Kesulitan Matematika Bisa Jadi Ia Mengalami Dyscalculia (1)

Mengenali Anak dengan Dyscalculia

Bunda mungkin bertanya-tanya apa sih yang menyebabkan dyscalculia. Penyebabnya tidak diketahui pasti. Tetapi, diduga ini disebabkan gangguan perkembangan pada area otak yang memproses informasi berupa angka. Ini perlu dibedakan dengan anak yang lemah dalam Matematika karena tidak memiliki dukungan fasilitas, gangguan kognitif, atau gangguan perilaku lain.

Tidak hanya dari nilai pelajaran Matematika yang rendah, Bunda dapat mengenali anak dengan dyscalculia menunjukkan ciri-ciri seperti:

  • Panik setiap kali bertemu pelajaran Matematika. Bahkan ia juga bisa cemas atau kecewa jika menemukan permainan atau game yang membutuhkan kemampuan berhitung.
  • Saat anak lain seusianya sudah tidak lagi menghitung dengan jari, anak dengan dyscalculia mungkin masih melakukannya.
  • Sulit memperkirakan ukuran, seperti berapa tinggi sesuatu, atau berapa lama perjalanan dari satu tempat ke tempat lain.
  • Sulit memahami perhitungan Matematika dasar, seperti pertambahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian.
  • Sulit menghubungkan antara angka dengan kata yang mewakilinya (1 dengan ‘satu’).
  • Sulit menghitung uang dan kembalian.
  • Sulit membaca jam dan mengingat kombinasi angka seperti nomor telepon.
  • Kesulitan mengikuti petunjuk bertahap.
  • Sulit mengenali pola.
  • Bingung dengan angka yang mirip, seperti 75 dan 57.
  • Bisa saja hari ini dia bisa mengerjakan soal Matematika, tapi besok sama sekali lupa caranya.

Mendampingi Anak dengan Dyscalculia

Kalau memang anak Bunda terlihat sangat tertinggal dalam pelajaran Matematika, sebaiknya jangan buru-buru menganggap ia mengalami dyscalculia ya, Bunda. Ada baiknya periksakan si Kecil ke dokter untuk mengentahui kemungkinan adanya gangguan lain, seperti gangguan penglihatan atau pendengaran, yang mungkin membuatnya sulit memahami penjelasan guru.

Jika memang diduga anak Bunda mengalami dyscalculia, maka dokter anak akan merujuk pada dokter dengan keahlian terkait, untuk dilakukan tes. Umumnya tes yang dilakukan meliputi kemampuan Matematika, kelancaran atau kemampuan berhitung, dan kemampuan untuk memahami kata. Mungkin anak akan dirujuk untuk berkonsultasi pada dokter ahli kesehatan jiwa bagian tumbuh kembang, atau pada psikolog anak bila diperlukan.

Beberapa hal di bawah ini dapat menjadi panduan Bunda untuk mendampingi mereka:

  • Mengenali gaya belajar yang tepat

Hal ini diharapkan dapat membantunya belajar Matematika dengan pendekatan lain. Menggunakan benda yang dapat dilihat dan disentuh mungkin dapat membantu anak memahami pertambahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian. Biarkan anak Bunda menggunakan kertas dan jari tangannya untuk menghitung, meski anak lain sudah tidak melakukannya. Selain itu, Bunda dapat mengajaknya memainkan permainan yang melibatkan Matematika. Musik juga dapat digunakan untuk mengajarkan Matematika.

  • Membicarakan kondisi ini dengan guru di sekolah

Bunda bersama guru dapat bekerja sama untuk menemukan solusi yang tepat, seperti memberikan pelajaran tambahan. Jika perlu, anak mendapat tambahan waktu untuk mengerjakan tugas dan ulangan di sekolah. Umumnya, anak perlu belajar di tempat yang tenang tanpa hal-hal yang dapat memecah konsentrasinya.

  • Memuji setiap usaha anak

Meski belum mencapai hasil maksimal, selalu beri pujian tiap kali dia berusaha keras.

  • Membantu anak mengelola kecemasan

Bunda dapat membantu anak menerima kelemahannya, serta mengenali dan mendukung kekuatannya di bidang lain. Ajak anak berbicara mengenai hal ini, sehingga dapat membantunya mengelola kecemasan yang dia rasakan.

Jangan sampai mencap anak yang kurang mampu mengikuti pelajaran Matematika, sebagai anak bodoh ya, Bunda. Dengan pendampingan yang tepat, anak dengan dyscalculia dapat mengatasi masalahnya, sekaligus tetap mengembangkan kemampuannya di bidang lain.

Ditinjau oleh : dr. Allert Noya

Referensi