Anak usia dua tahun, umumnya sudah bisa mengucapkan dua kata, seperti “mau susu” dan “mau makan”. Jika Si Kecil belum bisa mengucapkan rangkaian kata sederhana, ada kemungkinan ia mengalami gangguan bicara apraksia. Gangguan ini dapat diatasi dengan terapi wicara dan kebiasaan-kebiasaan lain di rumah.

Apraksia merupakan gangguan saraf pada otak yang membuat anak kesulitan mengkoordinasikan otot yang digunakan pada saat bicara. Anak dengan apraksia mengetahui apa yang ingin dikatakan, namun kesulitan menggerakkan rahang, lidah, dan bibir untuk berbicara.

Yuk, Kenali Gangguan Bicara Apraksia pada Anak dan Cara Mengatasinya - Alodokter

Gangguan Bicara Apraksia

Gangguan bicara apraksia memiliki kemiripan dengan gangguan bicara disartria. Apraksia pada anak biasanya disebabkan oleh gangguan genetik dan metabolisme. Selain itu, beberapa kondisi seperti kelahiran prematur dan ibu yang mengonsumsi alkohol atau obat-obatan terlarang saat hamil, juga bisa menjadi faktor yang memicu gangguan bicara apraksia pada anak.

Apraksia biasanya baru bisa terdeteksi pada anak usia bawah tiga tahun (batita), yaitu usia 18 – 24 bulan. Berikut beberapa gejala-gejala yang dapat menandakan kondisi apraksia pada anak:

  • Kurangnya ocehan ketika bayi.
  • Tampak kesulitan menggerakkan mulut untuk mengunyah, mengisap dan meniup.
  • Kesulitan saat mengucapkan huruf konsonan yang berada di awal dan akhir kata, seperti “makan”, “minum”, dan “tidur”.
  • Lebih sering menggunakan gerakan tubuh untuk berkomunikasi, misalnya menyodorkan tangan untuk meminta sesuatu atau menangis jika ingin makan atau minum.
  • Susah mengucapkan kata yang sama untuk kedua kalinya. Misalnya, Si Kecil mungkin bisa mengucapkan dengan benar kata “ayam” ketika pertama kali mengucapkannya. Namun, untuk yang kedua kalinya, Si Kecil akan mengalami kesulitan untuk mengucapkannya lagi.

Cara Mengatasi Gangguan Bicara Apraksia

Apabila Si Kecil mengalami gejala seperti di atas, kemungkinan menderita gangguan bicara apraksia. Namun untuk memastikan kondisinya lebih lanjut, sebaiknya segera berkonsultasi ke dokter. Biasanya dokter akan menilai kemampuan anak dalam mengucapkan satu kata secara berulang-ulang.

Terapi wicara adalah cara paling ampuh yang bisa diterapkan untuk kondisi ini. Umumnya terapi wicara perlu dilakukan secara rutin sebanyak dua kali seminggu, untuk meningkatkan kemampuan bicara anak.

Selain terapi wicara, ada pula beberapa kebiasaan sederhana yang dapat dilakukan Bunda dan Ayah untuk membantu meningkatkan kemampuan bicara Si Kecil:

  • Mendengarkan musik
    Bunda dan Ayah dapat mendengarkan musik bersama Si Kecil,  lalu ajak ia bernyanyi. Si Kecil juga dapat diajak untuk menonton video musik di gadget. Sehingga Si Kecil akan melihat secara langsung cara penyanyi mengucapkan suatu kata dan kalimat. Melakukan terapi musik terbukti bisa membuat anak mengeluarkan lebih banyak suku kata dan kombinasi bunyi yang berbeda.
  • Bermain mengucapkan kata sederhana dengan Si Kecil
    Ajak Si Kecil untuk mengucapkan satu kata sederhana secara berulang-ulang, seperti makan, malam, minum, dan mandi. Usahakan untuk melakukan permainan sederhana ini di depan cermin, agar Si Kecil mengetahui bagian mulut mana yang harus digerakkan ketika mengucapkan suatu kata.
  • Menggunakan bahasa isyarat
    Bahasa isyarat juga bisa menjadi salah satu cara yang dapat digunakan untuk mengatasi gangguan bicara apraksia. Dengan menggunakan bahasa isyarat, Si Kecil dapat berlatih menggerakkan mulut untuk mengucapkan suatu kata.

Dukungan dari orang tua dan keluarga sangat penting untuk proses melatih bicara pada anak yang mengalami gangguan bicara apraksia.

Gangguan bicara apraksia sebaiknya segera diatasi dengan cara yang tepat. Jika mendapatkan adanya gejala-gejala apraksia pada Si Kecil, Bunda dan Ayah dapat berkonsultasi ke dokter anak untuk mendapatkan penanganan secepatnya.