Ada berbagai tipe pola asuh anak. Salah satunya adalah pola asuh orang tua helikopter. Seperti apakah pola asuh helikopter ini? Apa dampaknya bagi perkembangan mental anak? Yuk, cari tahu lebih banyak tentang pola asuh helikopter!

Orang tua helikopter merupakan istilah lain dari orang tua overprotektif. Orang tua dengan pola asuh helikopter cenderung berlebihan dalam melindungi dan mengatur segala hal yang berhubungan dengan anak.

Yuk, Kenali Lebih Jauh tentang Pola Asuh Helikopter - Alodokter

Pola Asuh Orang Tua ‘Helikopter’

Pola asuh orang tua helikopter biasanya disebabkan oleh rasa khawatir orang tua yang berlebihan, persaingan antar orang tua, dan ketakutan akan terabaikan oleh anak.

Orang tua helikopter cenderung akan ‘membayangi’ anak dalam segala hal. Pola asuh orang tua helikopter bisa diterapkan di setiap tahapan umur.

Sebelum usia sekolah, pola asuh ini tampak dari sikap orang tua yang tidak pernah membiarkan anak bermain sendiri atau selalu mengarahkan perilaku anak.

Kemudian pada anak usia sekolah, pola asuh helikopter termasuk menentukan aktivitas atau teman anak, memastikan guru atau pelatih anak di sekolah sesuai keinginan, atau mengerjakan pekerjaan rumah (PR) anak hingga dirasa sempurna.

Dampak Negatif Pola Asuh Orang tua ‘Helikopter’

Jika dibiarkan terus-menerus, pola asuh orang tua helikopter bisa berdampak negatif untuk anak. Pola asuh helikopter dapat membuat anak menjadi:

1. Sulit untuk menyelesaikan masalah

Menurut penelitian, anak yang diasuh dengan pola asuh orang tua helikopter cenderung memiliki kesulitan ketika menyelesaikan masalahnya sendiri. Khususnya dalam menyelesaikan permasalahan yang ada di lingkungan sekolah.

2. Selalu tergantung pada orang lain dan tidak mandiri

Apabila orang tua selalu membangunkan anak di pagi hari untuk sekolah dan menyiapkan semua kebutuhannya, termasuk membereskan tas sekolah, anak tidak akan belajar untuk mandiri. Padahal, ada saatnya nanti anak tidak tinggal dengan orang tua lagi dan mau tidak mau ia harus bisa mengurus dirinya sendiri.

3. Sulit mengendalikan emosi

Pola asuh orang tua helikopter dapat meningkatkan risiko anak sulit untuk mengendalikan emosi. Hal inilah yang kemudian juga membuat anak mengalami kesulitan untuk bersosialisasi dengan teman-temannya.

4. Tidak percaya diri

Pola asuh helikopter dapat membuat anak menjadi tidak percaya diri. Hal ini disebabkan oleh rasa tidak percaya orang tua terhadap kemampuan anak dalam melakukan suatu hal, sehingga anak juga menjadi tidak percaya akan kemampuannya sendiri. Selain itu, anak yang mengalami pola asuh helikopter memiliki risiko lebih tinggi mengalami depresi.

Cara Mencegah Dampak Negatif Pola Asuh Orang Tua Helikopter

Melindungi anak memang merupakan kewajiban orang tua. Namun jika berlebihan, dampaknya justru tidak baik bagi anak. Untuk mencegah dampak negatif pola asuh orang tua helikopter, ada beberapa cara yang bisa Bunda dan Ayah lakukan, yaitu:

1. Membuat daftar kemampuan anak

Bunda dan Ayah dapat menuliskan daftar kemampuan Si Kecil di selembar kertas, lalu menghiasnya. Setelah itu, perlihatkan daftar tersebut pada Si Kecil dan yakinkan dia bahwa ada banyak hal yang bisa dilakukannya sendiri. Dengan cara ini, rasa percaya diri anak akan tumbuh.

2. Tidak membantu anak ketika mendapatkan hukuman

Cobalah untuk tidak membantu Si Kecil ketika dia sedang mendapatkan hukuman atas kesalahan atau kelalaiannya, misalnya saat dihukum karena tidak mengerjakan PR di sekolah.

Bila Bunda dan Ayah membantunya mengerjakan hukuman, Si Kecil tidak akan kapok dan akan terus mengulangi kesalahan yang sama. Selain itu, dia juga tidak akan belajar untuk bertanggung jawab atas perilakunya sendiri.

3. Tidak membantu anak menyelesaikan semua masalah

Mulai saat ini, berhentilah membantu anak menyelesaikan masalah yang sepele, misalnya mengikat tali sepatu atau mengerjakan PR. Ketika Si Kecil meminta bantuan kepada Bunda atau Ayah untuk hal-hal yang sebenarnya bisa dia kerjakan sendiri, cukup ajarkan caranya dan minta dia untuk melakukannya sendiri.

4. Biarkan anak menjelajahi dunianya sendiri

Ketika Si Kecil sedang bermain di taman, Bunda atau Ayah cukup memperhatikannya dari jauh tanpa perlu selalu ikut bermain. Katakan padanya untuk berhati-hati agar tidak jatuh.

Sekalipun dia terjatuh, janganlah bersikap berlebihan. Bantu Si Kecil berdiri dan tenangkan bila dia menangis, kemudian jelaskan kepadanya bahwa itulah yang bisa terjadi jika dia tidak berhati-hati. Setelah itu, berilah dorongan kepadanya untuk kembali bermain, namun dengan lebih hati-hati.

Meski sulit bagi sebagian orang tua, namun sebisa mungkin, hindarilah pola asuh helikopter yang mendampingi anak secara berlebihan. Jika perlu, Bunda dan Ayah dapat berkonsultasi ke psikolog mengenai pola asuh yang tepat untuk diterapkan pada Si Kecil.