Azathioprine

Pengertian Azathioprine

Azathioprine termasuk kelompok obat imunosupresan yang cara kerjanya adalah menurunkan sistem kekebalan tubuh alami seseorang. Azathioprine seringkali digunakan untuk mencegah sekaligus mengatasi reaksi penolakan tubuh terhadap transplantasi organ.

Azathioprine

Selain itu, obat ini juga digunakan untuk menghilangkan rasa nyeri dan bengkak pada rheumatoid arthritis parah yang tidak teratasi oleh obat-obatan anti inflamasi non steroid (NSAID). Namun demikian, penderita rheumatoid arthritis yang pernah mengonsumsi obat alkylating agent atau dalam kondisi hamil tidak diperbolehkan mengonsumsi azathioprine.

Azathioprine juga kerap diresepkan untuk mengatasi penyakit autoimun seperti penyakit seliac atau sprue, , lupus eritematosus sistemik, penyakit takayasu, myasthenia gravis, dan vaskulitis.

Selain untuk tiga kondisi utama di atas, azathioprine juga dapat digunakan pada beberapa pasien yang memiliki dermatitis atopik, dan peradangan dinding usus.

Obat ini hanya dapat diberikan dengan resep dokter.

Tentang Azathioprine

Golongan  Obat immunosupresan
Kategori  Obat resep
 Manfaat  Mencegah dan mengatasi penolakan transplantasi organ  (khususnya ginjal), mengatasi gejala rheumatoid arthritis, dan  mengatasi penyakit autoimun.
 Dikonsumsi oleh  Dewasa dan anak-anak
 Bentuk obat  Tablet
Peringatan:
  • Bagi wanita hamil atau berencana untuk hamil dan menyusui dilarang mengonsumsi obat ini karena dapat membahayakan janin dan bayi.
  • Berhati-hatilah jika pernah menderita atau sedang memiliki masalah pada ginjal, hati, pankreas, gangguan pada usus besar, sumsum tulang belakang, kadar sel darah putih sedikit, infeksi, kekurangan enzim tertentu, perdarahan tidak wajar, dan gangguan genetik.
  • Konsultasikan kepada dokter apabila Anda menderita rheumatoid arthritis dan sedang atau pernah mengonsumsi obat alkylating agent seperti siklofosfamid, klorambucil, atau melphalan.
  • Bicarakan dengan dokter jika akan melakukan vaksinasi yang mengandung virus dan bakteri hidup, operasi atau sedang menjalani terapi immunosupresan.
  • Konsultasikan pada dokter jika mengonsumsi obat-obatan lain, termasuk obat yang dijual bebas, obat herbal atau suplemen.
  • Jika terjadi reaksi alegi dan overdosis, segera temui dokter.
Dosis Azathioprine

Jumlah dosis obat tergantung dari kondisi penyakit yang akan diobati. Dosis untuk anak-anak ditentukan dokter sesuai kondisinya. Sedangkan dosis untuk dewasa mempertimbangkan berat badan dan juga harus ditentukan oleh dokter.

Kondisi Usia Dosis
Untuk mencegah penolakan transplantasi organ Dewasa Dosis 1-5 mg/ kg/ hari.
 Untuk mengatasi reaksi      penolakan terhadap  transplantasi ginjal Dewasa Dosis awal: 3-5 mg/ kg/ hari diberikan sebagai dosis tunggal, dilanjutkan dengan dosis rumatan 1-3 mg/ kg/ hari.
Untuk mengatasi gejala rheumatoid arthritis Dewasa Dosis awal dimulai dari 1 mg/ kg/ hari selama 6-8 minggu, dan dosis dapat ditingkatkan sesuai kondisi pasien.Dosis rumatan: turunkan dosis perlahan sebesar 0.5 mg/ kg berat badan/hari setiap satu bulan hingga tercapai dosis terendah yang efektif.
Mengonsumsi Azathioprine dengan Benar

Ikuti anjuran dokter dan baca informasi yang tertera pada kemasan azathioprine sebelum mulai mengonsumsinya.

Azathioprine dapat dikonsumsi secara oral dengan atau tanpa makanan. Jika terjadi gangguan pada perut, sebaiknya obat ini dikonsumsi dengan makanan untuk mengurangi iritasi perut.

Untuk mencegah penolakan transplantasi, pemakaian azathioprine dimulai satu hingga tiga hari sebelum transplantasi dan pada hari pelaksanaan transplantasi.

Segera konsumsi obat ini jika lupa mengonsumsinya. Jika waktu konsumsi berikutnya hampir tiba, lewatan dosis yang terlupa. Jangan mengonsumsi dua dosis untuk sekali pemakaian.

Meski belum ada penelitian tentang efek azathioprine pada kemampuan mengemudikan kendaraan atau menjalankan mesin, obat ini dapat mengakibatkan pusing. Hal itu mungkin mempengaruhi kemampuan pasien untuk melakukan dua aktivitas tersebut.

Selama mengonsumsi  azathioprine, dokter akan meminta pasien melakukan tes darah lengkap setidaknya satu kali dalam seminggu selama delapan minggu pengobatan. Setelah itu, frekuensi tes dapat dikurangi dan dokter akan meminta pengulangan tes darah dengan jarak waktu tidak lebih dari tiga bulan. Hal ini dilakukan terutama untuk pasien yang akan mengonsumsi obat ini dalam waktu yang lama.

Saat mengonsumsi dan pasca pemakaian obat azathioprine, jangan melakukan vaksinasi tanpa persetujuan dokter. Obat ini dapat menurunkan kekebalan tubuh sehingga vaksin tidak akan bekerja secara efektif dalam mengatasi infeksi. Hindari juga orang yang menderita flu atau infeksi. Selain itu, wanita yang memiliki kemungkinan hamil dan pria harus menggunakan kontrasepsi  yang efektif selama mengonsumsi azathioprine setidaknya 3 bulan setelah pemakaian obat dihentikan.

Selain itu, azathioprine juga dapat menurunkan jumlah sel darah putih dan platelet dalam darah sementara sehingga meningkatkan risiko infeksi. Jika ini terjadi, perlu diambil langkah pencegahan terutama jika jumlah darah tersebut rendah untuk mengurangi risiko infeksi atau pendarahan.Gunakan juga tabir surya dengan faktor SPF minimal 15 saat berada di luar rumah. Obat ini juga dapat meningkatkan risiko  mengalami kanker jenis tertentu, terutama kanker pada kulit, getah bening, atau darah. Bicarakan pada dokter tentang risiko ini.

Jangan menghentikan konsumsi obat ini kecuali atas anjuran dokter karena dapat membuat kondisi pasien memburuk. Jika dokter melihat ada kemajuan kondisi dalam waktu tiga hingga enam bulan, dokter mungkin akan menurunkan dosis secara bertahap hingga akhirnya menghentikan pemberian obat ini.

Kenali Efek Samping dan Bahaya Azathioprine

Selain manfaat dari obat ini, beberapa efek samping dapat terjadi. Efek samping tersebut  di antaranya:

  • Tinja berwarna hitam
  • Ada darah dalam urine dan tinja.
  • Gusi berdarah.
  • Kelenjar membengkak.
  • Perdarahan, kelelahan, atau kelemahan yang tidak biasa.
  • Muncul bintik merah pada kulit.
  • Dada terasa sakit, demam, atau kedinginan.
  • Batuk dan tenggorokan serak.
  • Sulit mengeluarkan urine.
  • Napas pendek.
  • Sariawan pada bibir atau mulut.
  • Menjadi sering mual atau muntah.
  • Muncul benjolan yang tidak biasa.
  • Peradangan pada pankreas dan usus besar.
Jika mengalami gejala yang diduga sebagai efek samping dari obat azathioprine ini, segera temui dokter.