Belanja Sayur Gratis di Rumah Berkat Urban Farming

Urban farming menjadi istilah yang kian populer. Seiring kepadatan penduduk yang bertambah, permintaan pasokan makanan pun meningkat. Bagi negara berkembang seperti Indonesia, kondisi ini merupakan tantangan tersendiri karena bukan tidak mungkin bisa terjadi kekurangan pasokan makanan. Sebagai cara menanggapinya, urban farming dipandang sebagai salah satu solusi terhadap tantangan tersebut. Mari kenali lebih jauh gaya hidup ramah lingkungan ini dan berbagai manfaatnya.

Urban farming merujuk kepada kegiatan bercocok tanam dan beternak secara mandiri untuk kemudian hasilnya diolah dan didistribusikan ke sekitar wilayah setempat, termasuk di wilayah perkotaan yang memiliki lahan terbatas. Salah satu kegiatannya adalah memproduksi makanan sendiri dengan cara menanam sayuran dan buah-buahan untuk dikonsumsi sendiri maupun dibagi-bagikan.

Belanja Sayur Gratis di Rumah Berkat Urban Farming - Alodokter

Dengan menjadikan kegiatan urban farming sebagai bagian dari gaya hidup, kita dapat mengurangi kebutuhan impor makanan yang memerlukan biaya tinggi. Sejak periode perang dunia, gagasan memproduksi makanan secara mandiri dapat membantu masalah pasokan pangan sekaligus meningkatkan pendapatan dan kemandirian selama masa-masa sulit. Organisasi pangan dan pertanian dunia, Food and Agriculture Organization (FAO) juga menganjurkan negara-negara berkembang, seperti Indonesia, untuk menerapkan urban farming. Berikut adalah beberapa keuntungan dari urban farming.

  • Membantu memenuhi kebutuhan pangan. Di wilayah padat penduduk, urban farming menjadi strategi tepat dalam upaya membantu rumah tangga ekonomi lemah dalam memperbaiki keamanan pangan dan asupan nutrisi anggota keluarga. Kegiatan ini dapat menjadi cara yang efisien dalam memerangi kelaparan dan malanutrisi karena mampu memfasilitasi akses untuk mendapat makanan.
  • Membuat lingkungan lebih sehat. Melalui langkah penghijauan, lingkungan dapat menjadi lebih sehat sekaligus mengurangi polusi udara. Makin banyak orang yang menerapkan urban farming, maka kualitas lingkungan dapat meningkat. Hasilnya, suatu wilayah dapat menjadi lebih sehat untuk ditinggali.
  • Memperindah pemandangan. Hijaunya tanaman dapat membantu mempercantik lingkungan rumah dan menjauhkannya dari kesan gersang.
  • Mengurangi stres. Urban farming membantu kita untuk kembali terhubung dengan alam. Dengan begini, tingkat stres dapat menurun dan berkontribusi untuk kesehatan mental yang lebih baik secara keseluruhan. Urban farming juga diyakini dapat mendukung proses relaksasi, serta memberikan ruang ketenangan di tengah padatnya populasi manusia.
  • Mengurangi limbah. Air buangan yang masih layak bisa dimanfaatkan untuk menyiram tanaman. Sementara itu, limbah organik padat dapat diolah dan dimanfaatkan sebagai pupuk. Dengan begini, kita dapat mengurangi limbah.

Bagaimana Cara Melakukan Urban Farming?

Kita dapat membuat taman mikro dengan memanfaatkan ruang kecil yang ada untuk menanam pohon. Ruang tersebut bisa di balkon, teras, atau atap rumah. Berikut adalah beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam merealisasikan urban farming.

  • Wadah tanaman. Kita bisa menanam pohon di tanah langsung atau menggunakan wadah pot, botol, ember bekas, ban mobil bekas, atau media penampung lainnya.
  • Media penanaman. Gunakan tanah kebun sebagai media penanaman. Kita juga bisa mengganti tanah kebun dengan benda-benda substrat, seperti kulit kacang, sabut kelapa, sekam padi, atau tanah laterit. Bila substrat juga tidak tersedia, kita bisa menggunakan air yang dicampurkan dengan larutan pupuk.
  • Pengairan. Untuk pengairan atau irigasi, kita bisa memanfaatkan air hujan atau air sisa yang masih layak. Air yang diperlukan untuk menyiram tanaman terbilang relatif sedikit. Untuk taman seluas satu meter persegi, hanya membutuhkan kurang dari tiga liter air per hari.
  • Tanaman. Di taman mikro, kita bisa menanam berbagai sayuran siap saji, seperti kol, selada, mentimun, tomat, dan bawang. Sebagai variasi, coba tanamkan pula tanaman herba, seperti kunyit, jahe, lengkuas, kencur, dan sebagainya.

Meski mini, taman ini terbilang relatif produktif. Studi yang dilakukan oleh FAO menunjukkan bahwa satu meter persegi taman mikro dapat menghasilkan sekitar 100 bawang tiap empat bulan, 10 kol tiap tiga bulan, sekitar 200 tomat atau 30 kg per tahun, atau 36 bonggol selada per dua bulan.

Meski begitu, perlu diingat bahwa pemilihan tanah ataupun air untuk irigasi menjadi dua faktor yang penting. Hindari menggunakan tanah atau air yang terkontaminasi dengan unsur-unsur berbahaya. Selain itu, hindari juga menggunakan pestisida yang dapat meracuni tanah dan hasil tanam.