Ini Penyebab Wanita Berkumis dan Cara Mengatasinya

Meski penyebabnya kadang tidak berbahaya, tapi menjadi wanita berkumis dapat membuat orang menjadi lebih tidak percaya diri. Cermati apa saja penyebab kumis pada wanita dan bagaimana mengatasinya.

Wanita berkumis tergolong dalam kasus hirsutisme atau kondisi saat tubuh atau wajah wanita tumbuh rambut yang tidak diinginkan. Pertumbuhan rambut ini biasanya diasosiasikan dengan hormon laki-laki, sehingga rambut tumbuh pada area yang biasanya lebih umum pada pria seperti atas bibir, sisi wajah, dan bagian bawah tubuh.

wanita berkumis-alodokter

Selain berupa kumis, rambut ini juga dapat tumbuh pada bagian tubuh seperti punggung bagian bawah, kaki, dada, bokong, dan paha. Kondisi ini berbeda dari hipertrikosis, saat rambut dapat tumbuh di bagian mana pun dari tubuh. Selain tumbuhnya rambut di atas bibir, wanita berkumis kadang juga mengalami menstruasi tidak teratur, jerawat, suara yang lebih dalam, dan kulit berminyak.

Hirsutisme umumnya dialami setidaknya satu dari 20 wanita dan cenderung diturunkan dalam keluarga. Oleh karenanya, wanita berkumis biasanya memiliki kakak, saudara perempuan, atau ibu yang juga berkumis. Dibanding ras lain, wanita Asia Selatan, Mediterania, dan Timur Tengah lebih cenderung mengalaminya.

Penyebab wanita berkumis umumnya disebabkan kelebihan hormon androgen dalam tubuh wanita.  Di samping itu, kondisi ini dapat disebabkan kondisi lain, yaitu:

  • Wanita berkumis pada usia yang lebih muda dapat disebabkan sindrom ovarium polikistik/polycystic ovary syndrome (PCOS). Kondisi ini juga menyebabkan kista rahim dan menstruasi tidak teratur. Gejala yang dapat dirasakan antara lain adalah sakit kepala, kelelahan, perubahan mood, infertilitas, nyeri panggul, gangguan tidur.
  • Hiperplasia adrenal kongenital, yaitu gangguan genetis pada kelenjar adrenal. Gangguan adrenal lain yang mungkin terjadi adalah tumor dan kanker adrenal.
  • Sindrom Cushing adalah gangguan hormonal yang menyebabkan pembengkakan pada leher dan wajah, serta pertambahan berat badan secara tiba-tiba.
  • Konsumsi obat-obatan seperti steroid anabolik yang digunakan untuk meningkatkan performa atletik atau pun membentuk otot. Penggunaan obat-obatan golongan dalam jangka panjang juga dapat menjadi faktor pemicu munculnya sindrom Cushing.
  • Obesitas.
  • Pertumbuhan tumor yang meningkatkan produksi hormon androgen serta memengaruhi kelenjar adrenal atau rahim.
  • Tubuh memproduksi terlalu banyak hormon pertumbuhan, yang dikenal dengan kondisi akromegali.
Meski demikian, kadang ada kalanya penyebab kondisi ini tidak diketahui secara pasti. Untuk mendeteksi kemungkinan penyebabnya, selain memeriksa riwayat kesehatan, dokter dapat menerapkan pemeriksaan darah untuk mengetahui kadar hormon. Untuk mendeteksi kemungkinan tumor atau kista, dokter juga dapat menganjurkan pemindaian MRI ataupun USG.

Jika memang dirasa sangat mengganggu, wanita berkumis dapat mencoba melakukan beberapa cara berikut seperti:

  • Penghilangan kumis dengan laser. Metode ini dapat menimbulkan efek samping berupa kemerahan pada kulit, dan perubahan warna kulit menjadi lebih gelap atau terang. Efek menghilangkan kumis pada laser tidak bersifat menetap.
  • Mencabut kumis, waxing, atau pun cukur. Perlu diingat, mencukur terlalu sering atau mencabut bulu rambut dapat menimbulkan folikulitis, yaitu peradangan atau infeksi di lubang tempat tumbuhnya rambut pada kulit.
  • Pil KB jenis tablet co-cyprindiol untuk mencegah pertumbuhan kumis. Obat-obatan ini biasanya dikonsumsi hingga enam bulan. Efek samping yang mungkin ditimbulkan adalah sakit perut, sakit kepala, mual, dan pusing.
  • Obat anti-androgen untuk menghalangi androgen melekatkan reseptor ke tubuh. Obat ini biasanya baru diberikan jika pil KB tidak mendatangkan efek. Obat anti-androgen yang biasa digunakan sebagai penanganan hirsutisme adalah spinorolactone. Obat ini juga dipakai sebagai obat diuretik. Wanita hamil tidak dianjurkan mengonsumsi obat ini karena dapat menimbulkan cacat pada janin.
  • Krim topikal seperti Eflornithine yang dioleskan langsung di atas bibir untuk memperlambat pertumbuhan kumis. Krim ini biasanya dapat digunakan bersamaan dengan terapi laser.
  • Menjaga berat badan agar tidak berlebihan dapat mengurangi kadar hormon pria (androgen), sehingga kumis tidak tumbuh.
  • Krim yang disebut depilatories dapat dioleskan, dibiarkan sebentar untuk kemudian dihapus bersamaan dengan rontoknya kumis. Namun hati-hati, karena krim ini dapat menyebabkan iritasi pada kulit sensitif.
Penghilangan kumis dapat dipilih untuk yang ingin mendapatkan hasil cepat. Sementara, beberapa jenis perawatan membutuhkan waktu hingga hasilnya terlihat.Tidak semua cara untuk menghilangkan rambut pada kondisi hirsutisme cocok bagi setiap wanita. Untuk menentukan pilihan terapi yang tepat dan aman, Anda perlu berkonsultasi dengan dokter spesialis kulit atau kecantikan jika kondisi tersebut menimbulkan dampak buruk pada diri Anda. Meski demikian, sebagian wanita membiarkan saja rambut di atas bibir ini dan tidak rendah diri menjadi wanita berkumis.