Untuk memastikan adanya kista ovarium, dokter kandungan akan melakukan beberapa pemeriksaan secara bertahap. Tujuannya adalah untuk mendeteksi keberadaan kista, menilai ukuran dan jenisnya, serta memastikan apakah kista tersebut bersifat jinak atau berpotensi ganas.
Berikut beberapa pemeriksaan yang umumnya dilakukan untuk mendiagnosis kista ovarium:
1. Pemeriksaan panggul
Sebagai langkah awal, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik pada area panggul untuk meraba apakah terdapat benjolan atau pembesaran di sekitar ovarium atau rahim. Pemeriksaan ini biasanya dilakukan bila pasien mengeluhkan nyeri perut bawah atau mengalami perubahan siklus menstruasi.
2. USG panggul
Untuk melihat kista dengan lebih jelas, dokter akan melakukan pemeriksaan ultrasonografi atau USG panggul. Melalui USG, dokter dapat menilai lokasi, ukuran, dan bentuk kista, serta mengetahui apakah kista berisi cairan atau bersifat padat. Pemeriksaan ini dapat dilakukan melalui perut bagian bawah atau melalui vagina atau disebut dengan USG transvaginal.
3. Tes kehamilan
Pada kondisi tertentu, dokter dapat menyarankan tes kehamilan untuk memastikan apakah pasien sedang hamil. Jika hasilnya positif dan ditemukan kista, kista tersebut kemungkinan merupakan kista korpus luteum yang sering muncul pada awal kehamilan dan umumnya tidak berbahaya.
4. Tes kadar hormon
Pemeriksaan darah untuk mengukur kadar hormon, seperti estrogen dan progesteron, dapat membantu dokter mendeteksi adanya gangguan hormon yang berhubungan dengan terbentuknya kista ovarium.
5. Tes darah CA 125
Pada wanita yang telah memasuki masa menopause, terutama bila ditemukan kista yang bersifat padat, dokter dapat menganjurkan pemeriksaan kadar CA 125 dalam darah. Kadar CA 125 yang tinggi dapat menjadi salah satu tanda adanya risiko kanker ovarium.
Namun, pada wanita yang masih mengalami menstruasi, peningkatan CA 125 tidak selalu berarti kanker karena juga bisa dipengaruhi oleh kondisi lain, seperti endometriosis atau infeksi panggul.
6. Laparoskopi
Jika hasil pemeriksaan sebelumnya belum cukup jelas, dokter dapat melakukan laparoskopi untuk melihat kista secara langsung. Prosedur ini dilakukan dengan memasukkan alat berkamera melalui sayatan kecil di perut. Selain membantu memastikan diagnosis, laparoskopi juga dapat digunakan untuk menentukan apakah kista perlu diangkat.
7. CT scan atau MRI
Dalam beberapa kasus, pemeriksaan lanjutan seperti CT scan atau MRI mungkin diperlukan, terutama bila terdapat kecurigaan keganasan atau hasil pemeriksaan awal belum memberikan gambaran yang pasti.
Serangkaian pemeriksaan tersebut membantu dokter menentukan penanganan yang paling sesuai bagi setiap pasien. Jika Anda mengalami keluhan seperti nyeri perut bagian bawah, haid tidak teratur, atau gangguan pencernaan yang berlangsung lama, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat.
Untuk memperoleh informasi awal atau mendiskusikan keluhan yang Anda alami, Anda juga dapat memanfaatkan layanan Chat Bersama Dokter.