Lupus adalah penyakit autoimun kronis yang menimbulkan peradangan di berbagai bagian tubuh, seperti kulit, sendi, ginjal, paru-paru, jantung, hingga sistem saraf. Jika tidak ditangani dengan baik, kondisi ini dapat memicu beragam komplikasi serius yang berdampak buruk pada kualitas hidup penderitanya. 

Komplikasi Lupus yang Perlu Diwaspadai

Jika lupus tidak mendapat perawatan yang tepat, berbagai komplikasi berikut bisa terjadi:

1. Kerusakan ginjal

Lupus dapat menyerang jaringan ginjal, yang dikenal sebagai lupus nefritis sehingga menyebabkan peradangan pada ginjal. Jika tidak ditangani dengan baik, komplikasi lupus ini dapat mengganggu fungsi ginjal dan bahkan berujung pada gagal ginjal

Itulah sebabnya, penderita lupus biasanya perlu menjalani pemeriksaan urine dan tes fungsi ginjal secara rutin untuk mendeteksi komplikasi ini sedini mungkin.

2. Gangguan pada sistem saraf atau otak

Lupus dapat merusak sistem saraf pusat sehingga menimbulkan gejala, seperti sakit kepala berat, kejang, gangguan konsentrasi, atau perubahan perilaku. Pada beberapa kasus, lupus juga dapat menyebabkan psikosis. Komplikasi lupus ini perlu ditangani segera karena dapat berdampak pada kualitas hidup penderita.

3. Kelainan pada jantung

Peradangan akibat lupus dapat menyerang jantung, terutama pada lapisan pembungkus jantung (perikarditis). Selain itu, lupus juga dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit jantung koroner akibat peradangan kronis pada pembuluh darah (vaskulitis).

Pemeriksaan jantung secara berkala diperlukan untuk mendeteksi komplikasi lupus ini lebih awal.

4. Gangguan pada paru-paru

Lupus bisa mengakibatkan peradangan pada selaput paru-paru (pleuritis), yang menimbulkan nyeri dada dan sesak napas. Pada kondisi tertentu, bisa terjadi penumpukan cairan di sekitar paru-paru. Gangguan ini bisa menghambat aktivitas dan memerlukan penanganan medis segera.

5. Kelainan darah dan pembuluh darah

Penderita lupus dapat mengalami gangguan darah, seperti anemia, leukopenia, atau trombositopenia. Selain itu, lupus juga bisa menyebabkan peradangan pembuluh darah (vaskulitis), yang mengganggu aliran darah ke banyak organ. Kondisi ini meningkatkan risiko terjadinya perdarahan atau pembekuan darah.

6. Mudah terkena infeksi

Lupus dan pengobatannya, terutama penggunaan obat imunosupresan dan kortikosteroid, dapat melemahkan daya tahan tubuh. Akibatnya, penderita lupus lebih mudah terkena penyakit infeksi. Oleh karena itu, penderita kondisi ini disarankan untuk segera memeriksakan diri ke dokter bila mengalami keluhan infeksi.

7. Avaskular nekrosis

Penggunaan kortikosteroid dalam jangka panjang pada penderita lupus dapat meningkatkan risiko terjadinya avaskular nekrosis, yaitu kematian jaringan tulang akibat berkurangnya aliran darah. Kondisi ini paling sering terjadi pada tulang panggul, lutut, atau bahu. Gejala awal avaskular nekrosis bisa berupa nyeri sendi yang makin memburuk.

8. Komplikasi pada kehamilan

Lupus bisa meningkatkan risiko terjadinya komplikasi pada kehamilan, seperti keguguran, kelahiran prematur, dan preeklamsia. Pada kasus yang jarang terjadi, antibodi dari ibu hamil juga bisa berdampak pada janin dan menyebabkan kondisi yang disebut neonatal lupus.

Itulah sebabnya, penderita lupus dianjurkan untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter sebelum merencanakan kehamilan serta menjalani pemantauan rutin selama kehamilan.

Komplikasi lupus dapat menyerang berbagai organ dan berisiko menimbulkan kondisi serius bila tidak ditangani dengan baik. 

Jika sedang menjalani pengobatan untuk lupus atau memiliki pertanyaan seputar kondisi ini, Anda bisa berkonsultasi lewat Chat Bersama Dokter.

Melalui chat, dokter akan menjawab pertanyaan seputar keluhan lupus, serta pengobatan dan pemeriksaan rutin. Bagi penderita lupus yang merencanakan kehamilan juga bisa bertanya dengan dokter secara online.