Mengandalkan Antibiotik Alami untuk Mencegah Infeksi

Siapa yang menyangka bahwa bumbu atau tanaman yang mungkin sering Anda jumpai bisa menjadi antibiotik alami? Salah satunya madu, merupakan antibiotik alami tertua yang diaplikasikan ke dalam metode pengobatan.

Pemakaian antibiotik bertujuan membasmi dan menghalangi pertumbuhan bakteri. Antibiotik telah dikenal dan diaplikasikan sejak beratus-ratus tahun lalu. Namun, belakangan ini mulai banyak penelitian yang membuktikan khasiat antibiotik pada bahan-bahan alami.

natural antibiotic_compresst

Madu merupakan Antibiotik Alami Pengusir Penyakit

Madu merupakan antibiotik alami tertua yang dipercaya mampu membantu tubuh mengatasi serangkaian penyakit. Khasiat madu sudah digunakan sejak peradaban Mesir kuno sebagai balsem penyembuh luka dan antibakteri. Semakin gelap warna madu, makan semakin baik kemampuan anti bakteri dan antioksidannya. Para praktisi kesehatan sepakat bahwa manfaat madu sebagai obat-obatan alami terbilang ampuh.

Madu mengandung hidrogen peroksida yang berguna sebagai antibakteri. Salah satu manfaat madu adalah melindungi dan merawat kesehatan kulit. Madu juga mengandung gula dalam jumlah cukup banyak yang berfungsi menghentikan pertumbuhan bakteri tertentu.

Salah satu jenis madu yang dipercaya ampuh untuk menjaga kesehatan adalah madu manuka. Pemakaian madu sebagai antibiotik alami adalah dengan mengoleskan langsung ke daerah terinfeksi. Pengolesan madu akan berpengaruh di dalam membunuh bakteri dan mempercepat proses penyembuhan.

Walau demikian, masih diperlukan banyak penelitian untuk membuktikan hal ini. Satu hal yang perlu diingat adalah jauhkan anak-anak yang berusia di bawah satu tahun dari jangkauan dan konsumsi madu. Bila madu dikonsumsi oleh anak-anak di bawah 1 tahun dapat berisiko mengakibatkan penyakit botulisme, yang menyebabkan kelumpuhan.

Selain madu, ada pula beberapa bahan yang sebagai antibiotik alami seperti :

Minyak esensial daun timi

Minyak ini berperan penting dalam menangkal bakteri. Penelitian menguji minyak esensial daun timi dan lavender untuk menangkal serangan lebih dari 120 bakteri. Hasilnya, minyak esensial daun timi lebih efektif di dalam membunuh bakteri. Penggunaan minyak essensial daun timi ini hanya untuk luka luar. Tidak disarankan untuk mengonsumsinya. Ketika mengaplikasikannya pada luka, campurkan minyak essensial oil daun timi dengan carrier oil, seperti minyak kelapa atau minyak zaitun. Hal ini dilakukan karena minyak daun timi yang tidak dilarutkan dapat menyebabkan radang dan iritasi.

Minyak esensial oregano

Kandungan carvacrol dalam minyak essensial oregano memiliki fungsi penting dalam mengurangi peradangan dan menyembuhkan tukak lambung. Cukup teteskan sedikit minyak esensial oregano ke dalam air. Teteskan campuran ke daerah yang terinfeksi. Minyak esensial ini juga dipercaya mampu mengatasi infeksi sinus penyebab sinusitis dengan mengirupnya. Namun, jangan menelan atau mengoleskan langsung ke kulit.

Ekstrak bawang putih

Ekstrak bawang putih telah cukup lama dipercaya bersifat antimikroba. Penelitian pada tahun 2011 membuktikan konsentrat bawang putih cukup efektif dalam melawan serangan bakteri. Ekstrak bawang putih sendiri dapat ditemukan di pasaran. Jika ingin membuatnya sendiri, rendam beberapa siung bawang putih dalam minyak zaitun. Umumnya bawang putih aman dikonsumsi. Setidaknya hingga dua siung per hari. Lebih dari itu, berisiko menimbulkan perdarahan internal. Bawang putih dalam dosis besar dapat memperkuat efek obat pengencer darah. Oleh karenanya, konsultasikan masalah penggunaan bawang putih sebagai antibiotik kepada dokter.

Tanyakan terlebih dulu kepada dokter sebelum menggunakan antibiotik alami, dan jangan menggantikan obat antibiotik dari dokter dengan antibiotik alami tanpa persetujuan dokter. Saran dari dokter merupakan solusi yang tepat demi menghindari komplikasi dan memburuknya penyakit.