Sederet Faktor Pencetus Sakit Kepala Bagian Belakang

Hampir semua orang pernah mengalami sakit kepala. Keluhan yang dirasakan bisa sangat beragam karena kondisi tiap orang yang berbeda. Sakit kepala bagian belakang termasuk salah satu yang kerap dikeluhkan. Apa yang menjadi penyebabnya?

Sakit kepala atau cephalgia adalah rasa nyeri yang bisa dirasakan pada atas mata dan telinga, bagian atas kepala, bagian belakang kepala hingga leher bagian atas.

Sederet faktor pencetus sakit kepala bagian belakang - alodokter

Mengenali Penyebab

Untuk mengetahui apakah sakit kepala bagian belakang ini memerlukan dokter segera atau tidak, maka Anda perlu mengenali gejalanya lebih lanjut. Beberapa penyebab sakit kepala bagian belakang antara lain:

  • Sakit kepala tegang

Kurang tidur, stres, tegang, dan rasa lapar bisa memicu sakit kepala tegang. Sakit kepala yang toleransinya berkisar antara nyeri ringan hingga sedang ini banyak dikeluhkan orang dewasa. Saat kambuh, seseorang akan merasa tegang dan ada tekanan di bagian dahi atau bagian belakang kepala dan leher selama sekitar 30 menit hingga beberapa hari.

Sakit kepala tegang dapat terjadi secara periodik atau kurang dari 15 hari per bulan, ataupun kronis yang menyerang lebih dari 15 hari per bulan.

Umumnya sakit kepala tegang tidak sampai menghambat seseorang dalam melakukan aktivitas.

  • Sakit kepala harian kronis

Sakit kepala harian kronis terjadi hampir setiap hari selama tiga bulan yang dipicu oleh cedera pada leher ataupun kelelahan. Sakit kepala yang lebih sering menyerang wanita ini terjadi lantaran otot pada bagian belakang leher menegang.

Fisioterapi merupakan salah satu anjuran untuk meredakan sakit kepala harian kronis. Untuk kasus tertentu, dokter bisa kombinasikan dengan obat antidepresan. Sedangkan, obat pereda nyeri tidak disarankan untuk sakit kepala harian kronis karena justru dapat memperparah kondisinya.

  • Sakit kepala saat beraktivitas fisik

Seperti namanya, sakit kepala yang juga disebut sakit kepala exertional ini dipicu oleh aktivitas fisik yang beragam, dan bisa makin parah jika jenis kegiatannya cukup berat, seperti berlari, berhubungan seks, batuk atau mengencangkan otot perut saat buang air besar lantaran konstipasi.

Sakit kepala exertional bisa terasa di bagian belakang kepala, tepat di belakang mata atau di seluruh bagian kepala. Rasa sakit ini biasanya berlangsung sekitar 20 menit.

Umumnya sakit kepala ini tidak mengindikasikan masalah serius, namun mungkin bisa juga merupakan tanda gangguan pembuluh darah pada otak, meskipun ini sangatlah jarang terjadi. Meskipun begitu, segeralah konsultasikan dengan dokter jika Anda sering sekali terserang penyakit ini.

  • Neuralgia oksipital (Occipital Neuralgia)

Neuralgia oksipital dipicu oleh gangguan pada saraf oksipital yang berada di sekitar saraf tulang belakang dari pangkal leher sampai kepala. Gangguan ini muncul akibat adanya tekanan atau iritasi dari saraf oksipital karena cedera, radang ataupun saraf terjepit.

Sakit kepala ini kadang dianggap migrain karena gejalanya yang hampir sama. Rasa sakit yang dirasakan pada neuralgia oksipital umumnya seperti sengatan listrik yang tajam yang menusuk pada kepala dan leher.

  • Migrain Basilar

Berbeda dengan migrain pada umumnya yang terasa di salah satu sisi kepala, migrain basilar ini terasa pada belakang kepala, tepatnya pada arteri basilar.

Migrain tersebut kerap diawali dengan gejala aura, seperti pandangan kabur, kebutaan sementara, pusing, telinga berdenging, serta muncul gangguan berbicara maupun mendengar. Namun selain gejala-gejalanya yang cukup mengganggu, migrain tersebut tidak membuat penderitanya merasa lemah, meski dalam kasus tertentu, patut diwaspadai karena jenis migraine ini terkait dengan stroke.

Segera periksakan diri ke dokter jika Anda mengalami sakit kepala dengan gejala menyerupai migrain basilar.

Waspadai Kondisi Serius

Sebagian besar sakit kepala yang terjadi sebenarnya tidak perlu dikhawatirkan. Namun, ada beberapa gejala yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut ke dokter atau ahli medis lainnya. Waspada sakit kepala yang terjadi, jika:

  • Diiringi dengan demam tinggi, muntah, atau mata merah.
  • Dipicu oleh perubahan postur tubuh, aktivitas fisik maupun tertawa, bersin atau batuk.
  • Memengaruhi kemampuan bicara dan keseimbangan.
  • Mengakibatkan perubahan perilaku atau ganggguan memori.
  • Terjadi setelah cedera kepala selama tiga bulan terakhir.
  • Datang tiba-tiba dan tidak tertahankan, berbeda dengan sakit kepala yang biasa Anda alami.
  • Tidak lekas menghilang tetapi malah makin parah.
  • Imunitas tubuh Anda sedang rendah karena karena obat-obatan tertentu atau terserang penyakit seperti HIV.
  • Pernah atau sedang menderita kanker yang berpotensi menyebar di seluruh tubuh.

Sakit kepala diketahui lebih jarang dialami oleh mereka yang mempraktikkan pola makan seimbang, olahraga teratur, meminimalisasi stres, konsumsi banyak cairan, serta tidur cukup.

Umumnya sakit kepala terjadi tanpa alasan yang serius. Namun, jika Anda mengalami sakit kepala disertai gejala-gejala lain atau sakit kepala berbeda daripada yang pernah dialami sebelumnya, segera periksakan diri ke dokter.