Semua Wanita Hamil Berisiko Mengalami Keracunan Kehamilan

Penyebab keracunan kehamilan tidak bisa diketahui secara pasti dan gejalanya sering kali tidak terasa juga. Bahayanya, kondisi ini lebih berisiko terjadi pada sebagian wanita.

Keracunan kehamilan adalah istilah yang dulunya digunakan untuk menyebut preeklampsia. Kondisi ini dialami oleh sebagian wanita tidak lama setelah mereka menjalani persalinan, biasa dimulai pada sekitar dua bulan kehamilan.

keracunan kehamilan-alodokter

Proteinuria atau protein tinggi pada urine dan tekanan darah tinggi/hipertensi adalah dua gejala utama yang dirasakan wanita yang mengalami keracunan kehamilan. Gejala ini umumnya tidak dapat segera dirasakan sehingga baru bisa terdeteksi saat menjalani pemeriksaan rutin. Oleh karenanya, seorang ibu bisa saja mengalami keracunan kehamilan tanpa merasakan gejala apa pun.

Gejala-gejala lain lebih lanjut yang mungkin dirasakan antara lain adalah:

  • Gangguan penglihatan.
  • Rasa nyeri tepat di bawah rusuk.
  • Sakit kepala parah.
  • Edema atau timbunan cairan yang mengakibatkan pembengkakan pada wajah, tangan, dan kaki.

Meski penyebab preeklampsia yang sebenarnya belum bisa diketahui secara pasti, namun umumnya akibat dari plasenta yang tidak berkembang sepenuhnya karena gangguan pada pembuluh darah yang mendukungnya. Ini terjadi ketika plasenta gagal tertanam dengan sempurna pada dinding rahim serta arteri pada bagian tersebut tidak terbuka dengan semestinya. Hal tersebut menyebabkan terganggunya aliran darah pada ibu dan bayi, antara lain ditandai dengan hipertensi.

Orang-orang yang Berisiko Mengalami Keracunan Kehamilan

Banyak peneliti meyakini bahwa keracunan kehamilan sebenarnya bermula di masa awal kehamilan, sebelum gejala muncul. Namun di samping itu, ada faktor tertentu yang membuat sebagian wanita lebih berisiko mengalami keracunan kehamilan. Cermati faktor tersebut di bawah ini.

  • Hamil di atas 40 tahun atau hamil lagi setelah 10 tahun.
  • Mengandung bayi kembar.
  • Telah mengidap gangguan penyakit tertentu, seperti hipertensi, penyakit ginjal, sindrom antiphospholipid, lupus, ataupun diabetes sebelum hamil.
  • Pernah mengalami preeklampsia di kehamilan sebelumnya.
  • Memiliki indeks massa tubuh 35 atau lebih atau mengalami obesitas di awal kehamilan.
  • Ibu yang hamil untuk pertama kalinya.
  • Ibu hamil berusia di bawah 20 tahun.
  • Ibu hamil yang memiliki keluarga (saudara perempuan ataupun ibu) yang pernah mengalami preeklampsia.
  • Faktor nutrisi, genetis, dan sistem kekebalan tubuh juga dapat berperan dalam keracunan kehamilan.

Jika Anda termasuk berisiko tinggi mengalami keracunan kehamilan, masih ada cara untuk mengurangi risiko. Dokter mungkin akan menyarankan Anda untuk mengonsumsi aspirin dosis rendah (75 mg) tiap hari, dimulai sejak usia tiga bulan kehamilan hingga bayi lahir.

Pada sebagian besar kasus, keracunan kehamilan atau preeklampsia memang bersifat ringan, namun jika dibiarkan, kondisi ini dapat merujuk kepada komplikasi serius. Jika telah berdampak kepada organ-organ lain, seperti otak, hati, dan ginjal, keracunan kehamilan dapat mendatangkan akibat serius dan mengancam nyawa. Terbatasnya aliran darah ke rahim dapat mengakibatkan janin tidak berkembang, pecahnya plasenta, ataupun berkurangnya cairan ketuban.