Salah satu hal yang mungkin ditakuti kaum Adam adalah menjadi seorang ayah. Ketakutan tersebut bisa berasal dari mitos mengenai pengasuhan anak yang banyak beredar di masyarakat. Yuk, ketahui apa saja mitos pengasuhan anak yang tidak seharusnya dipercayai oleh para ayah.

Tidak bisa dipungkiri bahwa hidupmu pasti akan mengalami perubahan setelah menyandang status ayah. Namun, hal tersebut tidak seburuk yang kamu pikirkan, kok. Hidupmu tetap bisa dijalani dengan baik asal kamu tidak terpengaruh oleh pemikiran-pemikiran keliru, yang justru bisa menjauhkan dirimu dari Si Kecil.

Mitos Seputar Mengasuh Anak yang harus ditepis calon ayah - Alodokter

Yuk, Hindari Berpikir Seperti Ini!

Saat menjadi seorang ayah, ada beberapa pemikiran salah yang mungkin muncul di benakmu, yaitu:

1. Bayi hanya membutuhkan sosok ibu

Kamu mungkin berpikir bahwa bayi lebih butuh sentuhan hangat seorang ibu. Padahal kedekatanmu dengan Si Kecil juga harus terjalin dengan baik karena peranmu juga penting dalam kehidupannya. Menurut penelitian, anak yang memiliki kedekatan dengan ayahnya lebih mungkin menjadi pribadi yang baik.

Nah, untuk membangun kedekatan dengan Si Kecil, kamu bisa memberikannya susu dari botol selagi istrimu memerah air susu ibu (ASI). Selain itu, kamu juga bisa mengajak bermain, membacakan dongeng, atau melakukan kegiatan bersama.

Hal yang perlu diingat adalah kamu itu seorang ayah, jadi kamu tidak harus melakukan hal-hal yang persis sama dengan yang dilakukan oleh seorang ibu. Lakukanlah dengan caramu sendiri, serta ikuti instingmu.

2. Pria tidak bisa mengasuh bayi

Hanya ada satu hal yang tidak bisa kamu lakukan, yakni menyusui bayimu. Selain hal tersebut, kamu bisa mempelajari segala hal yang berkaitan dengan pengasuhan bayi. Kamu bisa belajar mengganti popok, memandikan bayi, memberi makan, menidurkan, serta menenangkan saat menangis. Selama ada kemauan, kamu pasti bisa melakukannya!

3. Tidak bisa lagi berprestasi

Kamu berpikir bahwa kariermu dapat terhambat atau tidak bisa lagi menuai prestasi karena memiliki anak? Halau pemikiran tersebut! Kamu harus melihat banyak ayah yang juga sukses dalam pekerjaannya.

Kesuksesan bisa tetap ada di tanganmu, karena semuanya tergantung dari bagaimana kamu bisa menyeimbangkan antara kehidupan karier dan keluarga. Lagipula, menjadi ayah yang baik merupakan sebuah prestasi yang sangat luar biasa, lho!

4. Kehilangan waktu bergaul dengan teman

Ketika baru memiliki anak, kamu memang sudah tidak bisa bebas bermain seperti sebelumnya. Namun, kamu tetap bisa bergaul dengan teman-temanmu, meski tidak sesering biasanya.

Kamu masih bisa bertemu atau mengajak teman-teman berkumpul di rumahmu, sehingga kamu dapat tetap siaga ketika Si Kecil membutuhkan. Intinya, saat sudah menjadi seorang ayah, kamu harus lebih bijak mengatur waktumu.

Oh ya, kamu tidak perlu takut bahwa kamu akan kehilangan teman-temanmu karena jarang bertemu. Ingat, pertemanan sejati tidak akan rusak hanya karena hal tersebut.

5. Takut tidak bisa menjadi ayah yang baik

Apa yang terlintas di pikiranmu ketika mendengar “ayah yang baik”? Apakah menurutmu menjadi ayah yang baik itu harus sempurna dalam mengasuh anak? Jawabannya adalah tidak.

Menjadi ayah yang baik tidak selalu berkaitan dengan seberapa pintar kamu menggendong bayi atau betapa hebat kamu memandikannya. Menjadi ayah yang baik bermula dari menjadi suami yang baik dan siaga sejak masa kehamilan, serta menciptakan keluarga yang dipenuhi kehangatan cinta.

Para calon ayah, mulai sekarang tidak perlu lagi memusingkan beragam mitos yang salah seputar pengasuhan anak. Jalani saja dengan santai, namun penuh tanggung jawab. Lagipula, tidak ada manusia di dunia ini yang bisa menjadi ayah yang sempurna. Hal yang terpenting adalah bagaimana kamu mau berusaha untuk belajar dan mempraktikkannya.