Penyakit akibat jarang makan nasi bisa terjadi ketika tubuh tidak mendapatkan cukup asupan karbohidrat sebagai sumber energi utama. Meski nasi sering dihindari karena alasan diet, jarang makan nasi tanpa pengganti yang tepat dapat berdampak buruk bagi kesehatan.

Bagi banyak orang Indonesia, nasi bukan sekadar makanan pokok, tetapi juga sumber energi utama yang dikonsumsi hampir setiap hari. Namun, ada sebagian orang yang mulai jarang makan nasi, baik karena ingin menurunkan berat badan, mengikuti tren diet tertentu, atau merasa lebih cepat kenyang tanpa nasi.

7 Penyakit Akibat Jarang Makan Nasi yang Perlu Diwaspadai - Alodokter

Padahal, kondisi ini bisa meningkatkan risiko penyakit akibat jarang makan nasi, terutama jika tidak disertai dengan pengganti karbohidrat yang setara gizinya.

Ini Penyakit Akibat Jarang Makan Nasi

Nasi merupakan sumber karbohidrat yang berperan dalam menunjang kerja otak serta otot. Jika asupan nasi atau sumber karbohidrat lain dikurangi secara drastis tanpa perencanaan gizi yang baik, tubuh akan kekurangan glukosa, sehingga berbagai fungsi tubuh bisa terganggu dan memicu munculnya penyakit.

Kurangnya konsumsi nasi atau karbohidrat dalam jangka waktu tertentu dapat menyebabkan beberapa masalah kesehatan berikut ini:

1. Hipoglikemia

Hipoglikemia terjadi ketika kadar gula darah turun terlalu rendah akibat kurangnya asupan karbohidrat. Kondisi ini bisa menyebabkan tubuh terasa sangat lemas, pusing, berkeringat dingin, gemetar, hingga pingsan karena otak tidak mendapatkan cukup energi untuk bekerja dengan normal.

2. Ketoasidosis

Saat tubuh jarang mendapatkan karbohidrat dari nasi atau sumber lain, tubuh akan memecah lemak secara berlebihan sebagai sumber energi.

Proses ini menghasilkan zat keton, dan jika jumlahnya terlalu banyak, dapat menyebabkan ketoasidosis yang berbahaya, terutama pada penderita diabetes atau orang yang menjalani diet karbohidrat tanpa pengawasan medis.

3. Malnutrisi Energi-Protein (KEP)

Jarang makan nasi dapat menyebabkan asupan kalori harian tidak tercukupi, terutama jika tidak diimbangi dengan makanan pengganti yang setara gizinya.

Kondisi ini bisa memicu penyakit akibat jarang makan nasi, seperti malnutrisi energi-protein, yang ditandai dengan penurunan berat badan drastis, tubuh mudah lelah, daya tahan tubuh menurun, serta meningkatnya risiko terkena infeksi.

4. Anemia defisiensi zat besi

Orang yang jarang makan nasi sering kali juga mengurangi porsi makan secara keseluruhan, termasuk lauk-pauk dan sayuran. Hal ini dapat menyebabkan asupan zat besi berkurang, sehingga tubuh kesulitan membentuk sel darah merah dan meningkatkan risiko anemia yang ditandai dengan pucat, cepat lelah, dan pusing.

5. Stunting

Pada anak-anak, jarang makan nasi atau kekurangan sumber karbohidrat dapat menyebabkan kebutuhan energi tidak terpenuhi. Jika berlangsung lama, kondisi ini dapat menghambat pertumbuhan tinggi badan, perkembangan otak, serta kemampuan belajar anak.

6. Infeksi berulang

Kekurangan energi akibat jarang makan nasi dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh dan menjadi salah satu penyakit akibat jarang makan nasi yang sering tidak disadari.

Akibatnya, tubuh menjadi lebih rentan terserang infeksi, seperti flu yang berulang, infeksi saluran pernapasan, atau infeksi kulit karena kemampuan tubuh melawan kuman menurun.

7. Gangguan fungsi otak 

Kadar gula darah yang terlalu rendah dalam waktu lama dapat memicu penyakit akibat jarang makan nasi, salah satunya gangguan fungsi otak atau ensefalopati hipoglikemik. 

Kondisi ini terjadi karena otak sangat bergantung pada glukosa sebagai sumber energi utama, sehingga kekurangannya dapat mengganggu kerja otak. Akibatnya, penderita bisa mengalami sulit berkonsentrasi, kebingungan, kejang, hingga penurunan kesadaran, terutama pada anak-anak dan lansia.

Selain itu, kekurangan karbohidrat yang berlangsung terus-menerus juga dapat meningkatkan risiko gangguan metabolisme lain, seperti tekanan darah rendah kronis dan gangguan keseimbangan hormon.

Upaya Pencegahan Penyakit Akibat Jarang Makan Nasi

Penyakit akibat jarang makan nasi sebenarnya dapat dicegah dengan menerapkan pola makan yang seimbang, antara lain:

  • Pastikan kebutuhan karbohidrat harian tetap terpenuhi. Jika ingin mengurangi nasi, gantilah dengan sumber karbohidrat kompleks, seperti kentang, ubi, singkong, jagung, oatmeal, atau quinoa.
  • Konsumsi lauk berprotein, sayuran, dan buah-buahan secara seimbang agar kebutuhan vitamin dan mineral tetap tercukupi.
  • Hindari diet ekstrem yang membatasi nasi tanpa perencanaan gizi yang jelas, terutama dalam jangka panjang.
  • Perhatikan tanda-tanda tubuh kekurangan energi, seperti cepat lelah, sulit fokus, berat badan turun drastis, atau sering sakit.

Perlu dipahami bahwa jarang makan nasi tidak selalu berbahaya, selama kebutuhan karbohidrat tetap terpenuhi dari sumber makanan sehat lainnya.

Jika Anda atau anggota keluarga mengalami keluhan kesehatan setelah mengubah pola makan, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter, terutama bila muncul tanda-tanda yang mengarah pada penyakit akibat jarang makan nasi.

Konsultasi dapat dilakukan secara online melalui chat di aplikasi ALODOKTER untuk mendapatkan saran gizi yang sesuai dengan kebutuhan tubuh serta mencegah risiko gangguan kesehatan lebih lanjut.