Angiokeratoma adalah benjolan kecil di kulit berwarna merah yang muncul akibat pembuluh darah melebar. Meski tidak berbahaya dan bersifat jinak, kondisi ini tetap tidak boleh disepelekan ya. Karena jika dibiarkan, angiokeratoma bisa membesar dan menimbulkan rasa tidak nyaman.

Angiokeratoma adalah benjolan kecil pada kulit yang muncul akibat pembuluh darah di bawah kulit melebar atau mengalami kerusakan. Sekilas, kondisi ini memang terlihat mirip dengan tahi lalat, kutil, atau melanoma, sehingga sering sulit dibedakan hanya dari tampilan luarnya. Namun, angiokeratoma umumnya memiliki permukaan yang cenderung kasar, mengeras, dan lebih mudah berdarah jika tergores.

Angiokeratoma, Kenali Penyebab, Gejala, dan Cara Penanganannya - Alodokter

Selain itu, kondisi ini juga bersifat jinak dan tidak berbahaya. Meski demikian, angiokeratoma tetap perlu mendapatkan perhatian medis ya. Mengingat tampilannya dapat menyerupai melanoma atau penyakit kulit serius lainnya, pemeriksaan ke dokter penting dilakukan untuk memastikan diagnosis yang tepat, terutama jika benjolan mengalami perubahan ukuran, warna, atau bentuk secara tiba-tiba. 

Ini Penyebab Angiokeratoma 

Angiokeratoma terjadi akibat pelebaran pembuluh darah kecil (kapiler) di lapisan permukaan kulit. Kondisi ini membuat darah lebih mudah terkumpul di area tersebut, sehingga terbentuk benjolan kecil berwarna merah atau gelap dengan permukaan kulit yang menebal.

Selain itu, ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko munculnya angiokeratoma, antara lain:

1. Faktor genetik atau kelainan bawaan 

Pada sebagian orang, angiokeratoma bisa terjadi karena faktor genetik atau kelainan bawaan. Artinya, kondisi ini sudah dibawa sejak lahir akibat perubahan pada gen atau masalah pada enzim tertentu di tubuh. Salah satu contoh kondisi genetik yang berkaitan dengan angiokeratoma adalah penyakit Fabry, yaitu penyakit langka akibat kekurangan enzim tertentu. 

Pada penyakit Fabry, kekurangan enzim tersebut menyebabkan penumpukan lemak di dalam pembuluh darah dan jaringan tubuh, sehingga dinding pembuluh darah menjadi lemah dan mudah melebar. Kondisi inilah yang kemudian memicu munculnya angiokeratoma. 

2. Tekanan atau cedera pada pembuluh darah kulit 

Tekanan berulang atau cedera ringan pada kulit dapat menjadi pemicu angiokeratoma, misalnya gesekan pakaian, tekanan saat duduk terlalu lama, atau benturan kecil yang sering terjadi tanpa disadari. 

Nah, tekanan ini bisa merusak pembuluh darah kecil di bawah kulit, sehingga pembuluh darah tersebut melebar, darah lebih mudah terkumpul di area tertentu, dan akhirnya muncul benjolan merah atau gelap di permukaan kulit. 

3. Penuaan 

Seiring bertambahnya usia, elastisitas pembuluh darah akan menurun. Akibatnya, kulit jadi lebih rentan mengalami pelebaran pembuluh darah kecil yang bisa memicu angiokeratoma. 

4. Kehamilan

Selama kehamilan, tubuh mengalami banyak perubahan, termasuk meningkatnya tekanan di pembuluh darah karena bertambahnya volume darah dan beban tubuh. 

Nah, tekanan ini dapat membuat pembuluh darah kecil di bawah kulit melebar dan menonjol ke permukaan, sehingga memicu munculnya angiokeratoma, terutama di area kemaluan dan paha. 

5. Gangguan sirkulasi darah

Gangguan sirkulasi darah, seperti varises atau pembuluh vena yang melebar juga menjadi faktor penyebab munculnya angiokeratoma lho. 

Jika aliran darah di pembuluh vena melambat atau tersumbat, tekanan dalam pembuluh darah kecil akan meningkat. Akibatnya, angiokeratoma bisa terbentuk, terutama di area kaki, paha, atau selangkangan.

6. Kondisi medis tertentu 

Meski jarang terjadi, angiokeratoma juga bisa disebabkan oleh kondisi medis tertentu, seperti penyakit ginjal, penyakit hati, atau kelainan darah. Kondisi-kondisi tersebut dapat memengaruhi aliran dan tekanan darah di dalam pembuluh darah kecil. 

Nah, hal inilah yang menyebabkan pembuluh lebih mudah melebar dan membentuk benjolan angiokeratoma di permukaan kulit.

Gejala Angiokeratoma yang Perlu Anda Waspadai 

Seperti yang sudah disebutkan di atas, angiokeratoma umumnya ditandai dengan munculnya benjolan kecil di permukaan kulit, terutama di area kaki, paha, pinggul, selangkangan, atau area genital. Nah, benjolan ini biasanya berwarna merah, ungu, hingga cokelat kehitaman yang berukuran 1–5 mm. 

Lama-kelamaan, permukaan benjolan dapat berubah menjadi lebih kasar, menebal, atau bersisik saat disentuh. Kondisi ini juga menyebabkan angiokeratoma lebih mudah berdarah jika tergores atau bergesekan dengan pakaian. 

Umumnya, angiokeratoma tidak menimbulkan rasa nyeri atau gatal lho. Namun, pada beberapa kasus, benjolan ini bisa terasa nyeri dan berdarah, terutama bila letaknya di area yang sering tergesek pakaian.

Perlu diketahui, angiokeratoma umumnya bersifat jinak. Meski begitu, jika Anda mengalami gejala seperti yang sudah disebutkan di atas, ada baiknya untuk memeriksakan diri ke dokter ya. Terlebih lagi, bila benjolan yang sering berdarah, berubah warna, membesar dengan cepat, atau jumlahnya semakin banyak. 

Begini Cara Menangani Angiokeratoma

Kabar baiknya, angiokeratoma tidak berbahaya dan sering kali tidak memerlukan pengobatan khusus. Penanganan biasanya disesuaikan dengan jumlah benjolan, lokasi, keluhan yang ditimbulkan, serta kondisi kesehatan secara keseluruhan. 

Berikut beberapa cara menangani angiokeratoma yang umum dilakukan:

1. Observasi dan pemantauan 

Pada banyak kasus, angiokeratoma bersifat jinak dan tidak menimbulkan keluhan serius. Karena itu, dokter sering menyarankan observasi dan pemantauan terlebih dahulu, terutama jika benjolan kecil, tidak nyeri, dan jarang berdarah. 

Observasi penting agar dokter bisa segera mengambil tindakan jika angiokeratoma menjadi bermasalah, tetapi prosedur medis tidak perlu dilakukan jika benjolan tetap stabil.

2. Menjaga kebersihan kulit

Menjaga kebersihan kulit merupakan langkah mudah yang sangat penting untuk penderita angiokeratoma. Jika area kulit yang terdapat angiokeratoma selalu bersih dan kering, risiko infeksi akibat luka atau gesekan bisa diminimalisir. Perawatan sederhana ini membantu menjaga kondisi kulit tetap sehat sekaligus mencegah keluhan bertambah parah. 

Di samping itu, Anda juga dianjurkan untuk tidak menggaruk atau menggosok area yang terdapat angiokeratoma ya. Gunakan juga pakaian yang nyaman dan longgar agar tidak memperparah gesekan di kulit.

3. Terapi laser

Anda juga bisa menggunakan terapi laser untuk menangani angiokeratoma. Terapi ini dapat menghancurkan pembuluh darah yang melebar di bawah permukaan kulit tanpa merusak jaringan sekitarnya. Cara ini efektif untuk memperbaiki penampilan kulit dan mengurangi kemungkinan angiokeratoma berdarah, terutama jika letaknya di area yang sering tergesek.

4. Kauterisasi (cauterization)

Kauterisasi digunakan untuk menangani angiokeratoma yang sering berdarah atau menonjol. Prosedur ini dilakukan dengan membakar jaringan benjolan menggunakan alat khusus, sehingga pembuluh darah yang melebar dapat tertutup. Dengan cara ini, perdarahan dapat dicegah dan benjolan bisa mengering atau hilang.

5. Krioterapi

Krioterapi adalah metode pembekuan menggunakan nitrogen cair untuk menghancurkan jaringan angiokeratoma. Suhu dingin ekstrem membuat pembuluh darah abnormal rusak dan akhirnya mengelupas dengan sendirinya. 

Prosedur ini efektif menghilangkan benjolan kecil di kulit tanpa operasi dan biasanya tidak meninggalkan bekas luka yang besar. Pilihan ini cocok untuk angiokeratoma yang jumlahnya sedikit dan letaknya mudah dijangkau.

6. Eksisi bedah

Eksisi bedah dilakukan dengan mengangkat angiokeratoma secara langsung menggunakan prosedur bedah kecil. Cara ini biasanya dipilih jika benjolan berukuran besar, sering berdarah, atau menimbulkan kecurigaan terhadap kondisi kulit lain.

Eksisi bedah memastikan seluruh jaringan abnormal diangkat dan benjolan tidak tumbuh kembali di tempat yang sama.

Selain cara di atas, penanganan angiokeratoma yang disebabkan oleh kondisi medis lainnya, seperti penyakit Fabry, penyakit ginjal, penyakit hati, atau gangguan sirkulasi darah umumnya difokuskan pada pengobatan penyakit yang mendasarinya agar pembentukan angiokeratoma dapat dikendalikan dan tidak semakin bertambah.

Cara Mencegah Angiokeratoma

Pada dasarnya, angiokeratoma tidak selalu dapat dicegah sepenuhnya, terutama jika disebabkan oleh faktor genetik, penuaan, atau kondisi medis tertentu. Namun, tidak perlu khawatir ya, karena risiko kemunculan dan kekambuhan angiokeratoma dapat dikurangi kok. Berikut penjelasannya: 

  • Menjaga kesehatan pembuluh darah dengan rutin berolahraga ringan
  • Menghindari duduk atau berdiri terlalu lama agar sirkulasi darah tetap lancar
  • Menggunakan pakaian yang longgar untuk mengurangi tekanan dan gesekan pada kulit
  • Menjaga kebersihan dan kelembapan kulit agar tidak mudah iritasi atau luka
  • Menghindari kebiasaan menggaruk atau menggosok kulit terlalu keras
  • Mengontrol penyakit yang bisa meningkatkan risiko angiokeratoma, seperti gangguan sirkulasi darah, penyakit ginjal, atau penyakit hati
  • Menjaga berat badan ideal untuk mengurangi tekanan pada pembuluh darah
  • Mengonsumsi makanan bergizi seimbang untuk mendukung kesehatan kulit dan pembuluh darah
  • Tidak merokok dan membatasi konsumsi alkohol

Anda juga dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan kulit secara rutin, apalagi jika Anda atau keluarga memiliki riwayat angiokeratoma.Dengan begitu, perubahan pada kulit dapat terdeteksi lebih dini sehingga penanganan angiokeratoma bisa dilakukan lebih cepat dan tepat.

Nah, jika Anda menemukan benjolan kulit yang menyerupai angiokeratoma atau mengalami perubahan pada benjolan yang sudah ada, sebaiknya jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter. Pemeriksaan dan penanganan yang tepat akan membantu Anda tetap nyaman dan mencegah kemungkinan komplikasi akibat angiokeratoma.

Gunakan Booking Dokter di aplikasi ALODOKTER untuk membuat janji temu berdasarkan lokasi, jadwal, dan ulasan dari pengguna lain.