Asfiksia adalah kondisi ketika tubuh tidak mendapat oksigen yang cukup sehingga organ-organ penting dapat rusak dalam waktu singkat. Jika tidak segera ditangani, asfiksia bisa berakibat fatal, bahkan menyebabkan kematian. Namun, tindakan pertolongan pertama dapat meningkatkan peluang kesembuhan.
Saat bernapas, oksigen masuk melalui hidung atau mulut, lalu melewati saluran pernapasan hingga ke paru-paru. Di paru-paru, oksigen terserap ke dalam darah dan diedarkan ke seluruh tubuh. Gangguan di salah satu tahapan tersebut dapat menyebabkan asfiksia. Kondisi ini bisa terjadi secara mendadak atau perlahan, tergantung penyebab dan keparahannya.

Penyebab dan Faktor Risiko Asfiksia
Ada berbagai penyebab asfiksia yang perlu diwaspadai. Berikut beberapa kondisi yang bisa memicu terjadinya asfiksia:
Tenggelam
Tenggelam menyebabkan suplai oksigen terganggu karena masuknya air ke paru-paru. Akibatnya, tubuh tidak mendapatkan oksigen yang cukup. Pada banyak kasus, tenggelam terjadi dengan sangat cepat. Anak-anak, remaja, dan lansia termasuk kelompok dengan risiko tenggelam yang lebih tinggi, terutama di area tanpa pengawasan.
Paparan zat kimia
Asfiksia juga dapat terjadi ketika seseorang menghirup suatu zat yang mengurangi pasokan oksigen di dalam tubuh. Zat tersebut dapat menggantikan oksigen di dalam paru-paru atau justru mengganggu penyebaran oksigen ke seluruh tubuh.
Beberapa zat kimia yang dapat menyebabkan kondisi ini adalah karbon monoksida, sianida, hidrogen sulfida, atau bahan kimia dalam produk pembersih rumah tangga.
Anafilaksis
Anafilaksis adalah respons alergi yang parah terhadap makanan, obat-obatan, ataupun gigitan hewan tertentu. Saat mengalami anafilaksis, sistem kekebalan tubuh akan memproduksi zat kimia, seperti histamin, yang dapat menyebabkan pembengkakan, termasuk di saluran pernapasan bagian atas.
Pembengkakan di saluran pernapasan tersebut dapat menyumbat saluran napas dan mengganggu jalannya oksigen ke paru-paru sehingga akhirnya menyebabkan asfiksia.
Asma
Asma merupakan kondisi kronis yang menyebabkan peradangan di saluran pernapasan. Saat serangan asma yang parah terjadi, saluran pernapasan akan membengkak dan menyempit. Alhasil, pasokan oksigen pun menjadi terganggu.
Serangan asma biasanya dipicu oleh berbagai hal berikut:
- Alergen (zat pemicu alergi), seperti serbuk bunga atau bulu hewan
- Paparan zat kimia atau polusi udara
- Infeksi saluran pernapasan
- Stres
Tersedak
Tersedak dapat menyebabkan seseorang kesulitan untuk menghirup oksigen. Hal ini karena terdapat benda asing yang tersangkut di saluran pernapasan.
Di samping itu, kondisi ini juga dapat terjadi akibat terlalu banyak meminum alkohol. Konsumsi minuman beralkohol dalam jumlah yang tinggi bisa menyebabkan refleks muntah seseorang berkurang. Hal ini bisa membuat mereka tersedak muntahannya sendiri.
Beberapa orang yang memiliki risiko tinggi mengalami kondisi tersedak adalah:
- Lansia yang tinggal sendiri
- Lansia pengguna gigi palsu
- Lansia yang mengalami kesulitan menelan
- Bayi dan balita
Tercekik
Asfiksia dapat terjadi ketika leher seseorang tercekik oleh tangan atau tali. Kondisi ini mengakibatkan jalan masuk oksigen menjadi tersendat. Akibatnya, asupan oksigen ke paru-paru berkurang atau bahkan berhenti sama sekali.
Posisi tubuh yang salah
Pada beberapa kondisi, posisi tubuh tertentu dapat menekan saluran pernapasan dan menghambat aliran oksigen ke paru-paru. Jika hanya sementara, posisi ini tidak akan menyebabkan asfiksia. Namun, jika posisi tersebut bertahan dalam waktu lama, asfiksia bisa terjadi.
Asfiksia akibat posisi tubuh umumnya terjadi pada orang yang tidak bisa mengubah posisinya sendiri, seperti bayi atau pasien yang mengalami kelumpuhan. Pada bayi, asfiksia ini diduga menjadi penyebab dari sudden infant death syndrome (SIDS).
Kejang
Ketika terjadi kejang, napas seseorang akan berhenti sementara. Kondisi ini dapat mengganggu masuknya oksigen ke dalam paru-paru. Gerak menyentak berulang yang terjadi selama kejang juga bisa menyebabkan benda tertentu menghalangi atau bahkan menutup saluran pernapasan penderitanya.
Jika kejang terjadi dalam waktu lama, misalnya pada status epileptikus, terhalangnya oksigen dalam saluran pernapasan juga jadi lebih lama. Akibatnya, asfiksia bisa terjadi.
Overdosis obat
Overdosis beberapa jenis obat, seperti opioid, dapat mengganggu kemampuan otak dalam mengendalikan pernapasan. Opioid dalam jumlah berlebih dapat menyebabkan napas melambat. Hal ini membuat kadar karbon dioksida dalam darah meningkat, sedangkan kadar oksigen berkurang.
Asfiksia akibat overdosis obat berisiko terjadi pada orang yang menggunakan opioid sebagai antinyeri untuk mengatasi nyeri kronis, misalnya kanker atau rheumatoid arthritis, dan orang yang menyalahgunakan NAPZA.
Terhimpit
Tubuh membutuhkan gerakan dari otot napas dan sedikit ruang untuk bisa menarik napas. Ketika ada tekanan yang menghimpit tubuh, terutama bagian dada, seseorang akan mengalami kesulitan bernapas. Asfiksia bisa terjadi jika himpitan terjadi dalam waktu yang lama.
Asfiksia karena terhimpit rawan terjadi pada orang yang berada pada kerumunan kacau, seperti di konser musik atau pertandingan olahraga yang memiliki banyak penonton.
Penyakit atau cedera
Kurangnya oksigen dalam tubuh dapat terjadi akibat penyakit pada saluran pernapasan, atau pada paru-paru maupun jantung, yaitu dua organ utama yang berperan sebagai penyalur oksigen ke seluruh tubuh.
Cedera pada saluran napas maupun otot dan tulang yang diperlukan untuk bernapas, misalnya patah tulang leher atau patah tulang rusuk, dapat menyebabkan asfiksia. Hal ini dapat terjadi karena jalan napas terhalang atau nyeri yang membuat tarikan napas tertahan.
Gejala Asfiksia
Berikut ini adalah berbagai gejala yang akan muncul jika seseorang mengalami asfiksia:
- Kesulitan berbicara
- Kesulitan menelan (biasanya akibat tersedak makanan)
- Batuk
- Sesak napas (dyspnea)
- Napas dengan sangat cepat (hiperventilasi)
- Suara serak
- Pusing
- Sakit kepala
- Wajah atau bibir menjadi merah, ungu, biru, atau abu-abu
- Pingsan atau penurunan kesadaran
Kapan harus ke dokter
Segera hubungi ambulans atau bawa ke IGD terdekat jika Anda melihat seseorang mengalami gejala asfiksia, terutama yang sudah mengalami penurunan kesadaran. Penanganan yang cepat dan tepat sangat penting untuk mencegah komplikasi jangka panjang.
Jangan mencoba memberikan minuman kepada orang yang kesulitan bernapas atau pingsan. Sebab, hal ini dapat membuat orang tersebut makin tersedak dan jalan napasnya makin tersumbat.
Jika memiliki pertanyaan seputar asfiksia, Anda dapat berkonsultasi secara online melalui fitur Chat Bersama Dokter. Anda juga bisa memanfaatkan layanan Booking Dokter di aplikasi ALODOKTER untuk membuat janji konsultasi dengan dokter spesialis di rumah sakit terdekat.
Diagnosis Asfiksia
Dokter dapat mendiagnosis asfiksia dengan melihat tanda-tanda pada pasien. Namun, sebelum melihat tanda-tanda tersebut, perlu ditanyakan apakah pasien tersedak sesuatu, seperti benda asing atau makanan, karena penanganan untuk tersedak bisa berbeda.
Biasanya orang yang mengalami asfiksia akan menunjukkan tanda berikut:
- Mencengkeram tenggorokan
- Batuk yang lemah
- Mengi
- Tidak bisa berbicara
- Pingsan
Sementara itu, bayi yang mengalami asfiksia akan menunjukan tanda-tanda, seperti kesulitan bernapas, tangis yang lemah, ataupun batuk-batuk kecil.
Jika penyebabnya tidak jelas, dokter bisa melakukan pemeriksaan penunjang, seperti:
- Foto Rontgen, untuk melihat gambaran saluran napas, paru-paru, dan jantung
- Bronkoskopi, untuk melihat bagian dalam saluran pernapasan secara langsung menggunakan selang yang dilengkapi kamera di ujungnya
Pengobatan Asfiksia
Asfiksia merupakan kondisi darurat yang memerlukan penanganan cepat. Beberapa penyebab asfiksia dapat ditangani dengan pertolongan pertama yang bisa dilakukan siapa saja. Berikut adalah pertolongan pertama asfiksia yang bisa dilakukan berdasarkan penyebabnya:
Tenggelam
Jika menemukan seseorang tenggelam, segera telepon ambulans lalu keluarkan korban dari air. Lakukan pijat jantung (CPR) dengan bantuan napas, baik dengan mouth to mouth resuscitation maupun dengan alat bantu, selama menunggu tenaga medis datang.
Anafilaksis
Asfiksia yang disebabkan oleh anafilaksis perlu diberikan suntikan epinefrin. Suntikan ini biasanya diberikan di otot paha. Pasien yang tidak memiliki suntikan epinefrin akan disarankan untuk segera ke rumah sakit atau IGD terdekat.
Tersedak
Jika menemui seseorang yang tersedak, tepuk kencang punggung pasien dengan arah bawah ke atas sebanyak 5 kali. Jika penyebab tersedak masih belum keluar, lakukan Heimlich maneuver hingga objek yang menyumbat jalan napasnya keluar. Panggillah ambulan setelah itu. Jika korban pingsan, lakukan CPR.
Terhimpit
Jika menemui orang yang pingsan karena terhimpit, lakukan CPR pada orang tersebut. Jika ia tidak pingsan, bawalah ia ke tempat terbuka dan panggil ambulans atau segera ke rumah sakit.
Jika Anda berada di dalam kerumunan, silangkan tangan ada ke depan dada dan terus gerakkan kaki Anda untuk berjalan bersama kerumunan. Jangan panik dan jangan mencoba untuk bergerak lebih cepat atau memanjat ke dinding atau tiang.
Penanganan oleh dokter juga tergantung pada penyebab asfiksia. Beberapa hal yang akan dilakukan dokter untuk menangani kondisi ini adalah:
- Suntikan epinefrin, untuk menangani asfiksia akibat anafilaksis
- Suntikan naloxone, untuk asfiksia yang disebabkan oleh overdosis opioid
- Infus obat antikonvulsan, seperti midazolam, untuk mengatasi asfiksia yang disebabkan oleh status epileptikus
- Bronkoskopi, untuk mengambil benda asing yang menyumbat jalan napas, biasanya pada anak-anak
- Operasi, untuk mengatasi cedera yang menyebabkan asfiksia
- Alat bantu napas dengan oksigen kadar tinggi, untuk asfiksia yang disebabkan oleh paparan zat kimia atau yang sudah menyebabkan penurunan kesadaran
Komplikasi Asfiksia
Beberapa komplikasi yang dapat timbul akibat asfiksia adalah:
- Stroke
- Kerusakan otak permanen
- Disabilitas, baik intelektual maupun fisik karena kerusakan otak
- Kematian
Pencegahan Asfiksia
Berikut ini adalah beberapa upaya yang dapat diterapkan untuk mencegah terjadinya asfiksia:
- Kunyah makanan secara perlahan
- Bicaralah hanya setelah makanan tertelan
- Awasi anak-anak ketika sedang makan
- Jauhkan anak usia di bawah 5 tahun dari benda kecil yang bisa menyebabkan tersedak, kecuali jika dalam pengawasan
- Potong makanan yang sulit dikunyah dalam ukuran kecil
- Selalu bawa obat jika Anda memiliki alergi terhadap makanan atau menderita asma
- Selalu periksa komposisi dari makanan yang dibeli di luar, terutama jika Anda memiliki alergi
- Pantau anak-anak ketika sedang berenang
- Gunakan jaket pelampung saat berenang jika Anda atau anak tidak bisa berenang
- Pasanglah detektor gas karbon monoksida di dalam rumah
- Hindari tempat dengan kerumunan yang parah
- Jangan mengubah dosis obat antinyeri golongan opioid tanpa persetujuan dokter