Terapi urine sudah dikenal dan dipraktikkan sejak lama untuk tujuan  pengobatan dan kosmetik. Orang-orang percaya bahwa terapi ini memiliki manfaat, sehingga dijadikan sebagai pengobatan alternatif.

Tindakan ini memiliki nama lain urotheraphy atau urinotherapy. Terapi urine dilakukan dengan cara meminum atau mengolesi kulit dengan urine sendiri. Konon, urine yang dikonsumsi atau dioleskan ke bagian tubuh tertentu berguna untuk melindungi kulit, membasmi kuman, dan untuk memutihkan gigi. Selain itu, terapi urine juga dianggap baik untuk menghilangkan alergi, jerawat, dan sengatan serangga. Tapi benarkah terapi urine efektif sebagai pengobatan?

Bagi yang Ingin Tahu soal Terapi Urine, Baca di Sini - Alodokter

Beberapa Klaim Terkait Manfaat Terapi Urine

Meski manfaat terapi urine belum terbukti secara klinis, namun tidak sedikit yang masih mencoba melakukan terapi tersebut. Berikut beberapa contoh tujuan seseorang melakukan terapi urine:

  • Melawan kanker
    Penggunaan terapi urine untuk pengobatan kanker didasarkan kepada fakta bahwa protein pemicu tumor tertentu biasanya terdapat di dalam urine penderita kanker. Sehingga ada yang menganggap bahwa memanfaatkan urine dengan cara meminumnya akan membuat tubuh memproduksi antibodi untuk melawan protein pemicu kanker. Tak hanya urine manusia, urine dari hewan tertentu seperti unta dan sapi juga kerap digunakan sebagai terapi urine, namun tidak ada bukti ilmiah yang akurat mengenai efektivitasnya dalam melawan kanker.

  • Merawat kulit
    Terapi urine juga populer digunakan dalam perawatan kulit kaum hawa. Terapi ini ternyata sudah dilakukan sejak berabad-abad lalu. Urine dianggap mengandung komponen-komponen penting yang berguna bagi kulit, salah satunya untuk mengatasi jerawat. Komponen yang dianggap penting adalah urea. Bahan ini mampu mengikat air di lapisan luar kulit dan berguna sebagai antimikroba. Namun sekali lagi, khasiat urine ini belum dapat dibuktikan kebenarannya secara ilmiah.

Pandangan Dunia Medis Terhadap Terapi Urine

Untuk pemakaian bagi penderita kanker, belum ada bukti terpercaya mengenai efektivitas terapi urine. Tidak peduli bagaimana terapi urine dilakukan kepada penderita kanker, hasilnya tetap sama, yaitu belum dapat dibuktikan kebenarannya.

Sementara untuk perawatan kulit, banyak yang sudah mengaplikasikannya, namun dalam bentuk berbeda. Sebagaimana kita tahu bahwa urine terdiri dari air, amonia, mineral, urobilinogen (zat pewarna pada urine), dan urea. Urea sendiri merupakan bahan yang sudah sering digunakan dalam krim dan pelembap untuk kulit. Salah satu kegunaan dari urea adalah mampu mengangkat sel-sel kulit mati.

Urea juga mampu membantu meningkatkan kelembapan kulit dan melembutkan lapisan luar kulit, dengan cara menyingkirkan sel-sel kulit mati yang kering atau kasar. Karena kemampuan tersebut, urea biasa disebut sebagai zat keratolitik.

Namun, mengoleskan urine ke kulit tentu saja berbeda dengan memakai krim atau salep urea. Meski banyak yang mempraktikkan dan mengklaim keberhasilan terapi urine, bukti medis dan data ilmiah yang mendukungnya masih sangat minim. Melakukan terapi urine juga bisa berakibat buruk. Bahaya bisa muncul dari proses penyimpanan urine yang tidak benar. Jika digunakan dengan cara dioleskan, rentan menimbulkan infeksi, baik di daerah yang dioleskan maupun di dalam tubuh. Infeksi yang terjadi bisa juga membuat kulit mudah terluka.

Pemakaian terapi urine yang juga sudah dipraktikan sejak lama adalah untuk menghilangkan racun sengatan ubur-ubur. Faktanya, kegunaan metode ini untuk mengatasi efek sengatan ubur-ubur tidak terbukti secara klinis. Alih-alih menyembuhkan, penerapan terapi urine pada kondisi ini kemungkinan malah dapat memperburuk keadaan.

Jadi, Anda masih tertarik melakukan terapi urine setelah tahu sederet fakta di atas?