Bigorexia adalah gangguan mental yang membuat seseorang terobsesi terhadap keinginan memiliki tubuh berotot hingga mengorbankan kesehatan fisik dan kehidupan sosial. Gangguan ini kerap terjadi tanpa disadari, terutama pada pria yang aktif berolahraga atau terpengaruh standar “badan ideal” dari media sosial.
Keinginan membentuk otot memang sering dianggap sebagai bagian dari gaya hidup sehat. Namun, pada kondisi bigorexia, keinginan ini didasari dengan ketidakpuasan yang berlebihan terhadap bentuk tubuh sendiri, bahkan meski tubuh sudah tampak proporsional.

Orang dengan bigorexia biasanya terjebak dalam pola latihan yang berat, diet yang sangat ketat, hingga konsumsi suplemen atau obat penggemuk secara berlebihan demi mengejar tubuh yang dianggap ideal.
Ciri-Ciri Bigorexia yang Perlu Dikenali
Ada beberapa ciri khas pada orang yang mengalami bigorexia. Berikut ini adalah tanda-tanda yang perlu diwaspadai:
1. Merasa tubuh selalu kurang berotot
Orang dengan bigorexia tetap merasa dirinya “kurus,” “kecil,” atau “lemah,” meski otot tubuh sudah terbentuk jelas, bahkan lebih besar dari rata-rata orang pada umumnya. Mereka sering kali menghabiskan banyak waktu menilai bentuk tubuh di cermin, memeriksa perkembangan otot berulang kali, atau membandingkan fisik sendiri dengan orang lain di gym maupun media sosial.
2. Menghabiskan waktu berjam-jam untuk latihan beban
Obsesi terhadap bentuk tubuh membuat jadwal latihan menjadi sangat padat dan intens, bahkan sering kali jauh melebihi anjuran kesehatan. Istirahat juga akan sering diabaikan karena ada ketakutan otot akan “mengecil” jika tidak terus dilatih.
Contohnya, seseorang bisa berolahraga hingga dua atau tiga kali sehari, bahkan saat tubuh terasa lelah atau cedera hanya demi menjaga bentuk ototnya.
3. Pola makan dan diet sangat ketat
Demi menambah massa otot, pola makan menjadi sangat terfokus pada asupan tertentu, seperti tinggi protein. Sering kali, mereka menghindari karbohidrat atau lemak, bahkan membatasi sayur dan buah karena dianggap “menghambat” pertumbuhan otot.
Contohnya, seseorang hanya makan dada ayam rebus dan putih telur setiap hari, serta menghindari makanan lain yang sebenarnya dibutuhkan tubuh untuk asupan gizi lengkap.
4. Penggunaan obat penggemuk tubuh sembarangan
Keinginan tubuh cepat berotot membuat orang dengan bigorexia tergoda memakai berbagai produk, mulai dari suplemen protein, kreatin, hingga obat yang seharusnya hanya untuk terapi medis. Penggunaan dilakukan tanpa konsultasi dokter atau membaca aturan pakai.
Pada kasus tertentu, penderita bigorexia bahkan bisa nekat menggunakan obat-obatan atau doping, seperti steroid anabolik untuk mencapai bentuk tubuh yang diinginkan. Padahal, risiko dan efek sampingnya berbahaya.
5. Takut “bolos” olahraga atau tidak makan sesuai aturan
Orang dengan bigorexia sering menolak ajakan nongkrong, makan bersama, atau pergi berlibur karena khawatir jadwal latihannya terganggu atau makanan yang tersedia tidak “aman” untuk dietnya. Akibatnya, hubungan dengan teman dan keluarga menjadi renggang.
6. Cemas bila tidak bisa olahraga
Tekanan untuk memiliki bentuk tubuh sempurna membuat penderita bigorexia mudah cemas atau marah jika latihan terlewat, hasil di cermin tidak sesuai harapan, atau mendapat komentar tentang fisiknya.
Perasaan gagal dan tidak puas diri tersebut bisa berkembang menjadi stres berkepanjangan, depresi, atau bahkan memiliki keinginan untuk menyakiti diri sendiri.
Cara Mengatasi Bigorexia dengan Aman
Jika tidak ditangani dengan baik, bigorexia dapat menimbulkan berbagai risiko serius bagi kesehatan. Kondisi ini bisa menyebabkan cedera otot dan sendi akibat latihan yang berlebihan, serta gangguan pola makan dan malnutrisi karena menjalani diet yang terlalu ketat.
Selain itu, penderita bigorexia juga berisiko mengalami ketergantungan terhadap suplemen ilegal yang dapat merusak fungsi hati, jantung, dan hormon. Tidak hanya berdampak secara fisik, bigorexia juga bisa memicu masalah kesehatan mental, seperti depresi dan kecemasan.
Penanganan bigorexia sebaiknya melibatkan kombinasi terapi psikologis, edukasi nutrisi, dan pengaturan pola latihan. Berikut ini adalah langkah-langkah yang dapat dijalani:
1. Konsultasi dengan psikolog atau psikiater
Langkah awal yang penting untuk mengatasi bigorexia adalah berkonsultasi dengan tenaga profesional, seperti psikolog atau psikiater. Melalui sesi terapi, Anda akan dibimbing untuk mengenali pola pikir negatif tentang tubuh dan mengubahnya menjadi cara pandang yang lebih sehat.
Salah satu pendekatan yang sering digunakan adalah terapi kognitif perilaku (CBT). Metode ini bisa membantu Anda keluar dari obsesi terhadap bentuk tubuh dan belajar menerima diri sendiri dengan lebih positif.
Misalnya, Anda akan diajak memahami alasan di balik perasaan kurang berotot, lalu perlahan mengubah cara berpikir agar lebih menghargai tubuh apa adanya.
2. Edukasi gizi dari ahli nutrisi
Untuk mengatasi bigorexia, konsultasi dengan ahli nutrisi juga diperlukan untuk memperbaiki pola makan yang sebelumnya kurang seimbang. Melalui bimbingan profesional, Anda bisa mendapatkan panduan menu harian yang tidak hanya berfokus pada asupan protein, tetapi juga mencakup karbohidrat, lemak sehat, vitamin, dan mineral.
Pola makan yang tepat akan membantu menjaga kesehatan fisik, menstabilkan suasana hati, sekaligus mendukung pemulihan mental. Misalnya, ahli gizi dapat menyusun jadwal makan dengan kombinasi nasi, lauk, sayur, dan buah dalam porsi yang seimbang agar tubuh tetap bertenaga dan mendapatkan nutrisi lengkap.
3. Pengaturan ulang jadwal latihan
Menata ulang jadwal latihan bersama pelatih profesional merupakan langkah penting untuk menjaga keseimbangan antara kebugaran dan kesehatan tubuh. Latihan fisik memang tetap dibutuhkan, tetapi harus dilakukan dengan bijak dan disesuaikan dengan kemampuan masing-masing.
Dengan bimbingan pelatih, Anda bisa membuat jadwal latihan yang lebih realistis, sehat, dan tidak memaksakan diri demi mencapai bentuk otot tertentu. Selain itu, pelatih juga akan membantu menentukan waktu istirahat yang ideal serta mengenali tanda-tanda tubuh ketika perlu berhenti.
Misalnya, jika sebelumnya Anda berlatih beban setiap hari tanpa jeda, pelatih dapat menyesuaikan jadwal menjadi 3–4 kali seminggu agar tubuh punya waktu cukup untuk pulih.
4. Dukungan keluarga dan lingkungan sekitar
Dukungan dari keluarga dan teman memiliki peran besar dalam proses pemulihan dari bigorexia. Kehadiran mereka bisa membantu dengan cara sederhana, seperti mendengarkan cerita, memantau pola makan dan latihan, atau memberikan semangat saat rasa percaya diri menurun.
Komunikasi yang hangat dan terbuka pun membuat Anda merasa lebih diterima, sehingga tidak harus menghadapi kondisi ini sendirian. Misalnya, keluarga dapat mengingatkan Anda untuk beristirahat cukup, sementara teman-teman bisa menemani berolahraga dengan suasana yang lebih santai dan menyenangkan tanpa tekanan.
Meraih tubuh sehat dan percaya diri memang penting, tetapi keseimbangan antara kesehatan fisik dan mental jauh lebih berharga. Ingat, setiap orang memiliki keunikan dan kelebihannya masing-masing. Anda tidak perlu memaksakan diri mengikuti standar orang lain atau membandingkan diri terus-menerus.
Dengan menerima dan mencintai diri sendiri, Anda pun bisa menikmati hidup dengan lebih bahagia, sambil tetap menjaga pola hidup sehat yang benar.
Jika Anda sering merasa cemas berlebihan tentang penampilan tubuh, merasa tubuh selalu “kurang ideal,” atau mulai mengorbankan rutinitas dan relasi sosial, sebaiknya segera konsultasi dengan dokter atau psikolog. Konsultasi ini bisa dilakukan melalui fitur Chat Bersama Dokter di aplikasi ALODOKTER.