Body shaming adalah tindakan mengkritik, mengejek, menghina, atau mengomentari bentuk, ukuran, berat badan, warna kulit, maupun penampilan fisik seseorang. Tindakan ini dapat dilakukan secara langsung maupun melalui media sosial dan sering kali berdampak buruk pada kesehatan mental korbannya.

Body shaming dapat dialami oleh siapa saja, baik anak-anak, remaja, maupun orang dewasa. Meski sering dianggap sebagai candaan atau bentuk perhatian, perilaku ini tidak boleh dianggap sepele karena dapat menurunkan rasa percaya diri, memicu gangguan makan, hingga meningkatkan risiko depresi dan gangguan kecemasan.

Body Shaming

Body shaming termasuk salah satu bentuk perundungan (bullying) yang masih sering terjadi di masyarakat. Oleh karena itu, penting untuk mengenali penyebab, dampak, serta cara menghadapinya agar efek buruk dari perilaku ini dapat dicegah.

Jenis-Jenis Perilaku Body Shaming

Perilaku body shaming dapat dilakukan dalam berbagai jenis. Berikut ini adalah perilaku yang dapat dikatakan sebagai body shaming:

  • Mengomentari berat badan, baik karena dianggap terlalu gemuk maupun terlalu kurus, misalnya “kok badan kamu makin lebar?”
  • Memberikan komentar negatif mengenai bagian tubuh tertentu, seperti tinggi badan, bentuk hidung, ukuran payudara, bentuk kaki, atau bentuk wajah
  • Mengomentari warna kulit atau penampilan fisik, seperti mengejek warna kulit yang terlalu gelap atau terlalu terang, bekas jerawat, atau rambut rontok
  • Membandingkan kondisi fisik seseorang dengan orang lain secara terus-menerus hingga membuatnya merasa tidak berharga atau tidak menarik
  • Mempermalukan fisik seseorang di ruang publik digital, seperti media sosial, aplikasi pesan, forum internet, atau kolom komentar (cyber body shaming)

Penyebab Body Shaming

Ada berbagai faktor yang umumnya menyebabkan seseorang melakukan body shaming, yaitu:

  • Memiliki standar kecantikan atau ketampanan tertentu yang dianggap ideal
  • Terpengaruh oleh media sosial atau lingkungan yang terlalu menekankan penampilan fisik
  • Kurangnya empati terhadap perasaan orang lain
  • Ingin merasa lebih unggul dibandingkan orang lain
  • Mengikuti kebiasaan lingkungan yang menganggap komentar fisik sebagai hal yang wajar
  • Memiliki rasa tidak percaya diri terhadap penampilannya sendiri sehingga melampiaskannya kepada orang lain

Selain faktor-faktor di atas, seseorang lebih rentan menjadi korban body shaming apabila memiliki penampilan yang dianggap berbeda dari standar yang berlaku di lingkungannya.

Kapan harus ke dokter

Body shaming sering kali dianggap sebagai candaan atau hal yang sepele. Padahal, tindakan ini dapat menimbulkan dampak yang serius terhadap kesehatan mental seseorang. Bila Anda melihat tindakan body shaming di sekitar, cobalah untuk menghentikannya dengan cara yang baik dan berikan dukungan kepada korbannya.

Jika Anda atau orang di sekitar Anda menjadi korban body shaming, jangan takut untuk mencari bantuan orang lain, misalnya keluarga atau teman yang dapat dipercaya. Jika body shaming terjadi di media sosial, simpan bukti berupa tangkapan layar atau pesan yang diterima.

Bila belum memungkinkan untuk bercerita kepada orang terdekat, jangan diam dan memendam semuanya sendirian. Anda bisa berkonsultasi ke psikolog atau psikiater lewat Chat Bersama Dokter.

Menjadi korban body shaming dapat menjadi beban bagi kesehatan mental siapa pun. Melalui konsultasi, psikolog atau psikiater dapat membantu mengelola emosi, pikiran, dan perasaan yang timbul akibat pengalaman tersebut, sekaligus membantu membangun kembali rasa percaya diri dan citra diri yang sehat.

Selain itu, jika Anda merasa tidak nyaman berada di sekitar orang yang sering melakukan body shaming, cobalah untuk mencari dukungan dari teman, keluarga, atau orang lain yang dapat menemani dan membantu Anda menghadapi situasi tersebut. Lingkungan yang suportif dapat membantu mengurangi dampak negatif body shaming dan membuat Anda merasa lebih aman serta dihargai.

Diagnosis Body Shaming

Untuk mendiagnosis dampak body shaming, dokter akan melakukan tanya jawab dengan pasien (korban atau pelaku) serta keluarganya mengenai masalah yang terjadi dan perubahan perilaku yang dialami sejak kejadian tersebut.

Saat sesi konsultasi, pasien akan berada dalam tempat yang aman dan privat. Rahasia dan identitas pasien maupun pihak lain yang terlibat dalam tindakan body shaming juga akan terjamin.

Saat berkonsultasi lewat chat, semua informasi di dalam chat tersebut hanya akan diketahui oleh pasien dan dokter. Dalam konsultasi secara langsung, pasien juga berhak meminta keluarga atau pendampingnya untuk keluar dari ruangan selama sesi konsultasi berlangsung.

Jika pasien tidak berkenan, informasi yang diberikan juga tidak akan diungkapkan kepada siapa pun. Tujuan dari sesi konsultasi adalah untuk mengidentifikasi dampak psikologis yang muncul akibat body shaming, memahami faktor yang mendasari perilaku tersebut, serta menentukan penanganan yang sesuai.

Pada pasien yang menjadi korban body shaming, dokter atau psikolog juga akan menilai kondisi kesehatan mental pasien, termasuk adanya tanda-tanda gangguan kecemasan, depresi, gangguan makan, atau penurunan kepercayaan diri yang dapat memengaruhi kualitas hidup.

Sementara itu, pada pasien yang melakukan body shaming, dokter atau psikolog dapat mengevaluasi adanya faktor yang memicu perilaku tersebut, seperti kurangnya empati, masalah dalam mengelola emosi, tekanan dari lingkungan, atau gangguan kesehatan mental tertentu yang mendasarinya.

Pengobatan Body Shaming

Penanganan body shaming bertujuan untuk mengurangi dampak psikologis pada korban sekaligus mencegah perilaku tersebut terus berlanjut. Penanganan dapat diberikan kepada korban maupun pelaku body shaming. Adapun beberapa penanganan yang dapat dilakukan adalah:

Psikoterapi

Psikoterapi merupakan salah satu metode utama untuk membantu korban body shaming yang mengalami gangguan emosional atau penurunan kualitas hidup.

Salah satu jenis psikoterapi yang sering digunakan adalah terapi perilaku kognitif (cognitive behavioral therapy/CBT). Terapi ini membantu pasien mengenali pola pikir negatif tentang bentuk tubuh atau penampilannya, kemudian mengubahnya menjadi pola pikir yang lebih realistis dan sehat.

Melalui terapi ini, pasien juga dapat belajar mengelola stres, meningkatkan kepercayaan diri, serta mengurangi kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain.

Konseling psikologis

Konseling dapat membantu korban memahami bahwa nilai diri seseorang tidak ditentukan oleh penampilan fisik semata.

Dalam sesi konseling, pasien dapat membahas pengalaman yang dialami, mengidentifikasi sumber tekanan emosional, serta mempelajari strategi yang sehat untuk menghadapi komentar atau perlakuan negatif dari orang lain.

Penanganan gangguan yang menyertai

Pada sebagian kasus, body shaming dapat memicu atau memperburuk gangguan kesehatan mental tertentu, seperti depresi, gangguan kecemasan, maupun gangguan makan.

Jika kondisi tersebut ditemukan, dokter atau psikiater akan memberikan terapi yang sesuai. Penanganan dapat berupa psikoterapi lanjutan, konseling intensif, maupun pemberian obat-obatan tertentu bila diperlukan.

Dukungan sosial

Dukungan dari keluarga, pasangan, teman, maupun komunitas berperan penting dalam proses pemulihan korban body shaming.

Lingkungan yang suportif dapat membantu korban merasa diterima, mengurangi rasa malu, serta membangun kembali citra diri yang positif. Sebaliknya, lingkungan yang terus memberikan komentar negatif dapat memperburuk kondisi psikologis korban.

Edukasi dan konseling bagi pelaku

Pelaku body shaming juga dapat memerlukan edukasi atau konseling, terutama jika perilaku tersebut dilakukan berulang kali dan telah mengganggu hubungan sosial atau menyebabkan penderitaan pada orang lain.

Melalui konseling, pelaku dapat belajar memahami dampak psikologis dari perkataan atau tindakannya, meningkatkan empati, serta mengembangkan cara berkomunikasi yang lebih sehat dan menghargai orang lain.

Jika perilaku body shaming berkaitan dengan gangguan perilaku atau masalah kesehatan mental tertentu, dokter atau psikolog dapat menyarankan evaluasi dan terapi lebih lanjut sesuai kondisi yang mendasarinya.

Komplikasi Body Shaming

Body shaming yang terjadi secara berulang dan berlangsung lama dapat menyebabkan berbagai komplikasi, seperti:

  • Rendahnya rasa percaya diri
  • Gangguan citra tubuh
  • Gangguan kecemasan
  • Depresi
  • Gangguan makan, seperti anoreksia nervosa atau bulimia nervosa
  • Isolasi sosial
  • Penurunan prestasi akademik atau produktivitas kerja
  • Keinginan menyakiti diri sendiri atau percobaan bunuh diri

Pencegahan Body Shaming

Pencegahan body shaming memerlukan peran dari individu, keluarga, dan lingkungan sekitar. Upaya yang dapat dilakukan antara lain:

  • Menghindari memberikan komentar negatif mengenai penampilan fisik orang lain
  • Menghargai keberagaman bentuk tubuh dan penampilan
  • Mengajarkan anak untuk menghormati orang lain sejak dini
  • Membatasi paparan konten media sosial yang mempromosikan standar kecantikan tidak realistis
  • Mengembangkan rasa percaya diri berdasarkan kemampuan, karakter, dan pencapaian, bukan hanya penampilan fisik
  • Menegur atau melaporkan tindakan body shaming yang terjadi di lingkungan sekitar
  • Menciptakan lingkungan yang mendukung dan bebas dari perundungan

Selain itu, penting untuk menyadari bahwa kondisi fisik seseorang dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk genetik, kesehatan, usia, dan gaya hidup. Karena itu, menilai atau merendahkan seseorang hanya berdasarkan penampilannya bukanlah tindakan yang tepat.