Bunda dan Ayah, jangan meremehkan efek kata-kata yang dilontarkan pada anak. Penelitian menemukan, kalimat-kalimat kurang tepat yang ia dengar terus menerus, dapat membuat anak sulit mengelola emosi serta sulit membentuk hubungan sosial saat dewasa.

Mungkin Bunda menganggap kalimat yang sering Bunda katakan pada anak saat memarahinya sebagai hal biasa. Tetapi, bisa jadi justru kalimat ini yang membuat anak semakin tidak menurut.

Bunda, Hindari Mengucapkan Kalimat Ini pada Anak - Alodokter

Kalimat Ini Mungkin Sering Bunda Katakan

Bunda sedang buru-buru memasak sebelum berangkat bekerja.  Hanya saja, Si Sulung dan Si Bungsu bergantian datang dengan berbagai permintaan. Mulai dari membuatkan roti isi keju, bertanya di mana kaos kakinya yang sebelah, sampai bertanya ke mana akan pergi akhir pekan ini. Bunda yang kebingungan lepas kendali dan berucap, “Sudah! Jangan ganggu Bunda lagi!”

Bunda tidak sendiri. Hampir semua ibu pasti pernah mengalami rasa penyesalan karena tidak sengaja mengatakan hal yang mungkin menyakiti hati Si Kecil. Di bawah ini adalah beberapa contoh kalimat yang ternyata bisa berdampak negatif pada anak.

  • “Jangan ganggu Bunda!”

Bunda memang perlu waktu dan ruang untuk diri sendiri, terpisah dari anak. Tetapi, terus menerus mengatakan kepada anak bahwa Bunda tidak ingin diganggu, dapat membuatnya enggan untuk kembali berinteraksi dengan Bunda.

  • “Kamu kok pemalu/cerewet/nakal”

Melabeli anak dengan berkata demikian justru akan memperkuat sifat yang Bunda kritik. Bahkan kata-kata seperti “Kamu pemalas sekali,” “Kamu susah diatur,” dapat melukai hati anak dan memengaruhi persepsi dirinya sendiri. Di saat lain, meski Bunda tidak bicara langsung pada anak, tetapi ia mungkin saja tidak sengaja mendengar saat Bunda membicarakannya pada orang lain.

  • “Kamu bikin Bunda marah ya!”

Tidak apa-apa jika Bunda memang merasa kesal. Tetapi, kalimat ini hanya akan memperburuk suasana dan hubungan dengan anak. Kalimat ini sebenarnya bertujuan menggunakan rasa bersalah sebagai motivasi agar anak berubah. Namun kalimat tersebut justru membuat anak mudah merasa cemas dan rendah diri, karena ia menganggap dirinya bertanggung jawab atas perasaan orang lain.

  • “Kamu kenapa sih?”

Kalimat ini mungkin muncul begitu saja saat Bunda mendapati anak melakukan hal yang tidak Bunda mengerti, seperti memotong rambutnya sendiri, atau menghilangkan barangnya berulang kali. Tetapi, kalimat tersebut juga akan membuatnya merasa ada yang salah dengan dirinya. Bunda perlu ingat bahwa anak punya tujuan untuk setiap tindakannya. Tujuan inilah yang perlu Bunda pahami. Menggunakan rasa malu, takut, dan bersalah dalam diri anak tidak akan berhasil dalam jangka panjang, karena justru menjadikan anak sebagai sumber masalah dan tidak berfokus pada masalah sebenarnya.

  • Jangan menangis!

Mengatakan “Jangan menangis,” “Jangan cengeng,” “Jangan seperti bayi,” akan membuat anak merasa bahwa yang ia rasakan tidak tepat dan bahwa sedih itu adalah hal yang salah. Akibatnya, ia akan terbiasa menyangkal dan tidak menerima perasaannya sendiri.

  • Mengapa kamu tidak seperti kakakmu?

Membanding-bandingkan Si Kecil hanya akan membuatnya merasa tidak percaya diri dan mungkin ingin menjadi orang lain. Bunda perlu ingat bahwa tiap anak tumbuh sesuai kecepatan dan kesiapan masing-masing.

Menggunakan Kalimat Positif pada Anak

Setiap keluarga memang punya gaya pengasuhan atau parenting masing-masing. Tetapi, sebaiknya pola asuh yang diterapkan dapat membangun rasa saling menghormati dan menghargai, yang tercermin dalam kata-kata yang diucapkan pada satu sama lain. Coba yuk, Bun, ganti kalimat-kalimat negatif menjadi lebih positif.

  • Tunjukkan antusiasme

Ajak Si Kecil untuk bercerita tentang kesehariannya sehingga ia terbiasa mengekspresikan perasaannya. Misalnya, “Kata guru kamu tadi membuat gol di pertandingan sepak bola? Bunda mau dengar ceritanya dong”. Dengan begitu ia akan tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, penting, dan layak mendapat perhatian.

  • Ingatkan konsekuensi dari perbuatannya

Si Kecil sering bangun terlambat, sehingga terlambat datang ke sekolah. Daripada berkata, “Bunda sudah bilang berkali-kali jangan terlambat bangun. Kamu enggak peduli,lebih baik pilih kalimat yang lebih rasional. Jika ia sudah dapat diajak berpikir, Bunda dapat mengatakan hal seperti, “Perjalanan ke sekolah setengah jam. Jadi kalau kamu terlambat bangun, harus menjelaskan alasannya ke guru dan dapat poin merah.” Kalimat seperti ini tidak menghakimi, tidak mengontrol atau menunjukkan kecemasan. Namun, anak akan belajar menyadari konsekuensi dari tindakannya.

  • Mengenali dan menerima perasaan anak

Daripada menyangkal, lebih baik ajak anak untuk mengenali dan menerima emosi yang sedang ia rasakan. Dengan mengenali perasaan, ia akan lebih mudah mengekspresikan dan membuat orang lain juga mengerti apa yang ia rasakan. Bunda dapat membantunya dengan mengucapkan kalimat seperti, “Kamu sedih ya nilai ujian kemarin tidak sesuai harapan? Tidak apa-apa. Nanti kita belajar lagi, ya.”

  • Tunjukkan jika ada sikapnya yang tidak dapat diterima

Bunda dapat memulainya dengan kalimat seperti, “Bunda sedih kalau kamu membanting pintu,” atau “Bagaimana perasaan temanmu kalau kamu mengambil mainannya?” Kalimat ini akan menunjukkan bahwa perilakunya tidak dapat diterima. Kemudian Bunda dapat mendiskusikan apa yang sebaiknya dilakukan anak selain marah.

  • Meminta bantuan saat sibuk

Jika ada yang akan dikerjakan yang menuntut fokus, Bunda dapat meminta bantuan kerabat atau asisten rumah tangga untuk menjaga Si Kecil sebentar. Kalau ia sudah cukup besar, Bunda dapat mengatakan padanya, “Bunda harus mengerjakan sesuatu secepatnya. Kamu bisa menggambar sebentar, ya. Kalau sudah selesai kita pergi sama-sama.”

Memilih kalimat yang lebih baik membuat Bunda dan Ayah mengajak anak belajar untuk membuat pilihan yang lebih baik, termasuk sikapnya pada orang lain. Hal yang terpenting, Bunda dan Ayah juga perlu menghindari mengeluhkan atau bicara tentang hal-hal negatif di sekitar anak. Anak akan dengan cepat meniru perilaku orang dewasa di sekitarnya. Perlu disadari, memilih pengucapan kalimat yang benar pada anak, sebenarnya merupakan salah satu hal penting dalam mendidik anak.

Bunda dan Ayah, yuk mulai sekarang pilih mengucapkan kalimat yang lebih positif pada anak, pada satu sama lain, dan pada orang di sekitar.