Placentophagy atau aktivitas memakan plasenta sendiri setelah melahirkan sungguh terjadi, bahkan mungkin pernah dilakukan sebagian ibu. Apa benar makan plasenta bisa mendatangkan manfaat? Sebaliknya, apakah ada risiko kesehatan yang mungkin terjadi? Simak faktanya berikut ini.

Plasenta berperan penting mengantarkan nutrisi, hormon, dan oksigen dari ibu ke bayi, juga berperan melindungi bayi dalam kandungan. Setelah bayi lahir, plasenta yang umumnya berbobot setengah kilogram ini akan ikut dilahirkan atau dikeluarkan dari tubuh ibu.

Bunda Perlu Tahu Risiko Makan Plasenta Sendiri - Alodokter

Klaim Manfaat Makan Plasenta Sendiri

Apa sih sebenarnya klaim manfaat memakan plasenta sendiri? Sebagian orang berpendapat bahwa ibu perlu memakan plasentanya sendiri, karena organ ini dapat meningkatkan jumlah ASI, menambah stamina, menurunkan risiko insomnia, dan depresi pascapersalinan, serta menyeimbangkan kadar hormon. Meski begitu, semua anggapan ini belum disertai bukti medis.

Pada masa lalu, plasenta kering sempat tercatat sebagai salah satu bahan obat herbal Tiongkok. Belum lama, makan plasenta sendiri bahkan sempat menjadi tren di kalangan artis Hollywood. Di Amerika, setelah proses persalinan, plasenta dikirimkan ke perusahaan khusus untuk diproses dan dikeringkan menjadi bubuk, kemudian dikemas dalam bentuk pil.

Ini Fakta dan Risiko Makan Plasenta

Plasenta sehat memang mengandung protein dan nutrisi, tetapi penelitian menemukan bahwa kandungannya bahkan tidak sebanyak yang bisa Bunda dapatkan dari makanan sehat. Bahkan proses pengeringan dan penggilingan plasenta sendiri sebenarnya juga telah menghilangkan nutrisi di dalamnya.

Selain masih bersifat kontroversial, di bawah ini adalah beberapa hasil penelitian yang mengungkap bahwa makan plasenta sendiri lebih banyak risikonya daripada kemungkinan manfaatnya:

  • Plasenta yang dikonsumsi secara mentah dapat menyebarkan infeksi. Bahkan, setelah dimasukkan ke dalam kapsul, plasenta tetap dapat mengandung virus dan bakteri. Apalagi jika seseorang mengonsumsi plasenta orang lain.
  • Plasenta mungkin sudah terkontaminasi bahkan sebelum bayi lahir, karena sebelumnya plasenta berperan sebagai penyaring bahan-bahan yang dapat membahayakan janin. Selain itu, proses persalinan yang melibatkan banyak tangan dan cairan tubuh, termasuk tinja, juga dapat membuat plasenta terkontaminasi.
  • Risiko kontaminasi juga dapat terjadi saat plasenta disimpan sebelum dikonsumsi. Bahan lain yang disimpan di tempat yang sama dapat mengontaminasi plasenta, dan sebaliknya, plasenta yang terkontaminasi juga dapat mencemari bahan lain.
  • Meski diproses oleh perusahaan khusus, tidak ada prosedur standar tentang bagaimana mengolah plasenta yang tepat agar benar-benar steril.
  • Apabila mengonsumsi plasenta yang terkontaminasi, Bunda berisiko menularkannya ke Si Kecil. Ada kasus di mana bayi yang telah sembuh dari infeksi bakteri Streptococcus saat proses persalinan, kemudian terinfeksi kembali setelah ibunya mengonsumsi kapsul berisi plasentanya sendiri yang telah terinfeksi.

Sakit perut dan demam adalah gejala umum yang bisa Bunda alami setelah makan plasenta yang terinfeksi. Segera periksakan ke dokter jika ada kerabat atau teman yang mengalami keluhan ini setelah makan plasenta sendiri ya, Bun.

Setelah membaca berbagai risiko yang bisa ditimbulkan dari makan plasenta sendiri, akan lebih baik menjaga kesehatan setelah melahirkan dengan mencukupi kebutuhan nutrisi dari makanan sehat dan istirahat yang cukup. Pastikan untuk berkonsultasi dengan dokter terlebih dulu sebelum Bunda mencoba mengambil manfaat dari makan plasenta.