Infeksi Streptococcus adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus. Bakteri Streptococcus terbagi menjadi dua tipe, yakni tipe A dan tipe B. Bakteri ini pada dasarnya merupakan jenis bakteri yang dapat hidup dan tumbuh di tubuh manusia, serta tidak menimbulkan penyakit yang serius. Namun, pada keadaan tertentu, bakteri ini dapat menyebabkan infeksi yang menimbulkan gejala, mulai dari ringan hingga serius.

Bakteri Streptococcus tipe A. Bakteri ini dapat hidup di kulit dan tenggorakan, dan ditularkan melalui kontak langsung, misalnya melalui sentuhan kulit.

Bakteri Streptococcus tipe B. Bakteri ini dapat hidup di usus, vagina, dan bagian akhir dari usus besar (rektum), serta tidak menimbulkan masalah. Terdapat faktor pemicu yang mempengaruhi, seperti umur dan kondisi kesehatan, sehingga bakteri ini dapat menimbulkan masalah.

Infeksi Streptococcus

Penyebab dan Penularan Infeksi Streptococcus

Seperti yang telah dikatakan sebelumnya, bakteri Streptococus tipe A dan tipe B merupakan bakteri yang dapat tumbuh di tubuh manusia dan tidak menimbulkan masalah. Namun, terdapat beberapa faktor risiko yang mengakibatkan bakteri ini menyebabkan infeksi, hingga menimbulkan bahaya.

Bakteri Streptococcus tipe A dapat hidup pada kulit dan tenggorokan manusia. Ketika bakteri tersebut menyebabkan infeksi, penularannya dapat terjadi melalui kontak langsung, baik dengan sentuhan kulit, lendir, atau luka.

Terdapat beberapa faktor risiko yang dapat meningkatkan potensi munculnya infeksi bakteri Streptococcus tipe A, yakni:

  • Menderita kondisi yang mengganggu sistem imun tubuh, seperti kanker, diabetes, dan gagal ginjal.
  • Menggunakan obat-obatan kortikosteroid.
  • Kulit yang robek atau terbuka, misalnya akibat luka sayatan, lecet, atau luka bekas tindakan medis.

Ringan atau beratnya penyakit ini tergantung dari kemampuan bakteri itu sendiri dan reaksi dari tubuh penderita. Misalnya kemampuan bakteri menghasilkan racun atau reaksi sistem kekebalan tubuh.

Sedangkan, bakteri Streptococcus tipe B adalah bakteri yang pada dasarnya tidak berbahaya bagi orang dewasa. Bakteri ini hidup di usus dan vagina. Namun, sama seperti bakteri Streptococcus tipe A, bakteri Streptococcus tipe B pun dapat menyebabkan infeksi.

Pada orang dewasa, infeksi bakteri Streptococcus tipe B dipicu oleh beberapa faktor risiko. Faktor risiko tersebut antara lain:

  • Usia lanjut (65 tahun atau lebih)
  • Menderita kondisi yang mengganggu sistem imun, seperti kanker, diabetes, atau HIV.
  • Menderita obesitas, penyakit liver, serta gangguan jantung atau pembuluh darah.

Bakteri Streptococcus tipe B juga dapat menimbulkan masalah pada bayi baru lahir, yang ditularkan melalui vagina ketika sang ibu melahirkan. Beberapa faktor risiko yang dapat memicu munculnya infeksi bakteri Streptococcus tipe B pada bayi meliputi:

  • Dilahirkan secara prematur.
  • Air ketuban sudah pecah 18 jam atau lebih sebelum kelahiran.
  • Plasenta (ari-ari) atau air ketuban terinfeksi.
  • Sebelumnya, sang ibu pernah melahirkan anak yang juga terinfeksi.
  • Ibu demam saat persalinan.

Gejala Infeksi Streptococcus

Masing-masing tipe Streptococcus dapat menyebabkan penyakit yang berbeda, dan tiap penyakit memiliki gejalanya masing-masing. Berikut ini merupakan gejala yang muncul berdasarkan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus tipe A:

  • Radang tenggorokan:
    • Demam.
    • Sulit menelan atau disfagia.
    • Tenggorokan kemerahan dengan bercak putih atau abu-abu.
    • Kehilangan selera makan.
    • Mual.
    • Lemas.
    • Pembengakan kelenjar getah bening.
  • Demam Scarlet:
    • Terdapat garis-garis merah di sekitar ketiak, siku, dan lutut.
    • Terdapat bercak merah, putih, atau kuning pada tenggorokan.
    • Demam.
    • Amandel membengkak.
    • Mual dan muntah.
    • Sakit kepala.
    • Kulit di sekitar bibir pucat.
    • Wajah memerah.
    • Lidah bengkak dan bergelombang.
  • Demam reumatik:
    • Demam.
    • Nyeri sendi.
    • Sendi kemerahan, membengkak, atau terasa panas.
    • Nyeri dada.
    • Terdapat benjolan kecil dan ruam pada kulit.
    • Kelelahan.
    • Penyakit katup jantung.
  • Impetigo:
    • Terdapat luka seperti lepuhan di tubuh, umumnya di area wajah.
    • Luka tersebut cepat membesar dan menyebar ke area tubuh lain, dan juga cepat pecah serta meninggalkan bekas berupa kerak berwarna coklat keemasan.
  • Glomerulonephritis:
    • Tekanan darah tinggi.
    • Pembengkakan di lengan, wajah, tungkai, dan perut.
    • Urine berwarna merah dan berbusa.

Streptococcus tipe B

Infeksi bakteri Streptococcus tipe B dapat terjadi pada orang dewasa dan bayi. Pada orang dewasa, bakteri Streptococcus tipe B dapat menimbulkan kondisi berikut:

  • Infeksi kulit dan jaringan halus
  • Infeksi paru (pneumonia)
  • Infeksi saluran kemih
  • Meningitis atau radang selaput otak
  • Sepsis

Sedangkan gejala yang muncul pada bayi dibagi dua berdasarkan waktu kemunculannya, yakni gejala dini dan gejala yang munculnya lambat (late onset). Gejala dini atau gejala yang muncul dalam waktu 24 jam setelah bayi dilahirkan, berupa:

  • Sulit menyusu.
  • Demam.
  • Gangguan kesadaran pada bayi (letargi), yang ditandai dengan bayi yang cenderung tidur terus dan sulit dibangunkan.

Gejala yang muncul lambat timbul seminggu atau satu bulan setelah dilahirkan, berupa:

  • Demam.
  • Sulit menyusu.
  • Sesak napas.
  • Letargi.
  • Rewel.
  • Mudah menangis.

Diagnosis Infeksi Streptococcus

Dalam mendiagnosis infeksi Streptococcus, langkah awal yang dilakukan dokter adalah menanyakan mengenai riwayat gejala yang timbul dan melakukan pemeriksaan fisik. Metode diagnosis dapat berbeda-beda, tergantung letak terjadinya infeksi dan kondisi pasien. Beberapa metode yang dapat digunakan di antaranya:

  • CT scan
  • Ekokardiografi
  • Ultrasonografi (USG)

Untuk membuktikan infeksi disebabkan oleh pertumbuhan bakteri Streptococcus, dapat diambil sampel cairan tubuh, tergantung dari penyakit yang ditimbulkan. Sampel tersebut dapat berupa:

  • Urine
  • Darah
  • Cairan serebrospinal

Pengobatan Infeksi Streptococcus

Dalam mengatasi infeksi Streptococcus, dokter akan memberikan antibiotik pada pasien. Jenis antibiotik dan besarnya dosis yang diberikan akan berbeda-beda tergantung kondisinya. Antibiotik yang biasa diberikan oleh dokter untuk mengatasi infeksi Streptococcus tipe A adalah:

Sefalosporin generasi ketiga, seperti ceftriaxone, dapat diberikan melalui suntikan untuk mengatasi infeksi Streptococcus tipe A yang lebih berat. Pasien yang memiliki alergi terhadap obat penisilin, dapat diberikan antibiotik erythromycin atau azithromycin sebagai pengganti. Besarnya dosis yang dibutuhkan berbeda, tergantung keparahan kondisi pasien.

Sedangkan untuk menangani infeksi Streptococcus tipe B, antibiotik yang dapat diberikan dokter adalah penisilin dan ampicillin.

Ibu hamil yang diduga terinfeksi Streptococcus tipe B akan diberikan antibiotik, terutama jika menunjukan tanda akan terjadi persalinan prematur (kurang dari 37 minggu masa kehamilan). Pemberian antibiotik untuk ibu selama masa persalinan dapat mengurangi potensi munculnya gejala dini infeksi Streptococcus tipe B pada bayi, namun tidak dapat mencegah timbulnya gejala yang munculnya lambat. Penderita infeksi Streptococcus tipe B yang memiliki riwayat alergi terhadap penisilin dapat diberikan antibiotik cefazolin, clindamycin, atau vancomycin. Dokter akan menentukan dosis yang sesuai dengan kondisi pasien.

Pencegahan Infeksi Streptococcus

Pencegahan infeksi Streptococcus berbeda-beda, tergantung usia dan tipe infeksi. Pada infeksi Streptococcus tipe A, pencegahan dapat dilakukan dengan menghindari terjadinya penularan, seperti:

  • Mencuci tangan setelah beraktivitas.
  • Tidak berbagi pakai peralatan makan, seperti sendok, piring, atau gelas.
  • Menggunakan masker, terutama penderita infeksi, saat bersin atau batuk
  • Membersihkan barang-barang yang mungkin terkontaminasi.

Sedangkan untuk mencegah infeksi Streptococcus tipe B pada bayi baru lahir, ibu hamil dianjurkan melakukan pemeriksaan rutin, agar penanganan dapat segera dilakukan apabila terdeteksi adanya infeksi. Pemeriksaan dapat dilakukan pada minggu ke-35 hingga ke-37 umur kehamilan. Pemeriksaan yang dilakukan dapat berupa prosedur usap vagina atau rektal untuk mengambil sampel cairan tubuh.

Penggunaan antibiotik selama masa persalinan bagi wanita hamil atau mereka yang memiliki risiko terinfeksi bakteri Streptococcus tipe B, dapat mencegah penyebaran infeksi Streptococcus tipe B dan mengurangi potensi terjadinya gejala dini pada bayi.

Hingga saat ini, vaksin untuk bakteri Streptococcus masih belum tersedia. Pengembangan terus dilakukan agar ke depannya vaksin tersebut dapat tersedia.