Selulitis adalah infeksi bakteri pada jaringan kulit yang dapat menyebabkan kulit terlihat kemerahan, bengkak, terasa lembek, dan sakit saat ditekan. Kondisi ini kerap menyerang kulit tungkai bawah, namun tidak menutup kemungkinan dapat menyerang bagian tubuh lainnya juga. Siapa pun bisa mengalami selulitis, termasuk anak-anak dan lansia.

Selulitis- alodokter

Selulitis adalah kondisi yang dapat membahayakan nyawa jika tidak ditangani dengan segera mengingat infeksi ini dapat menyebar melalui kelenjar getah bening dan pembuluh darah dengan menyerang jaringan di bawah kulit. Meskipun begitu, selulitis bukan penyakit kulit menular dikarenakan infeksi ini menyerang jaringan kulit dalam (jaringan subkutan atau dermis) dan bagian atas kulit (epidermis) yang tidak bersinggungan langsung dengan dunia luar.

Penyebab Selulitis

Sebagian besar kasus selulitis disebabkan oleh bakteri Streptococcus dan Staphylococcus yang masuk dari luka pada kulit, seperti luka operasi, luka gores, dan gigitan serangga, atau pada keadaan kulit iritasi dan kulit bengkak. Selulitis juga dapat timbul pada berbagai penyakit kulit, seperti tinea pedis, eksim, atau psoriasis, serta karena radioterapi.

Selain kedua bakteri utama tersebut, ada juga beberapa bakteri lain yang bisa menjadi penyebab selulitis dan hidup di lingkungan sekitar, seperti:

  • Hemophilus influenzae. Bakteri ini umumnya menyerang anak berusia 6 tahun pada bagian wajah, lengan, dan tubuh bagian atas.
  • Pasteurella multocida. Bakteri ini dapat ditularkan melalui gigitan atau cakaran anjing atau kucing, dengan waktu inkubasi 24 jam.
  • Aeromonas hydrophillia dan Vibrio vulnificus. Kedua bakteri ini dapat ditemukan di air tawar dan air laut.
  • Pseudomonas aeruginosa. Bakteri ini timbul pada luka tusuk.

Hingga saat ini, belum diketahui secara pasti pemicu utama seseorang bisa terkena selulitis. Meski demikian, terdapat beberapa faktor risiko yang perlu diperhatikan, seperti:

  • Obesitas.
  • Aliran darah yang buruk pada bagian lengan, tangan, tungkai atau kaki.
  • Sistem imun rendah, misalnya akibat menderita HIV/AIDS, sedang mengonsumsi obat-obatan immunosuppressant (penekan sistem imun), atau sedang menjalani kemoterapi.
  • Diabetes.
  • Pernah mengalami selulitis sebelumnya.
  • Menggunakan obat-obatan suntik.
  • Mengalami limfedema.   

Gejala Selulitis

Beberapa gejala selulitis yang umum dialami oleh penderitanya meliputi:

  • Kulit kemerahan yang berpotensi menyebar.
  • Pembengkakan.
  • Nyeri.
  • Demam.
  • Muncul bintik-bintik merah.
  • Kulit melepuh.
  • Kulit bernanah atau berair (muncul cairan berwarna kuning atau bening)

Segera temui dokter jika Anda mengalami gejala selulitis, khususnya jika terdapat gejala tambahan lainnya, seperti:

  • Mati rasa pada bagian yang terinfeksi.
  • Nyeri dan tanda peradangan bertambah.
  • Pusing.
  • Mengiggil.
  • Mual dan muntah.
  • Diare.
  • Berdebar-debar.
  • Sesak
  • Warna kulit di sekitarnya terlihat pucat dan terasa dingin.
  • Penurunan tingkat kesadaran.

Diagnosis Selulitis

Selulitis tidak mudah untuk didiagnosa karena memiliki gejala yang mirip dengan gejala peradangan kulit pada umumnya. Untuk memastikannya, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan juga menanyakan riwayat kesehatan pasien serta faktor yang memicu gejala muncul.

Untuk menguatkan hasil diagnosis, beberapa tes berikut ini juga akan dilakukan:

  • Tes darah. Untuk melihat apakah terdapat infeksi, yaitu dari jumlah sel darah putih.
  • Tes kultur. Dalam tes ini, sampel cairan dari luka akan diambil dan diperiksa apakah terdapat bakteri.
  • Foto Rontgen. Untuk melihat adanya fokus infeksi di bawah kulit, termasuk tulang.

Pengobatan Selulitis

Secara umum, pengobatan selulitis akan disesuaikan dengan jenis dan keparahan infeksi, serta kondisi pasien secara keseluruhan. Antibiotik oral biasanya menjadi pilihan pengobatan pertama bagi penderita selulitis, dengan jangka waktu penggunaan selama 7-14 hari.

Jika kondisi pasien tidak kunjung membaik setelah 10 hari atau gejala justru memburuk, dokter akan menyarankan pasien untuk menjalani pengobatan di rumah sakit agar antibiotik dan obat-obatan lainnya dapat diberikan melalui suntikan. Hal ini juga biasa disarankan bagi penderita yang memiliki sistem imun lemah, demam, dan hipertensi.

Dalam kasus yang jarang, dokter akan menyarankan tindakan operasi jika ditemukan nanah atau abses. Hal ini dilakukan untuk mengeluarkan nanah atau abses dari jaringan dan memotong jaringan yang mati untuk memudahkan proses penyembuhan.

Dalam masa pemulihan, beberapa pengobatan dapat dilakukan di rumah sesuai petunjuk dokter, antara lain:

  • Mengonsumsi obat pedera sakit, seperti paracetamol atau ibuprofen.
  • Meninggikan bagian tubuh yang terinfeksi dengan menggunakan alas yang lembut sebagai penopang.
  • Menggerakkan anggota tubuh yang terinfeksi secara rutin agar tidak menjadi
  • Menghindari penggunaan stoking kompresi untuk sementara waktu jika Anda merupakan penderita limfedema, sampai selulitis sembuh.
  • Mengonsumsi air putih yang cukup.

Komplikasi Selulitis

Selulitis yang tidak ditangani dapat menyebar ke bagian tubuh lainnya dan dapat menyerang bagian bawah kulit, seperti kelenjar getah bening, pembuluh darah, serta lapisan terdalam. Hal ini dapat memicu komplikasi seperti:

  • Infeksi darah.
  • Sepsis.
  • Infeksi tulang.
  • Limfadenitis.
  • Gangrene.
  • Penyebaran infeksi ke lapisan terdalam atau fascial lining (necrotizing fasciitis). Ini merupakan kegawatdaruratan medis.

Pencegahan Selulitis

Selulitis dapat dicegah dengan melakukan hal-hal berikut:

  • Selalu menjaga kebersihan kulit dan luka menggunakan sabun dan air.
  • Menutup luka dengan plester untuk menghindari infeksi.
  • Selalu memastikan bahwa luka Anda tidak memiliki tanda-tanda infeksi.
  • Menggunakan alas kaki saat berada di luar rumah.
  • Menggunakan pelembab setiap hari untuk menghindari kulit kering atau pecah-pecah.
  • Memotong kuku kaki dan tangan dengan berhati-hati untuk menghindari luka.
  • Menjaga berat badan agar terhindar dari obesitas.