Banyak orang tua yang memilih popok bayi sekali pakai karena dinilai lebih praktis dan mudah digunakan. Namun, di sisi lain, tidak sedikit orang tua yang meragukan keamanan jenis popok bayi tersebut. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui jenis popok yang aman agar bayi terhindar dari risiko ruam popok.

Penggunaan popok bayi, baik itu popok kain atau popok sekali pakai, tergantung pada kebutuhan dan pilihan masing-masing orang tua. Sebagian orang tua memilih popok kain karena lebih murah, dan sebagian lagi memilih popok sekali pakai karena lebih praktis. Ada juga orang tua yang menggunakan keduanya, tergantung kebutuhan.

Ketahui Jenis Popok Bayi yang Aman Digunakan - Alodokter

Bila Bunda memilih untuk menggunakan popok sekali pakai yang lebih praktis, Bunda perlu lebih selektif dalam memilih produk popok bayi tersebut. Hal ini dikarenakan beberapa bahan yang terdapat di dalam popok bayi sekali pakai bisa menimbulkan gangguan kesehatan pada bayi.

Cara Memilih Popok Bayi yang Aman

Saat memilih popok bayi, Bunda perlu memperhatikan bahan-bahan yang digunakan di dalamnya. Umumnya, bahan yang digunakan pada tiap lapisan popok bayi dinilai aman untuk kesehatan bayi. Meski begitu, ada juga beberapa bahan yang harus Bunda hindari karena berisiko menimbulkan gangguan kesehatan.

Untuk memilih popok bayi yang aman, perhatikan hal-hal berikut ini:

Bahan lapisan luar popok bayi

Lapisan luar biasanya dilapisi dengan plastik yang terbuat dari film polietilena atau bioplastik. Sementara itu, bagian dalam popok yang bersentuhan dengan kulit terbuat dari polipropilena. Kedua bahan tersebut dianggap aman untuk kulit bayi.

Bahan penyerap pada popok bayi

Bagian tengah popok mengandung olahan ampas kayu yang diberi pemutih dan penyerap polimer. Bahan-bahan tersebut memiliki daya serap tinggi.

Akan tetapi, beberapa popok bayi ada yang mengandung senyawa kimia dioksin atau klorin untuk memutihkan ampas kayu. Bahan kimia tersebut sempat menjadi perhatian karena dikhawatirkan dapat menyebabkan kanker.

Meski demikian, kadar senyawa dioksin yang terdapat pada popok bayi umumnya sangat rendah, sehingga dianggap aman untuk bayi.

Bagian popok yang memiliki daya serap tinggi juga biasanya mengandung bahan polimer, yaitu natrium poliakrilat. Walaupun tidak beracun dan tidak menyebabkan iritasi kulit, bahan ini bisa mengganggu pernapasan bila terhirup.

Selain itu, bahan penyerap pada popok bayi sekali pakai juga ada yang mengandung phthalate. Bunda sebaiknya tidak memilih produk popok bayi sekali pakai yang mengandung zat kimia tersebut karena berisiko menimbulkan gangguan pada kesehatan Si Kecil.

Pewarna

Zat pewarna yang digunakan pada popok sekali pakai biasanya terdapat di bagian luar yang ditandai dengan gambar karakter atau kartun. Zat pewarna juga bisa ditemukan pada bagian belakang popok bayi yang elastis.

Zat pewarna yang umumnya digunakan adalah pewarna kimia disperse blue 106, disperse blue 124, disperse yellow 3, dan disperse orange yang aman untuk bayi. Namun, zat pewarna tersebut terkadang bisa memicu reaksi alergi pada bayi, terutama bayi yang memiliki kulit sensitif.

Parfum

Popok sekali pakai ada yang mengandung bahan pewangi atau parfum. Reaksi alergi terhadap bahan pewangi jarang terjadi, namun mungkin saja dialami oleh beberapa bayi yang kulitnya sensitif terhadap parfum.

Sebagai alternatif, Bunda dapat menggunakan popok sekali pakai yang terbukti bebas klorin atau menggunakan kapas organik. Selain itu, Bunda juga bisa memilih popok sekali pakai yang bebas lateks, parfum, dan pewarna.

Namun, jika Bunda khawatir dengan popok sekali pakai yang digunakan saat ini, mungkin Bunda bisa beralih ke popok kain. Walau kurang mampu menyerap urine bayi, popok kain memiliki keunggulan, yaitu bebas pewarna dan bahan kimia lainnya.

Tips Menghindari Ruam Popok

Apa pun pilihan Bunda, baik popok sekali pakai atau popok kain, hal penting yang perlu selalu Bunda perhatikan adalah mengganti popok Si kecil secara rutin, terutama jika popoknya sudah basah atau kotor. Hal ini penting dilakukan untuk mencegah Si Kecil terkena ruam popok.

Selain itu, untuk mencegah munculnya ruam popok, Bunda juga dapat melakukan hal-hal berikut ini:

1. Bersihkan bokong dan selangkangan bayi

Saat mengganti popoknya, Bunda juga perlu membilas bagian bokong Si Kecil dengan air hangat. Selanjutnya, gunakan kapas untuk membersihkan sisa kotoran yang menempel di kulitnya secara perlahan.

Jika ingin membersihkan bokong Si Kecil dengan sabun, pilihlah sabun khusus bayi dengan kandungan bahan kimia yang lembut untuk kulit bayi, tanpa pewangi atau pewarna, serta dapat melembapkan kulit Si Kecil. Setelah itu, jangan lupa keringkan dengan handuk bersih dengan cara ditepuk-tepuk secara lembut.

2. Jangan menggunakan popok bayi yang terlalu ketat

Popok yang terlalu ketat bisa membuat bagian tubuh Si Kecil yang tertutup popok menjadi lecet dan terluka. Tak hanya itu, popok yang terlalu ketat juga bisa membuat kulitnya lebih lembap. Hal ini dapat memudahkan pertumbuhan bakteri dan jamur serta berisiko menimbulkan infeksi pada kulit Si Kecil.

3. Gunakan obat salep untuk ruam popok

Jika Si Kecil sering terkena ruam popok, Bunda dapat mengoleskan salep atau krim khusus secara teratur untuk mencegah iritasi pada kulitnya. Jangan lupa ya Bun, untuk selalu mencuci tangan sebelum dan sesudah mengganti popok Si Kecil.

4. Hindari penggunaan bedak bayi secara berlebihan

Jika rutin dibersihkan dan dikeringkan, kulit bayi akan terlihat bersih dan sehat sehingga Bunda tidak perlu lagi menggunakan bedak bayi. Selain itu, terlalu sering atau terlalu banyak menggunakan bedak bayi juga tidak baik karena berisiko terhirup oleh Si Kecil dan menyebabkan saluran pernapasannya terganggu.

Memilih popok bayi yang aman dapat menghindarkan Si Kecil dari gangguan kesehatan akibat bahan kimia tertentu. Meski begitu, popok bayi yang aman pun bisa menimbulkan masalah pada kulit, seperti ruam popok, jika penggunaannya tidak tepat.

Bila Si Kecil mengalami ruam popok yang tak kunjung membaik walau sudah diobati dengan krim atau salep untuk ruam popok, sebaiknya konsultasikan masalah tersebut ke dokter anak agar dapat diberikan penanganan yang tepat.