Tato kosmetik kini semakin populer karena bisa memperbaiki atau membantu menyempurnakan penampilan. Wanita biasanya memanfaatkan tato kosmetik untuk membentuk alis, memerahkan bibir, meronakan pipi atau menutupi kekurangan pigmentasi kulit (vitiligo).

Penggunaan tato kosmetik dapat mempersingkat waktu wanita untuk berdandan. Riasan permanen yang dapat diaplikasikan di alis, bibir, pipi, dan kulit yang kekurangan pigmentasi ini akan menetap secara permanen seperti tato biasa.

Ingin Membuat Tato Kosmetik? Pelajari Keamanannya - Alodokter

Namun, perlu Anda ketahui pula bahwa ada beberapa risiko dari penggunaan tato kosmetik.

Kelebihan Tato Kosmetik

Tato kosmetik bersifat permanen, sehingga Anda tidak perlu lagi repot memoles ulang lipstik, membentuk alis, memoleskan perona wajah, atau menutupi vitiligo menggunakan makeup. Bibir dan pipi akan selalu terlihat merona, dan alis tidak akan luntur meskipun Anda berenang.

Bagi orang yang mengalami kerontokan alis (alopecia) dan kekurangan pigmentasi kulit (vitiligo), tato kosmetik juga berguna untuk menyamarkan kondisi tersebut. Anda tak perlu lagi repot untuk menutupi kekurangan ini dengan makeup setiap kali akan bepergian.

Meski manfaat yang ditawarkan terlihat menggiurkan, jangan sembarangan membuat tato kosmetik. Anda harus melakukannya di tempat yang berlisensi, mengetahui proses pembuatannya, termasuk bahaya yang mengintai.

Proses Aplikasi Tato Kosmetik

Proses penggunaan tato bibir, pipi, dan alis umumnya sama seperti tato pada bagian tubuh lain. Tato akan diaplikasikan dengan jarum yang berisikan pigmen atau zat pewarna pada kulit atau disebut mikropigmentasi.

Sebelum tindakan tato dilakukan, sebaiknya tanyakan kepada pembuat tato tentang keamanan pigmen atau zat pewarna yang digunakan untuk menghindari reaksi alergi. Kemudian, lakukan tes alergi (tes tempel) untuk mengurangi risiko munculnya reaksi alergi setelah tato kosmetik diaplikasikan.

Jika tes alergi telah dilakukan dan dianggap aman, pembuat tato akan membuat pola pada area yang akan ditato. Area ini akan dioles dengan gel pereda rasa sakit. Selanjutnya, pigmen akan disuntikkan ke permukaan kulit menggunakan jarum getar yang steril.

Selama proses dilakukan, Anda mungkin akan merasakan perih pada area kulit yang ditato. Setelahnya pun, area kulit yang ditato akan memerah dan membengkak.

Warna pigmen tato kosmetik yang diaplikasikan ke kulit juga akan terlihat begitu pekat dan licin. Namun, tak perlu khawatir karena ini akan memudar mengikuti warna yang Anda inginkan setelah 3 minggu kemudian.

Setelah proses tato dilakukan, Anda disarankan untuk mengompres area yang ditato dengan kompres dingin atau mengoleskan salep antibiotik guna mencegah infeksi.

Pasca ditato, Anda juga perlu menghindari paparan sinar matahari selama beberapa minggu. Jadi, jika hendak bepergian di siang hari, aplikasikan tabir surya ke seluruh kulit, termasuk kulit yang ditato.

Risiko dan Bahaya Tato Kosmetik

Prosedur tato kosmetik sebenarnya relatif aman asalkan dikerjakan oleh tenaga profesional atau ahlinya. Oleh karena itu, buatlah tato kosmetik di dokter spesialis kulit atau kecantikan, atau seniman tato bersertifikasi.

Tenaga profesional ini biasanya lebih memerhatikan keamanan proses dari menato. Mereka umumnya menggunakan alat-alat steril dan pigmen warna yang aman untuk diaplikasikan ke kulit.

Meski relatif aman, Sekali lagi Anda tetap harus mempertimbangkan risiko dan bahaya dari tato kosmetik. Risiko dan bahayanya tersebut meliputi:

1. Alergi

Seperti yang telah diungkapan sebelumnya, beberapa orang rentan untuk mengalami reaksi alergi yang umumnya dipicu oleh pigmen atau zat pewarna tato.

Gelaja alergi bisa bersifat ringan atau berat. Pada gejala ringan, daerah yang ditato mungkin akan membengkak, ruam, gatal, memerah, kulit mengelupas, atau bersisik.

Pada reaksi alergi berat, gejala yang muncul dapat berupa rasa gatal yang hebat atau sensasi terbakar di sekitar tato, keluar nanah dari tato, hingga demam. Jika gejala ini dialami, segera konsultasikan ke dokter.

2. Infeksi

Infeksi kulit bisa terjadi jika Anda menato di salon kecantikan yang tidak tersertifikasi karena bisa saja salon tersebut menggunakan tinta tato yang tidak layak dipakai pada kulit, seperti tinta printer atau cat mobil. Infeksi kulit juga mungkin untuk terjadi jika ada bakteri atau virus masuk ke kulit yang terluka akibat dari proses tato.

Infeksi kulit tidak menjadi satu-satunya karena penyakit serius yang ditularkan melalui darah akibat penggunaan alat atau jarum tato yang tidak steril, seperti hepatitis C dan HIV, juga mungkin untuk terjadi. Jadi, perhatikan tinta dan kebersihan alat yang digunakan agar Anda terhindar dari penyakit-penyakit ini.

3. Jaringan kulit rusak

Risiko dari penggunaan tato kosmetik berikutnya adalah granuloma, yaitu kelainan pada jaringan tubuh akibat peradangan. Selain granuloma, Anda juga mungkin untuk mengalami keloid di sekitar area yang ditato akibat pertumbuhan jaringan bekas luka yang berlebihan.

4. Komplikasi MRI

Jika Anda menjalani pemeriksaan MRI (magnetic resonance imaging), riasan permanen dapat memengaruhi hasil pemindaian akibat interaksi antara area magnetis MRI dan kandungan oksida besi dalam pigmen tato kosmetik. Hal ini dapat menyebabkan peradangan ringan, meskipun terbilang jarang terjadi.

5. Warna kulit menjadi belang

Aplikasi riasan permanen yang kurang terencana juga berisiko mendatangkan hasil yang kurang memuaskan. Akibatnya, Anda merasa perlu menghilangkan tato tersebut dengan laser. Selain menimbulkan nyeri, penghilangan tato juga bisa membuat kulit bekas tato menjadi lebih terang (belang) atau bahkan meninggalkan bekas luka.

Risiko di atas dapat berbeda pada masing-masing orang. Jadi, jika orang lain tidak mengalami keluhan di atas setelah mengaplikasikan tato kosmetik di tubuhnya, bukan berarti Anda juga dipastikan bebas dari risiko apa pun.

Mengaplikasikan serta mengubah atau menghilangkan tato kosmetik tidak semudah yang dibayangkan dan mendatangkan risiko. Cermati dari segala sisi agar penggunaan tato benar-benar mendatangkan manfaat dan tidak menjadi penyesalan di kemudian hari.