Botak atau dalam istilah medisnya alopecia adalah kerontokan rambut yang terjadi pada kulit kepala atau seluruh tubuh. Sel rambut dibuat dari protein keratin di folikel rambut pada kulit dan dapat tumbuh di seluruh kulit manusia, kecuali telapak tangan dan telapak kaki. Siklus pertumbuhan rambut manusia memiliki 4 fase, yaitu:

  • Fase tumbuh aktif (anagen) yang berlangsung selama 2-6 tahun.
  • Fase transisi (catagen) yang berlangsung selama 2-3 minggu.
  • Fase istirahat (telogen) yang berlangsung selama 2-3 bulan.
  • Fase eksogen, ketika rambut lepas dari folikel rambut.

alodokter-botak

Rambut yang satu dengan rambut yang lain bertumbuh tidak dalam fase yang bersamaan. Bila dilihat perbandingannya dalam satu waktu, 85-90% rambut berada dalam fase anagen. Setelah fase telogen, rambut akan rontok dan folikel rambut akan memulai pertumbuhan sel rambut yang baru. Dalam keadaan normal, 50-100 helai rambut manusia bisa rontok dalam satu hari. Kebotakan terjadi saat siklus pertumbuhan   rambut terganggu akibat perubahan hormon, faktor keturunan, adanya suatu penyakit, atau pemakaian obat tertentu.

Gejala dan Penyebab Botak

Kebotakan dapat dialami oleh pria dan wanita segala usia. Gejala botak umumnya ditunjukkan dengan kehilangan rambut secara bertahap, kehilangan rambut pada daerah tertentu (pitak) dan dapat yang menyebar, kehilangan rambut tiba-tiba atau bahkan kehilangan seluruh rambut pada tubuh.

Kebotakan dapat dibagi menjadi beberapa jenis, tergantung dari gejala dan penyebabnya. Antara lain adalah:

  • Androgenic alopecia. Pada pria, awal gejala bermula pada akhir usia 20 atau awal 30 tahun. Kebotakan biasanya ditunjukkan dengan batas tumbuhnya rambut semakin mundur serta penipisan rambut di bagian tengah kepala, yang pada akhirnya menyisakan rambut di belakang dan pinggir kepala. Androgenic alopecia pada pria ini diturunkan dalam keluarga dan diduga karena kelebihan hormon pria dan folikel rambut yang terlalu sensitif. Berbeda pada pria, pola kebotakan pada wanita tidak diketahui penyebabnya, diduga karena sedikitnya hormon wanita dan biasanya hanya mengenai tengah kepala. Androgenic alopecia pada wanita lebih sering dialami setelah menopause.
  • Alopecia areata. Awal gejala dapat berupa pitak sebesar koin dan gejala dapat meluas menjadi kebotakan seluruhnya (alopecia totalis). Namun pada sebagian besar kasus, rambut dapat tumbuh kembali beberapa bulan kemudian. Rambut yang tumbuh ini awalnya berwarna putih, tetapi seiring berjalannya waktu warna rambut akan kembali normal. Alopecia areata disebabkan karena sistem imun manusia yang menyerang tubuhnya sendiri (autoimun).
  • Kebotakan karena jaringan parut (scaring alopecia). Hal ini terjadi karena perubahan kulit tempat rambut tumbuh yang menjadi jaringan parut, sehingga folikel rambut rusak dan rambut tidak akan tumbuh kembali. Kelainan kulit yang dapat menyebabkan tumbuhnya jaringan parut, antara lain skleroderma, lupus, dan lichen planus.
  • Anagen effluvium. Anagen effluvium identik dengan kebotakan akibat tindakan kemoterapi dan radioterapi. Hal lain yang dapat meneyebabkan anagen effluvium adalah malnutrisi berat, pemfigus vulgaris, paparan merkuri, boraks dan obat-obatan termasuk bismuth, levodopa, colchicine, serta cyclosporine. Penyakit seperti lupus dan sifilis juga dapat mengakibatkan anagen effluvium. Kondisi-kondisi tersebut mengakibatkan gangguan pertumbuhan sel rambut,  sehingga rambut menjadi rusak dan rontok pada fase anagen sebelum melewati siklus pertumbuhan rambut normal. Anagen effluvium mengenai rambut pada kulit kepala, wajah, dan tubuh yang berada dalam fase anagen, artinya 85-90% rambut akan rontok. Kebotakan ini hanya bersifat sementara dan rambut dapat tumbuh kembali beberapa bulan setelah kondisi yang mendasarinya diatasi.
  • Telogen effluvium. Terjadi perubahan siklus pertumbuhan rambut di mana rasio rambut yang berada dalam fase telogen sekitar 10-15 persen berubah menjadi lebih banyak, sehingga akan banyak rambut yang rontok. Telogen effluvium dapat disebabkan oleh perubahan hormonal dan stress saat kehamilan dan melahirkan, beberapa penyakit seperti infeksi, kanker, dan penyakit liver, beberapa obat-obatan seperti antikoagulan dan salbutamol, setelah menjalani operasi, serta perubahan pola makan atau diet. Biasanya, rambut dapat kembali tumbuh sendiri dalam waktu 6 bulan setelah kerontokan berhenti. Namun, telogen effluvium juga dapat diderita dalam jangka waktu tahunan.
  • Trikotilmania. Keadaan dimana seseorang memiliki kecenderungan mencabuti rambut. Oleh karena itu kebotakan yang terjadi adalah setempat, pada area di mana orang tersebut mencabuti rambutnya.
  • Traction alopecia. Kebotakan ini terjadi seringnya menarik rambut untuk menata rambut gaya tertentu. Gaya penataan rambut yang dapat menyebabkan traction alopecia adalah kuncir kuda dan cornrow. Gejala yang terlihat adalah batas rambut depan menjadi lebih tinggi dari seharusnya.

Selain hal yang disebutkan di atas, beberapa kondisi lain yang menyebabkan kebotakan adalah:

  • Tinea kapitis.
  • Konsumsi dan menghentikan pil KB.
  • Produk kosmetik seperti pewarna rambut, gel rambut, dan hairspray. 
  • Penggunaan hair dryer dan alat catok rambut, serta karet dan jepit rambut.
  • Terlalu sering keramas dan menyisir, atau menyisir saat rambut masih basah.
  • Kelebihan vitamin A.
  • Penyakit tiroid.
  • Defisiensi zat besi.
  • Konsumsi steroid anabolik untuk pembentukkan otot dan tubuh.

Diagnosis Botak

Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik, termasuk menanyakan riwayat penyakit pada pasien untuk mendiagnosis penyebab botak. Selain itu, serangkaian pemeriksaan penunjang juga diperlukan guna menguatkan diagnosis. Salah satunya adalah tes darah, seperti fungsi tiroid. Selain tes darah, kebotakan juga bisa diteliti melalui biopsi kulit kepala untuk mendeteksi adanya infeksi penyebab kebotakan dan pemeriksaan kondisi pangkal rambut dengan menggunakan mikroskop cahaya. Untuk menentukan tingkat keparahan kerontokan rambut, dokter akan melakukan pemeriksaan dengan cara menyisirkan jari pada rambut guna melihat seberapa banyak kerontokan yang terjadi.

Pengobatan Botak

Mengobati botak adalah dengan mengobati penyakit yang menyebabkan kebotakan tersebut dan sedapat mungkin menghindari zat, obat-obatan, atau pun perilaku yang dapat menyebabkan rambut rontok. Banyak kasus rambut botak yang terjadi sementara, artinya ketika penyebabnya diatasi, rambut akan tumbuh kembali dengan normal. Di sisi lain, botak merupakan salah satu proses alami tubuh terhadap bertambahnya usia, yang tidak perlu diatasi. Namun pada orang-orang tertentu, botak  dapat menjadi sesuatu yang mengganggu penampilan. Bila Anda khawatir terhadap kebotakan rambut, mengatasi kebotakan rambut sejak dini akan memberikan hasil yang memuaskan. Botak akan sulit ditangani ketika banyak rambut yang sudah rontok.

Terdapat berbagai metode penanganan kebotakan, di antaranya adalah:

  • Minoxidil. Minoxidil umumnya dibuat dalam bentuk losion yang dioleskan pada kulit kepala 2 kali sehari. Minoxidil merupakan satu-satunya obat yang disetujui untuk mengobati botak pada wanita dan pria. Obat ini berfungsi untuk menumbuhkan kembali rambut dan memperlambat kebotakan rambut. Efek samping yang dapat terjadi setelah pemakaian minoxidil adalah iritasi kulit,  takikardia, serta tumbuhnya rambut di tempat yang tidak diinginkan karena terpapar minoxidil, misalnya di wajah dan tangan.
  • Finasteride. Obat ini awalnya diberikan untuk mengatasi masalah prostat. Namun sekarang, finasteride dapat digunakan untuk androgenic alopecia pada pria. Obat ini bekerja dengan cara menghambat pembentukan hormon pria yang menyebabkan kerontokan rambut. Efek samping yang mungkin dialami setelah mengonsumsi finasteride adalah turunnya libido dan disfungsi ereksi.
  • Spirolactone. Spironolactone dapat dikonsumsi untuk menghambat hormon pria yang menyebabkan kerontokan rambut. Kendati demikian, spironolactone kadang diberikan untuk kasus kebotakan pada wanita.
  • Kortikosteroid. Obat ini menekan sistem imunitas tubuh dan digunakan untuk mengatasi alopecia areata. Kortikosteroid paling efektif diberikan dalam bentuk suntik yang langsung disuntikkan ke daerah botak, meski ada juga yang berbentuk topikal (krim atau salep) untuk dioleskan ke daerah botak. Contoh obat kortikosteroid adalah betametason, hydrocortisone, dan mometasone. Kortikosteroid suntik dapat menumbuhkan rambut kembali dalam waktu 1 bulan, sedangkan kortikosteroid topikal biasanya baru terasa khasiatnya setelah 3 bulan pemakaian. Efek samping yang mungkin timbul karena pemakaian kortikoseteroid, baik suntikan maupun oles, adalah penenipisan kulit. Selain kortikosteroid, obat diphencyprone (DPCP) atau dithranol juga dapat diberikan untuk mengatasi alopecia areata.
  • Sisir laser. Sisir akan memancarkan sinar laser yang dipercaya akan merangsang pertumbuhan rambut. Namun efektivitas sisir laser ini masih dipertanyakan.
  • Operasi. Operasi dilakukan bila obat-obatan tidak efektif mengatasi kebotakan. Operasi yang dapat dilakukan ada 3 jenis, yaitu cangkok rambut, scalp reduction, dan tanam rambut. Pada cangkok rambut, kulit kepala yang memiliki pertumbuhan rambut yang baik, akan dipindahkan ke bagian yang mengalami kebotakan. Untuk scalp reduction, kulit kepala yang botak akan dibuang dan kulit kepala yang memiliki rambut akan didempetkan. Tindakan scalp reduction juga dapat digabung dengan cangkok rambut. Tanam rambut sebenarnya belum dianjurkan karena dapat mengakibatkan komplikasi infeksi dan timbul jaringan parut yang serius, namun tindakan tanam rambut masih banyak dilakukan oleh klinik-klinik tertentu. Tindakannya adalah dengan menanam rambut sintetis pada kulit kepala yang mengalami kebotakan. Selain merupakan komplikasi dari tanam rambut, infeksi dan timbulnya jaringan parut juga dapat muncul pada tindakan cangkok rambut dan scalp reduction.

Terdapat alternatif yang dapat Anda lakukan untuk menutupi kebotakan, yaitu dengan tato dan memakai rambut palsu.

Pencegahan Botak

Beberapa orang memiliki faktor genetik atau keturunan untuk mengalami rambut botak, dan ini proses natural yang tidak dapat dilawan. Namun, Anda dapat melindungi rambut dari kerusakan yang dapat mengakibatkan rambut rontok. Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mencegah kerusakan rambut, antara lain:

  • Tidak melakukan pewarnaan rambut dan meluruskan atau keriting rambut, biarkan rambut tumbuh alami sesuai warna dan bentuk aslinya.
  • Pilihlah produk perawatan rambut dengan bijak, yaitu dengan menggunakan sampo yang sesuai dengan jenis rambut Anda.
  • Hindari menyisir rambut saat rambut masih basah, terutama dengan sisir sikat atau sisir bergigi rapat.
  • Gunakan sisir dengan gigi yang tidak terlalu rapat.
  • Hindari mengikat rambut terlalu ketat.
  • Hindari tindakan memutar-mutar rambut.
  • Makan makanan dengan gizi seimbang.
  • Hindari pemakaian alat catok rambut, baik untuk meluruskan ataupun membuat jadi ikal.

Bila Anda sedang mengonsumsi obat-obatan yang membuat rambut Anda menjadi rontok, konsultasikan kepada dokter, jangan langsung menghentikan obat tersebut. Menghentikan pengobatan secara tiba-tiba dapat menyebabkan efek samping yang serius.