Alopecia areata adalah kerontokan rambut yang disebabkan oleh serangan sistem imunitas tubuh sendiri (autoimun) terhadap folikel Kondisi ini umumnya terjadi pada kulit kepala, meski dapat juga terjadi pada bagian tubuh lain yang ditumbuhi rambut, seperti alis, kumis, dan bulu mata. Selain kebotakan berpola bulat, alopecia areata juga dapat menimbulkan kebotakan menyeluruh.

alopecia areata

Alopecia areata bisa diderita oleh siapa pun, baik laki-laki atau perempuan, dalam segala usia. Namun umumnya kondisi ini lebih banyak dialami oleh orang-orang berusia 20 tahun ke bawah. Alopecia areata merupakan penyakit autoimun di mana sistem imunitas tubuh yang bertugas melindungi tubuh dari serangan virus atau bakteri justru melakukan kesalahan dengan menyerang tubuh sendiri. Dalam kasus ini, yang diserang adalah folikel rambut. Akibatnya, folikel rambut yang merupakan tempat tumbuhnya rambut menjadi mengecil lalu berhenti memproduksi rambut sehingga terjadi kebotakan.

Gejala Alopecia Areata

Gejala utama yang ditunjukkan alopecia areata adalah kebotakan berpola bulat. Kebotakan ini dapat terjadi di satu atau beberapa tempat yang tadinya ditumbuhi rambut. Terkadang, rambut baru muncul di pinggir area yang botak. Namun batang rambut tersebut lebih tipis di bagian pangkalnya, sehingga tampak seperti tanda seru. Pada beberapa penderita alopecia areata, kebotakan dapat meluas hingga menyeluruh di kulit kepala (alopecia totalis). Meski jarang terjadi, kebotakan juga dapat terjadi di seluruh tubuh sehingga tidak menyisakan satu helai rambut pun (alopecia universalis). Terkadang, rambut dapat tumbuh kembali setelah beberapa bulan, namun dengan tekstur yang lebih tipis dan berwarna putih, berbeda dengan rambut sebelumnya. Kendati demikian, pada sekitar 10 persen penderita alopecia areata, kebotakan bersifat permanen dan rambut tidak akan tumbuh kembali,

Selain pada kulit kepala dan bagian tubuh lain yang ditumbuhi rambut, alopecia areata juga dapat ditandai dengan gangguan pada kuku jari tangan dan jari kaki, berupa kuku berlekuk dan memiliki garis putih dengan permukaan yang tipis dan kasar. Terkadang kuku dapat berubah bentuk atau terbelah, meski hal ini sangat jarang terjadi.

Penyebab dan Faktor Risiko Alopecia Areata

Penyebab kelainan autoimun pada kasus alopecia areata tidak diketahui penyebabnya, namun diduga dipicu oleh infeksi virus, trauma, perubahan hormon, serta tekanan fisik atau psikis. Penderita alopecia areata juga banyak ditemukan pada orang-orang yang menderita penyakit autoimun lainnya, seperti diabetes tipe 1 atau rheumatoid arthritis.

Diagnosis Alopecia Areata

Alopecia areata dapat terdiagnosis oleh dokter melalui pemeriksaan kondisi rambut, terutama kerontokan yang terjadi. Guna menguatkan diagnosis, pemeriksaan penunjang dapat dilakukan melalui analisis sampel kulit kepala dengan menggunakan mikroskop. Pemeriksaan ini bertujuan untuk memastikan penyebab kerontokan rambut. Jika terdapat kecurigaan kuat bahwa penderita mengalami penyakit autoimun, maka dokter dapat menganjurkan tes darah untuk memeriksa antibodi yang tidak normal, seperti antinuclear antibody (ANA). Tes darah lain juga dapat membantu dokter untuk  mengetahui penyebab kebotakan lainnya, seperti kadar C-reactive protein, zat besi,  hormon tiroid, testosteron, follicle stimulating hormone (FSH), dan luteinizing hormone (LH).

Pengobatan Alopecia Areata

Tidak ada pengobatan yang dapat menyembuhkan alopecia areata, dan terkadang rambut dapat tumbuh kembali dengan sendirinya. Kendati demikian, obat-obatan tertentu dapat digunakan untuk merangsang pertumbuhan rambut kembali secara lebih cepat. Obat-obatan yang dapat diberikan, antara lain adalah:

  • Minoxidil. Obat topikal ini dapat merangsang pertumbuhan rambut kembali dengan cara dioleskan pada kulit kepala, janggut atau area yang botak dua kali sehari. Pertumbuhan rambut baru dapat dilihat tiga bulan setelah pemakaian obat ini.
  • Kortikosteroid. Kortikosteroid akan menekan sistem kekebalan tubuh dan tersedia dalam bentuk obat suntik, oles, dan minum. Suntikan kortikosteroid diberikan pada kulit yang mengalami kebotakan setiap 3-6 minggu. Rambut baru akan tumbuh sekitar satu bulan setelah suntikan terakhir. Pemberian suntikan kortikosteroid dianggap lebih efektif dibanding penggunaan kortikosteroid topikal. Pemberian kortikosteroid topikal mungkin tepat diberikan untuk anak-anak, yang biasanya takut dengan jarum suntik. Sedangkan konsumsi pil kortikosteroid ditujukan untuk penderita dengan area kebotakan yang luas dan banyak. Namun konsumsi kortikosteroid jangka panjang berisiko menimbulkan efek samping serius.
  • Anthralin. Sama seperti kortikosteroid, obat ini akan memengaruhi sistem imunitas pada kulit. Setelah dioleskan dan didiamkan selama maksimal satu jam, anthralin harus dicuci sampai bersih agar kulit tidak mengalami iritasi.
  • Diphencyprone (DPCP). Obat ini digunakan dengan dioleskan pada daerah yang mengalami alopecia areata dan akan mengakibatkan reaksi alergi seperti kemerahan, bengkak, dan gatal pada daerah yang mengalami kebotakan. Munculnya reaksi alergi adalah efek yang diharapkan dari pemakaian obat ini, dan ditujukan untuk mengalihkan sistem pertahanan tubuh agar melawan peradangan akibat alergi, alih-alih menyerang folikel rambut.

Walaupun tidak berbahaya, tetapi terkadang alopecia areata dapat mengakibatkan ketidaknyamanan pada kulit yang mengalami kebotakan. Mengoleskan krim tabir surya dan menggunakan rambut palsu atau topi dapat melindungi kulit kepala yang mengalami kebotakan dari sinar matahari. Penggunaan kacamata dan bulu mata palsu juga dianjurkan bagi pasien yang mengalami alopecia areata pada bulu mata, hal ini untuk melindungi mata dari debu.

Komplikasi Alopecia Areata

Alopecia areata bukan penyakit yang dapat mengakibatkan kondisi serius. Alopecia areata juga tidak dapat ditularkan kepada orang lain dan rambut yang botakpun dapat tumbuh kembali dengan sendirinya dalam beberapa bulan. Namun pada sekitar 10% penderita, kebotakan yang terjadi bersifat permanen.

Penderita alopecia areata memiliki risiko yang lebih besar untuk menderita atau memiliki keluarga dengan penyakit asma, alergi, dan penyakit autoimun lain, seperti penyakit tiroid dan vitiligo.

Beberapa penderita alopecia areata dapat terganggu secara emosional, karena menganggap mengalami kebotakan membuat dirinya tidak menarik. Keadaan ini dapat berujung kepada depresi. Dukungan dari orang terdekat penting untuk membantu penderita beradaptasi terhadap kondisi ini.