Struktur tulang yang membentuk kepala pada kerangka manusia dikenal dengan nama tulang tengkorak. Secara umum, tulang tengkorak terdiri dari 2 bagian, yaitu tulang tengkorak bagian kepala (tempurung) dan tulang tengkorak bagian wajah. Keberadaan tulang tengkorak ini berperan penting dalam melindungi otak dan mendukung terbentuknya struktur wajah.

Tulang tengkorak tersusun dari beberapa bagian tulang, yaitu tulang rahang atas dan bawah, tulang zigoma, tulang dahi, tulang parietal, tulang temporal (pelipis), tulang oksipital (belakang kepala), tulang sphenoid, dan tulang ethmoid. Kesemua bagian tulang tengkorak ini disatukan oleh sebuah jaringan ikat selayaknya jahitan yang tebal. Biasanya, jahitan ini tidak menyatu dengan erat hingga Anda dewasa. Hal ini bertujuan agar otak Anda dapat terus tumbuh dari masa kanak-kanak hingga remaja.

Cedera Tulang Tengkorak Bisa Berakibat Fatal - Alodokter

Jenis Kerusakan pada Tulang Tengkorak

Meski tulang tengkorak didesain dengan sangat kuat, namun tetap saja berpotensi untuk bisa mengalami cedera. Cedera atau trauma pada tulang tengkorak ini biasanya dapat menimbulkan keretakan. Dikarenakan struktur tulang tengkorak sangat kuat, maka dibutuhkan benturan yang keras untuk bisa membuatnya retak.

Biasanya, tulang tengkorak mengalami kerusakan ketika mengalami kecelakaan kendaraan bermotor atau terjatuh dari ketinggian. Hal lain yang juga bisa menjadi penyebab terjadinya kerusakan tulang tengkorak adalah pukulan langsung ke kepala.

Berikut adalah beberapa jenis kerusakan atau patah (fraktur) pada tulang tengkorak:

  • Fraktur tertutup
    Fraktur tertutup biasanya terjadi ketika tulang mengalami keretakan, namun tidak membuat kulit penutup tulang robek atau mengalami luka terbuka.
  • Fraktur terbuka
    Berbeda dengan fraktur tertutup, kondisi cedera tulang tengkorak ini diikuti oleh rusaknya kulit di tempat terjadinya retakan. Kondisi ini dikenal dengan fraktur terbuka, dikarenakan tulang yang mengalami kerusakan terlihat atau muncul dari robekan kulit.
  • Fraktur dasar tengkorak atau basis cranii
    Kerusakan jenis ini terjadi di daerah dasar tulang tengkorak. Area ini mencakup daerah tulang di sekitar mata, telinga, hidung, atau tengkorak bagian belakang yang berdekatan dengan tulang belakang. Jenis cedera tulang tengkorak ini sering diikuti robekan selaput otak, dan merupakan salah satu jenis cedera tulang tengkorak yang paling fatal.
  • Fraktur depresi (patah tulang tengkorak cekung)
    Dinamakan fraktur depresi, karena terdapat bagian patahan tulang yang terdorong ke dalam rongga otak, membentuk cekungan.

Penanganan Kerusakan pada Tulang Tengkorak

Dalam menangani kerusakan tulang tengkorak, penentuan jenis kerusakan di atas menjadi sangat krusial. Selain jenis kerusakan yang terjadi, penanganan juga akan ditentukan berdasarkan seberapa parah kerusakan yang dialami dan keadaan pasca terjadinya kerusakan. Untuk mengantisipasi adanya komplikasi, perlu dilakukan observasi medis di rumah sakit pada kasus cedera tulang tengkorak.

Waktu yang diperlukan untuk kembali pulih, bisa sampai berbulan-bulan. Hal ini juga bergantung pada usia penderita. Makin muda usia seseorang yang mengalami kerusakan tulang, maka semakin cepat pula proses penyembuhan pada tulang tengkorak.

Faktor lain yang turut memengaruhi pemulihan cedera tulang tengkorak yakni bagian tengkorak yang mengalami patah, luas patahan tulang tengkorak, dan apakah terdapat cedera otak atau kerusakan saraf otak setelah tulang tengkorak cedera.

Ketika keretakan tulang tengkorak disertai dengan luka terbuka pada kulit, maka luka tersebut perlu dibersihkan terlebih dulu. Hal ini untuk mencegah terjadinya infeksi pada kulit yang terluka. Selain itu, dokter akan memberikan obat untuk meredakan gejala yang muncul, seperti nyeri dan mual.

Prosedur operasi mungkin juga dibutuhkan jika kerusakan pada tulang tengkorak menyebabkan adanya bagian tulang yang berpindah tempat atau pecah, atau jika terdapat bocornya cairan otak.

Cedera pada tulang tengkorak tentu saja bisa berimplikasi serius terhadap kehidupan penderita. Oleh karena itu, jangan lupa untuk meminimalkan risiko yang ada dengan cara melindungi kepala menggunakan helm saat menjalani aktivitas yang berpotensi menimbulkan cedera pada kepala.