Ciri-ciri anxiety pada remaja umumnya terlihat dari perubahan perilaku, emosi, dan kondisi fisik. Masalah ini bisa memengaruhi kehidupan remaja di sekolah, di rumah, dan dalam pergaulan. Oleh karena itu, penting untuk mengenali tanda anxiety sejak awal agar tidak berdampak buruk pada perkembangan remaja.
Remaja memang sering merasa cemas atau khawatir, apalagi saat menghadapi tekanan belajar, pertemanan, atau perubahan tubuh. Namun, anxiety bukan hanya rasa gugup biasa. Jika tidak ditangani, kecemasan ini bisa mengganggu aktivitas sehari-hari dan tumbuh kembang remaja.

Walau sering dianggap hal yang wajar, ciri-ciri anxiety pada remaja tetap perlu perhatian khusus. Kecemasan berlebihan bisa menurunkan prestasi sekolah, mengurangi rasa percaya diri, dan meningkatkan risiko masalah kesehatan mental lain, seperti depresi atau gangguan makan.
Mengenal Ciri-Ciri Anxiety pada Remaja
Berikut ini adalah ciri-ciri anxiety pada remaja yang perlu dicermati oleh orang tua, guru, maupun remaja sendiri:
1. Perubahan emosi yang drastis
Perubahan emosi yang drastis merupakan salah satu ciri utama anxiety pada remaja. Kondisi ini sering membuat remaja tampak lebih mudah marah, tersinggung, atau tiba-tiba menangis tanpa alasan yang jelas. Mereka bisa saja terlihat sangat murung atau kehilangan minat pada hal-hal yang biasanya disukai.
Kadang, perubahan suasana hati ini terjadi secara mendadak dan sulit diprediksi, sehingga membuat orang tua atau teman dekat merasa bingung.
Selain itu, perubahan emosi ini dapat memengaruhi hubungan remaja dengan orang lain, baik di rumah maupun di lingkungan sekolah. Mereka mungkin menjadi lebih tertutup, mudah kesal saat diajak bicara, atau menarik diri dari aktivitas sosial.
2. Perubahan pola tidur
Perubahan pola tidur adalah salah satu ciri-ciri anxiety pada remaja yang mudah dikenali. Remaja bisa saja kesulitan tidur di malam hari, sering terbangun, atau merasa gelisah sehingga tidurnya tidak nyenyak. Sebaliknya, ada juga remaja yang justru tidur berlebihan dan sulit bangun pagi.
Gangguan tidur ini biasanya membuat remaja merasa lelah, lemas, atau kurang semangat menjalani aktivitas sehari-hari. Jika masalah tidur terus terjadi, prestasi di sekolah dan kesehatan tubuh bisa ikut terganggu. Oleh karena itu, penting untuk memperhatikan pola tidur remaja sebagai salah satu cara mendeteksi adanya gejala anxiety.
3. Sulit berkonsentrasi
Sulit berkonsentrasi sering dialami remaja yang mengalami anxiety. Mereka mungkin tampak sering melamun, sulit fokus saat belajar, atau tidak mampu mengikuti pelajaran di kelas dengan baik.
Pikiran yang dipenuhi oleh rasa cemas atau kekhawatiran membuat remaja kesulitan memusatkan perhatian pada tugas-tugas yang ada di depan mereka, sehingga performa di sekolah pun bisa menurun. Kondisi ini juga dapat menyebabkan remaja menjadi sering lupa dan kehilangan motivasi.
4. Menghindari situasi sosial
Menghindari situasi sosial juga termasuk ciri-ciri anxiety pada remaja. Remaja yang mengalami kecemasan biasanya lebih suka menyendiri, tidak mau ikut kegiatan sekolah, atau enggan bertemu dengan teman dan keluarga.
Mereka juga bisa merasa takut atau gugup saat harus berbicara di depan orang banyak atau berkenalan dengan orang baru. Kebiasaan ini bukan karena mereka tidak suka bersosialisasi, tetapi karena merasa cemas atau takut salah di depan orang lain.
5. Keluhan fisik tanpa sebab medis yang jelas
Anxiety pada remaja juga bisa menyebabkan keluhan fisik, seperti sering mengeluh sakit kepala, sakit perut, mual, atau jantung berdebar. Padahal, dokter tidak menemukan penyakit apa pun dan hasil pemeriksaan medis normal.
Keluhan ini terjadi karena rasa cemas bisa memengaruhi tubuh, bukan hanya pikiran. Akibatnya, remaja jadi semakin khawatir dan mengira dirinya sakit. Jika keluhan fisik seperti ini sering muncul tanpa sebab yang jelas, bisa jadi itu tanda anxiety dan sebaiknya segera ditangani.
6. Penurunan prestasi akademik
Penting bagi orang tua dan guru untuk memahami bahwa penurunan prestasi akademik bisa jadi merupakan tanda anxiety pada remaja, bukan hanya masalah malas belajar. Remaja yang mengalami kecemasan biasanya sulit fokus saat belajar, sering lupa materi pelajaran, atau merasa malas mengerjakan tugas sekolah.
Akibatnya, nilai sekolah bisa turun dan remaja kesulitan mengikuti pelajaran yang sebelumnya mampu mereka kerjakan. Jika kondisi ini dibiarkan, remaja bisa kehilangan motivasi untuk belajar dan merasa rendah diri. Rasa cemas yang terus-menerus juga dapat membuat remaja semakin takut gagal, sehingga makin sulit untuk bangkit.
7. Perilaku kompulsif atau berulang
Perilaku kompulsif atau berulang juga merupakan ciri-ciri anxiety pada remaja yang penting diperhatikan. Remaja dengan kecemasan sering melakukan kebiasaan tertentu secara terus-menerus, seperti menggigit kuku, menarik rambut, menggaruk kulit, atau menggoyangkan kaki. Perilaku ini biasanya dilakukan tanpa sadar saat mereka merasa gelisah, cemas, atau stres.
Kebiasaan berulang ini bisa menjadi cara remaja untuk menenangkan dirinya sendiri ketika menghadapi tekanan. Namun, jika dibiarkan, perilaku ini bisa mengganggu aktivitas sehari-hari atau bahkan membahayakan diri, seperti kulit menjadi luka atau rambut menipis.
Cara Membantu Remaja dengan Anxiety
Dukungan emosional sangat penting untuk membantu remaja melalui masa-masa sulit akibat anxiety. Berikut ini adalah langkah-langkah yang bisa dilakukan:
- Dengarkan keluhannya tanpa menghakimi.
- Berikan ruang bagi remaja untuk bercerita dan tunjukkan empati terhadap perasaannya.
- Berikan dorongan untuk melakukan aktivitas yang kreatif.
- Ajarkan teknik relaksasi yang tepat untuk menenangkan pikiran, seperti latihan pernapasan, meditasi, terapi musik, atau yoga.
- Bantu membangun rutinitas sehat, seperti mengatur waktu belajar, tidur, dan rekreasi agar aktivitas sehari-hari menjadi lebih seimbang.
- Konsultasi dengan psikolog anak dan remaja, jika anxiety pada remaja sudah mengganggu aktivitas harian.
Risiko utama dari anxiety yang tidak ditangani adalah dampak jangka panjang pada kesehatan mental dan kualitas hidup remaja. Remaja dengan anxiety juga lebih berisiko mengalami depresi, kecanduan zat berbahaya, hingga gangguan makan.
Mendukung remaja secara terbuka dan penuh pengertian dapat membuat mereka merasa lebih aman serta nyaman untuk berbagi masalah. Oleh karena itu, jangan ragu untuk mencari bantuan ahli, jika ciri-ciri anxiety pada remaja terlihat dengan jelas pada anggota keluarga.
Konsultasi awal dengan psikolog atau konselor bisa dilakukan secara daring, seperti melalui layanan Chat Bersama Dokter di aplikasi ALODOKTER.