Enuresis atau mengompol adalah ketidakmampuan dalam mengendalikan keluarnya urine sehingga urine keluar tanpa disengaja. Kondisi ini umumnya dialami anak-anak usia di bawah 7 tahun. Meski begitu, enuresis juga dapat terjadi pada orang dewasa.

Enuresis juga sering disebut sebagai inkontinensia urine. Berdasarkan jenisnya, enuresis terbagi menjadi dua, yaitu enuresis primer dan sekunder.

Enuresis - Alodokter

Enuresis primer terjadi sejak bayi. Enuresis ini berlangsung terus-menerus, setiap hari, dan hampir tanpa jeda. Sementara, enuresis sekunder adalah enuresis yang kambuh 6 bulan atau beberapa tahun setelah penderita mampu mengendalikan kandung kemihnya.

Penyebab Enuresis

Kandung kemih berfungsi untuk mengumpulkan urine yang dihasilkan ginjal. Kandung kemih akan membesar seiring bertambahnya urine yang masuk dan mengecil untuk mendorong urine keluar saat seseorang berkemih.

Normalnya, saraf di dinding kandung kemih akan mengirim sinyal ke otak jika kandung kemih sudah penuh. Selanjutnya, otak akan mengirim pesan ke kandung kemih untuk menahan urine keluar, sampai orang siap berkemih di kamar mandi.

Pada kondisi enuresis, terjadi gangguan dalam proses pengiriman sinyal tersebut. Hal inilah yang menyebabkan seseorang mengompol.

Berdasarkan usia penderita, enuresis dapat terbagi dalam dua jenis, yaitu:

Enuresis pada anak-anak

Anak-anak umumnya mulai mampu mengendalikan keinginan berkemih di usia 4 tahun. Awalnya, anak bisa mengendalikan keinginan berkemih di siang hari, kemudian mampu mengendalikan menahan keinginan berkemih di malam hari. Meski demikian, usia anak sampai dapat mengendalikan kandung kemih dapat berbeda-beda.

Enuresis pada anak usia 2–7 tahun normal terjadi. Kondisi ini biasanya disebabkan oleh beberapa faktor berikut:

  • Ketidakmampuan anak untuk menahan urine sepanjang malam
  • Ukuran kandung kemih yang masih kecil
  • Tidak terbangun dari tidur saat kandung kemih telah penuh di malam hari
  • Perkembangan saraf kandung kemih yang belum sempurna
  • Produksi urine yang lebih banyak di sore dan malam hari
  • Kebiasaan anak untuk menahan keinginan buang air kecil

Di samping itu, enuresis pada anak juga dapat terjadi akibat adanya kondisi fisik atau psikologis yang sedang dialami. Kondisi medis ini tergantung pada jenis enuresis yang diderita, yaitu:

1. Penyebab enuresis primer:

  • Gangguan hormon antidiuretik (ADH), yaitu hormon yang berfungsi untuk menurunkan produksi urine
  • Kelainan struktur saluran kemih, seperti kelainan katup lubang saluran kemih bagian luar (uretra) atau saluran ureter yang lebih dari dua (ectopic ureter)
  • Kelainan pada saraf otak, seperti cerebral palsy

2. Penyebab enuresis sekunder:

  • Gangguan enuresis yang diturunkan dari orang tua
  • Sleep apnea
  • Tidur yang terlalu nyenyak
  • Diabetes
  • Infeksi saluran kemih
  • Sembelit atau konstipasi
  • Cedera saraf tulang belakang, misalnya akibat berolahraga atau kecelakaan
  • Stres berat, salah satunya akibat belajar berkemih di toilet (toilet training) yang dipaksakan atau dimulai di usia yang terlalu dini

Enuresis pada orang dewasa

Tergantung pada jenis enuresis yang diderita, ada beberapa kondisi yang bisa menjadi penyebab enuresis pada orang dewasa, yaitu:

1. Penyebab enuresis primer

  • Gangguan hormon antidiuretik (ADH) sehingga ginjal menghasilkan lebih banyak urine
  • Penyumbatan pada uretra
  • Ukuran kandung kemih yang terlalu kecil sehingga tidak mampu menampung urine
  • Otot kandung kemih yang terlalu tegang sehingga mendorong urine keluar dari kandung kemih (overactive bladder)

2. Penyebab enuresis sekunder

  • Penggunaan obat-obatan, antara lain obat tidur atau antipsikotik (seperti clozapine atau risperidone)
  • Terlalu banyak minum, terutama minuman yang mengandung kafein
  • Konstipasi
  • Diabetes melitus
  • Penonjolan organ panggul yang menekan kandung kemih
  • Infeksi saluran kemih
  • Batu kandung kemih
  • Pembesaran prostat
  • Kanker kandung kemih atau prostat
  • Infeksi cacing kremi
  • Kejang
  • Multiple sclerosis
  • Penyakit Parkinson
  • Stres

Faktor risiko enuresis

Enuresis dapat terjadi pada siapa saja, tetapi ada beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko terjadinya enuresis, yaitu:

  • Mengalami stres atau gangguan kecemasan
  • Memiliki anggota keluarga yang pernah atau sedang mengalami enuresis
  • Menderita ADHD

Gejala Enuresis

Pada sebagian besar anak-anak, kemampuannya untuk mengendalikan kandung kemih akan muncul di usia 5 tahun. Hanya beberapa anak yang masih mengompol di usia 5–7 tahun, dan lebih sedikit lagi anak usia di atas 7 tahun yang masih mengompol.

Gejala yang umum muncul pada enuresis adalah mengompol berulang kali, setidaknya dua kali seminggu selama sekitar 3 bulan, disertai pakaian yang sering kali basah.

Selain itu, ada gejala lain yang dapat menyertai enuresis, antara lain:

  • Urine menetes
  • Lebih sering buang air kecil
  • Nyeri perut bagian bawah
  • Nyeri saat buang air kecil
  • Sembelit

Enuresis dapat terjadi di malam hari (enuresis nokturnal) atau siang hari (enuresis diurnal). Penderita enuresis biasanya hanya mengompol saat tidur di malam hari. Namun, beberapa penderita juga bisa mengompol di siang hari, atau di kedua waktu tersebut.

Kapan harus ke dokter

Meski umumnya tidak memerlukan penanganan medis, mengompol bisa menandakan adanya kondisi lain yang lebih serius. Oleh sebab itu, lakukan pemeriksaan ke dokter jika enuresis:

  • Terjadi di siang hari
  • Diikuti nyeri saat urine keluar
  • Terjadi setelah usia 7 tahun atau setelah beberapa bulan tidak mengompol
  • Disertai keluhan lain, seperti mendengkur, rasa haus yang berlebihan, tinja menjadi keras, dan warna urine kemerahan

Diagnosis Enuresis

Seperti telah dijelaskan di atas, kemampuan anak dalam mengendalikan kandung kemih umumnya muncul setelah usia 5 tahun. Oleh sebab itu, diagnosis enuresis baru dilakukan setelah anak perempuan berusia 5 tahun dan anak laki-laki berusia 6 tahun.

Diagnosis diawali dengan tanya jawab terkait gejala yang dialami, gaya hidup, dan riwayat kesehatan. Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik menyeluruh, guna mendeteksi kondisi lain yang mungkin menyebabkan enuresis.

Untuk memastikan diagnosis, dokter juga dapat melakukan pemeriksaan penunjang, seperti:

  • Tes urine (urinalisis), untuk memeriksa apakah enuresis disebabkan oleh infeksi, diabetes, atau efek samping obat
  • Pemindaian dengan foto Rontgen, USG, atau MRI, untuk melihat kondisi ginjal, kandung kemih, dan struktur saluran urine

Pengobatan Enuresis

Pada sebagian besar kasus, penderita enuresis sembuh dengan sendirinya. Namun, untuk mengurangi frekuensi mengompol, dokter akan menyarankan perubahan pola hidup, yaitu dengan:

  • Membatasi asupan cairan di malam hari
  • Mendorong anak untuk lebih sering berkemih, setidaknya tiap 2 jam, terutama saat sebelum tidur atau jika terbangun dari tidur
  • Menghindari konsumsi makanan atau minuman berkafein

Jika langkah mandiri di atas belum dapat meredakan enuresis, dokter akan melakukan terapi untuk mengubah perilaku pasien. Terapi tingkah laku ini dilakukan dengan:

  • Menggunakan sistem alarm yang dapat berbunyi saat anak mengompol
    Terapi ini bertujuan meningkatkan respons tubuh bila kandung kemih penuh, terutama di malam hari. Terapi ini cukup efektif dalam mengurangi frekuensi mengompol.
  • Melatih kandung kemih (bladder training)
    Dalam teknik ini, anak dijadwalkan berkemih di kamar mandi dengan jeda waktu yang makin lama akan makin ditingkatkan. Tujuannya adalah untuk membantu meregangkan ukuran kandung kemih, serta agar anak terbiasa menahan buang air kecil untuk jangka waktu lebih lama.
  • Memberikan imbalan
    Dokter dapat menyarankan orang tua untuk memberikan imbalan pada anak setiap kali anak berhasil mengendalikan kandung kemih dan tidak mengompol.
  • Membayangkan citra positif
    Pasien akan diajarkan untuk membayangkan atau memikirkan dirinya akan terbangun dalam keadaan kering dan tidak mengompol. Teknik ini dapat membantu untuk berhenti mengompol.

Jika upaya tersebut belum dapat memperbaiki gangguan enuresis, maka dokter akan memberikan obat-obatan, seperti:

  • Obat untuk menurunkan produksi urine pada malam hari, seperti desmopressin, Obat ini diberikan secara oral dan hanya diperuntukkan bagi anak di atas usia 5 tahun. Namun, obat ini tidak dianjurkan pada anak yang juga mengalami diare, demam, atau mual.
  • Obat pelemas otot kandung kemih, untuk diberikan pada anak yang memiliki kandung kemih kecil. Obat ini berfungsi mengurangi kontraksi dinding kandung kemih dan memperbesar kapasitasnya. Contoh obat jenis ini adalah oxybutynin.

Perlu diketahui, meski obat di atas dapat meredakan gangguan mengompol, gangguan ini dapat kambuh kembali saat konsumsi obat sudah dihentikan. Di sisi lain, pertimbangan risiko efek samping juga perlu diperhatikan sebelum memberikan obat-obatan tersebut pada anak.

Pemberian obat di atas juga bisa dikombinasikan dengan terapi tingkah laku. Pada beberapa kasus, kombinasi dua metode tersebut terbukti efektif dalam mengatasi enuresis.

Sebagian besar penderita enuresis dapat terbebas dari gangguan mengompol seiring dengan bertambahnya usia. Hanya sedikit kasus enuresis yang bertahan hingga usia dewasa.

Jika enuresis disebabkan oleh sleep apnea atau konstipasi, dokter akan mengatasi kondisi tersebut terlebih dahulu sebelum menangani enuresis. Sedangkan, jika enuresis disebabkan oleh kelainan pada struktur saluran kemih, dokter akan melakukan tindakan bedah.

Komplikasi Enuresis

Enuresis umumnya tidak menimbulkan komplikasi berat pada penderitanya. Komplikasi yang biasanya timbul berupa:

  • Masalah psikologi, yaitu munculnya rasa malu dan bersalah yang menurunkan rasa kepercayaan diri
  • Kehilangan kesempatan untuk melakukan aktivitas bersama orang lain, seperti menginap di rumah teman atau berkemah
  • Kemunculan ruam di bagian dubur atau kelamin

Pencegahan Enuresis

Tidak semua kasus enuresis dapat dicegah, terutama jika enuresis disebabkan oleh kelainan struktur saluran kemih. Pada kondisi tersebut, hal terbaik yang dapat dilakukan adalah melakukan pemeriksaan ke dokter segera setelah gejala muncul agar penyebab enuresis dapat segera ditangani.

Selain itu, peran orang tua juga sangat penting dalam mengajarkan anak berkemih. Orang tua disarankan untuk bersikap positif dan bersabar dalam mengajarkan anak. Hal ini guna mencegah timbulnya perilaku negatif yang mungkin muncul pada anak ketika berkemih.