Diabetes insipidus adalah kondisi yang ditandai dengan selalu merasa haus dan sering buang air kecil dalam jumlah banyak, bahkan hingga 20 liter dalam sehari. Meski nama dan gejala utamanya mirip dengan diabetes melitus, kedua kondisi ini sebenarnya sangat berbeda.
Diabetes insipidus dan diabetes melitus sama-sama menimbulkan gejala sering minum dan sering buang air kecil. Namun, diabetes insipidus tidak terkait dengan kadar gula dalam darah. Kondisi ini juga tidak berkaitan dengan pola makan atau gaya hidup, seperti pada diabetes melitus.

Diabetes insipidus terjadi akibat gangguan pada hormon antidiuretik atau respons ginjal terhadap hormon tersebut. Akibatnya, tubuh tidak mampu mengatur keseimbangan cairan dengan baik sehingga produksi urine menjadi sangat banyak dan encer.
Dibandingkan dengan diabetes melitus, diabetes insipidus merupakan penyakit yang cukup jarang terjadi. Meski begitu, penanganan kondisi ini bergantung pada penyebab yang mendasarinya.
Penyebab Diabetes Insipidus
Penyebab diabetes insipidus sangat bergantung pada jenisnya. Kondisi ini ketika tubuh tidak mampu mengatur keseimbangan cairan dengan baik akibat gangguan pada hormon antidiuretik (vasopresin) atau respons ginjal terhadap hormon tersebut.
Secara umum, penyebab penyakit ini dibagi menjadi empat tipe utama:
1. Diabetes insipidus sentral atau kranial
Diabetes insipidus tipe ini disebabkan oleh berkurangnya produksi atau pelepasan hormon ini dari hipotalamus dan kelenjar pituitari. Kondisi ini dapat dipicu oleh cedera kepala, operasi otak, tumor otak, infeksi seperti meningitis atau ensefalitis, atau penyakit autoimun.
2. Diabetes Insipidus Nefrogenik
Diabetes insipidus tipe ini terjadi ketika ginjal tidak merespons hormon antidiuretik dengan baik, sehingga tubuh tetap mengeluarkan urine dalam jumlah banyak meskipun kadar ADH cukup. Kondisi ini bisa disebabkan oleh penyakit ginjal, hiperkalsemia, hipokalemia, atau efek samping obat-obatan, terutama lithium.
3. Diabetes insipidus dipsogenik
Penyebab diabetes insipidus dipsogenik adalah gangguan pada pusat rasa haus di otak, sehingga penderita merasa haus berlebihan dan minum air secara berlebihan, yang akhirnya menghasilkan urine dalam jumlah banyak. Kondisi ini bisa terjadi karena cedera kepala, gangguan mental, atau tumor otak.
4. Diabetes insipidus gestasional
Diabetes insipidus gestasional umumnya muncul selama kehamilan. Kondisi ini terjadi akibat kerja enzim di plasenta yang menghambat hormon antidiuretik, atau terjadinya perubahan hormon selama kehamilan.
Faktor Risiko Diabetes Insipidus
Selain itu, ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami diabetes insipidus, di antaranya:
- Memiliki keluarga dengan riwayat diabetes insipidus
- Pernah mengalami cedera kepala, operasi otak, infeksi otak, atau tumor di otak
- Menderita penyakit ginjal kronis, gangguan mental, atau penyakit autoimun
- Penggunaan obat-obatan tertentu, seperti lithium, demeclocycline, dan obat diuretik
- Gangguan elektrolit dalam tubuh
- Kehamilan
Jika Anda memiliki faktor-faktor di atas dan mulai merasakan gejala, seperti sering haus dan buang air kecil terus-menerus, segera konsultasikan ke dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut. Untuk mempermudah, Anda dapat menggunakan fitur Chat Bersama Dokter atau membuat janji konsultasi di aplikasi ALODOKTER.
Dengan begitu, Anda bisa mendapatkan saran medis yang tepat serta penanganan lebih cepat sesuai dengan kondisi yang dialami tanpa perlu menunda pemeriksaan.
Gejala Diabetes Insipidus
Diabetes insipidus ditandai dengan jumlah urine yang berlebihan. Umumnya, seseorang mengeluarkan 1–2 liter urine atau buang air kecil 4–7 kali dalam sehari. Namun, pada penderita diabetes insipidus, jumlah urine yang keluar setiap harinya bisa mencapai 3–20 liter dan buang air kecil dapat terjadi setiap 15–20 menit.
Selain itu, ada sejumlah gejala lain yang dapat muncul pada penderita diabetes insipidus, antara lain:
- Rasa haus berlebihan (polidipsia), bahkan terus merasa haus meskipun sudah banyak minum
- Sering terbangun di malam hari untuk buang air kecil (nokturia)
- Mulut dan tenggorokan terasa kering
- Dehidrasi, yang ditandai dengan lemas, pusing, dan kulit kering
- Urine berwarna sangat jernih seperti air
- Penurunan konsentrasi atau mudah merasa lelah
- Sakit kepala akibat kekurangan cairan
- Tekanan darah rendah (hipotensi) dalam kondisi dehidrasi berat
Pada bayi dan anak-anak, gejala diabetes insipidus bisa sedikit berbeda dan lebih sulit dikenali. Beberapa tanda yang perlu diwaspadai, yaitu sering mengompol, mudah rewel, pertumbuhan terhambat, demam, muntah, dan diare.
Kapan Harus ke Dokter
Lakukan pemeriksaan ke dokter jika Anda atau anak Anda mengalami gejala diabetes insipidus seperti yang telah disebutkan di atas, terutama bisa disertai dengan:
- Tanda dehidrasi berat, seperti sangat lemas, kebingungan, atau penurunan kesadaran
- Buang air kecil dalam jumlah sangat banyak secara tiba-tiba tanpa penyebab yang jelas
- Rasa haus ekstrem yang tidak membaik meskipun sudah minum dalam jumlah banyak
- Penurunan tekanan darah atau jantung berdebar
- Penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas
- Memiliki riwayat cedera kepala, operasi otak, atau penyakit ginjal yang diikuti munculnya gejala
Penanganan sejak dini sangat penting untuk mencegah komplikasi berbahaya. Untuk mempermudah proses konsultasi dan pemeriksaan, Anda bisa menggunakan fitur booking dokter di aplikasi ALODOKTER, sehingga penanganan dapat dilakukan dengan lebih cepat dan tepat.
Diagnosis Diabetes Insipidus
Diagnosis diabetes insipidus dilakukan melalui serangkaian wawancara medis, pemeriksaan fisik, serta tes penunjang untuk memastikan penyebab gangguan keseimbangan cairan dalam tubuh. Tujuan utama diagnosis adalah membedakan diabetes insipidus dari kondisi lain dengan gejala serupa, seperti diabetes melitus atau gangguan ginjal.
Pada tahap awal, dokter akan menanyakan hal-hal berikut:
- Gejala yang dialami, seperti frekuensi buang air kecil, jumlah urine, serta tingkat rasa haus
- Riwayat penyakit, termasuk cedera kepala, operasi otak, penggunaan obat tertentu
- Riwayat keluarga dengan diabetes insipidus
Setelah itu, dokter juga akan melakukan pemeriksaan fisik untuk menilai tanda-tanda dehidrasi, seperti tekanan darah rendah, denyut nadi cepat, dan kondisi kulit.
Untuk memastikan diagnosis, dokter dapat melakukan tes tambahan, antara lain:
- Tes urine, untuk untuk melihat tingkat keenceran dan kepekatan urine.
- Tes darah, untuk mengukur kadar elektrolit, seperti natrium, serta menilai keseimbangan cairan tubuh.
- Tes deprivasi air (water deprivation test), untuk mengukur berat badan, kadar natrium dalam darah, dan jumlah urine, setelah pasien tidak minum selama beberapa waktu.
- Tes hormon antidiuretik (ADH), untuk mengetahui reaksi tubuh pasien setelah diberikan suntik ADH.
- Magnetic resonance imaging (MRI), untuk melihat kondisi hipotalamus dan kelenjar pituitari.
Pengobatan Diabetes Insipidus
bertujuan untuk mengurangi jumlah urine yang berlebihan, menjaga keseimbangan cairan tubuh, dan mencegah komplikasi, seperti dehidrasi. Pilihan terapi akan disesuaikan dengan jenis diabetes insipidus yang dialami dan penyebab yang mendasarinya.
Berikut ini penjelasan pengobatan berdasarkan jenisnya:
1. Diabetes insipidus sentral
Pada diabetes insipidus sentral, pengobatan utama adalah pemberian hormon sintetis pengganti vasopresin, yaitu desmopressin. Selain itu, penderita juga tetap dianjurkan untuk minum sesuai kebutuhan untuk mencegah dehidrasi.
Namun, jika kondisi ini disebabkan oleh tumor atau infeksi, dokter akan memberikan terapi spesifik sesuai penyebabnya.
2. Diabetes insipidus nefrogenik
Pengobatan untuk diabetes insipidus nefrogenik difokuskan pada meningkatkan respons ginjal terhadap hormon ADH. Jika kondisi ini disebabkan oleh obat tertentu, seperti lithium, dokter akan mempertimbangkan untuk menghentikan atau mengganti obat tersebut.
Meskipun terdengar berlawanan dengan fungsi diuretik pada umumnya, dokter akan meresepkan obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) dan obat diuretik thiazide, untuk membantu menurunkan volume urine. Tidak hanya itu, penderita juga biasanya dianjurkan untuk menjalani pola makan rendah garam guna mengurangi produksi urine.
3. Diabetes insipidus dipsogenik
Sementara itu, pada diabetes insipidus dipsogenik, penanganannya lebih menantang karena berkaitan dengan gangguan pusat rasa haus. Tidak ada obat khusus yang benar-benar efektif, sehingga terapi difokuskan pada pengaturan pola minum, edukasi pasien, serta penanganan gangguan yang mendasari, seperti gangguan psikologis jika ada.
4. Diabetes insipidus gestasional
Karena terjadi selama kehamilan, dokter umumnya akan memberikan desmopressin, yaitu hormon sintetis pengganti ADH. Obat ini efektif karena tidak mudah dihancurkan oleh enzim plasenta, sehingga mampu membantu ginjal menahan cairan dan mengurangi produksi urine berlebih.
Dengan penanganan yang tepat dan konsisten, gejala diabetes insipidus umumnya dapat dikendalikan dengan baik sehingga penderita tetap dapat menjalani aktivitas sehari-hari secara normal.
Komplikasi Diabetes Insipidus
Jika tidak ditangani dengan baik, kondisi ini dapat menimbulkan berbagai gangguan yang memengaruhi fungsi organ tubuh.
Berikut beberapa komplikasi yang dapat terjadi:
- Dehidrasi
- Ketidakseimbangan elektrolit
- Tekanan darah rendah (hipotensi)
- Gangguan fungsi ginjal
- Gangguan tidur
- Syok hipovolemik
Pada anak-anak, diabetes insipidus dapat menyebabkan komplikasi, seperti gangguan pertumbuhan atau penurunan berat badan.
Pencegahan Diabetes Insipidus
Pada sebagian besar kasus, diabetes insipidus tidak dapat dicegah. Terlebih lagi, kondisi ini sering kali berkaitan dengan penyakit lain yang kejadiannya sulit untuk diperkirakan, seperti kelainan genetik dan tumor.
Meski begitu, pasien tetap dapat mencegah dehidrasi dan mengontrol gejala yang timbul akibat diabetes insipidus dengan melakukan upaya-upaya berikut:
- Mencukupi asupan cairan dengam minum air putih minimal 2,5 liter per hari
- Mengurangi asupan garam dan protein sesuai saran dokter
- Mencuci tangan secara rutin dan mengonsumsi makanan yang matang untuk menghindari diare
- Mencatat pola buang air kecil setiap hari, terutama bagi penderita atau keluarga dengan riwayat diabetes insipidus
- Melakukan pemeriksaan ke dokter secara rutin jika Anda memiliki riwayat penyakit otak atau penyakit ginjal
- Mengonsumsi obat-obatan sesuai dengan resep dokter
- Selalu menggunakan alat pelindung kepala ketika berkendara atau berolahraga agar terhindar dari cedera kepala