Diabetes insipidus memiliki gejala yang mirip dengan diabetes tipe 1 dan diabetes tipe 2, seperti haus dan sering buang air kecil. Dokter akan menanyakan tentang gejala yang Anda alami dan mungkin melakukan beberapa tes untuk memastikan Anda menderita kondisi yang mana.

Rujukan menemui dokter spesialis gangguan hormon mungkin akan diberikan untuk melakukan tes-tes ini:

  • Tes deprivasi air. Dalam tes ini Anda diharuskan untuk tidak mengonsumsi cairan selama beberapa jam untuk melihat reaksi tubuh Anda. Jika kondisi Anda normal, Anda hanya akan buang air kecil sedikit dan dengan konsentrasi yang lebih pekat. Tapi jika Anda menderita diabetes insipidus, Anda akan membuang air kecil dalam jumlah yang banyak.
  • Tes darah dan tes urine. Tes darah dilakukan untuk mengetahui kadar hormon antidiuretik di dalam darah. Selain darah, pemeriksaan urine juga akan dilakukan untuk mengetahui beberapa unsur lain, seperti glukosa, kalsium, dan potasium. Urine dari penderita diabetes insipidus akan sangat encer. Jika kadar glukosa tinggi, maka yang diderita adalah diabetes tipe 1 atau diabetes tipe 2.
  • Tes hormon antidiuretik. Tes ini akan menunjukkan reaksi tubuh Anda terhadap hormon antidiuretik yang diberikan melalui suntikan untuk mengetahui diabetes insipidus jenis apa yang diderita. Prosedur ini dilakukan setelah tes deprivasi air, jika hormon yang diberikan membantu Anda berhenti memproduksi urine, berarti Anda menderita diabetes insipidus kranial akibat kekurangan hormon antidiuretik. Tapi jika Anda tetap memproduksi banyak urine, berarti Anda mengalami gangguan ginjal atau diabetes insipidus nefrogenik.
  • MRI. Jika dokter spesialis penyakit hormon menduga Anda menderita diabetes insipidus kranial karena kerusakan pada hipotalamus atau kelenjar pituitari, MRI dilakukan untuk menyelidiki lebih lanjut. Dokter akan melihat ketidaknormalan pada hipotalamus atau kelenjar pituitari, misalnya apakah terdapat tumor.