Diagnosis diabetes insipidus dilakukan melalui serangkaian tanya jawab, pemeriksaan fisik, serta tes penunjang untuk memastikan penyebab gangguan keseimbangan cairan dalam tubuh. Tujuannya adalah membedakan diabetes insipidus dari kondisi lain dengan gejala serupa, seperti diabetes melitus atau gangguan ginjal.
Berikut adalah rangkaian pemeriksaan yang akan dilakukan dokter untuk mendiagnosis diabetes insipidus:
Tanya Jawab
Pada tahap awal, dokter akan menanyakan beberapa pertanyaan untuk memahami kondisi pasien, di antaranya:
- Keluhan yang dirasakan pasien
- Waktu mulai muncul gejala
- Riwayat kesehatan keluarga
- Riwayat cedera kepala atau pernah menjalani operasi otak
- Penggunaan obat tertentu, misalnya lithium
Pemeriksaan Fisik
Selanjutnya, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik untuk menilai tanda-tanda dehidrasi, seperti kulit kering, tekanan darah rendah, atau peningkatan denyut nadi.
Pemeriksaan Penunjang
Untuk memastikan diagnosis, dokter akan menjalankan pemeriksaan lebih lanjut, meliputi:
Tes urine
Tes urine atau urinalisis bertujuan untuk melihat tingkat keenceran dan kepekatan urine, termasuk mengukur osmolalitas urine dan berat jenis urine (specific gravity). Dokter juga dapat meminta pasien untuk mengumpulkan urine dalam 1 hari agar terhitung seberapa banyak urine yang dikeluarkan selama 24 jam.
Tes darah
Tes darah bertujuan untuk untuk mengukur kadar gula darah dan elektrolit. Pemeriksaan ini dapat membantu dokter membedakan apakah keluhan sering minum dan sering buang air kecil pada pasien disebabkan oleh diabetes insipidus atau diabetes melitus.
Melalui tes kadar ADH dalam darah, dokter juga dapat menentukan jenis diabetes insipidus yang diderita pasien.
Tes deprivasi air
Tes deprivasi air merupakan pemeriksaan utama (gold standard) untuk mendiagnosis diabetes insipidus. Tes ini bertujuan untuk menilai kemampuan tubuh dalam memekatkan urine saat tidak mendapatkan asupan cairan.
Selama tes, dokter akan memantau berat badan, kadar natrium dan osmolalitas darah, serta volume dan konsentrasi urine. Dokter juga akan mengukur kadar ADH dalam darah atau memberikan ADH sintetis selama tes ini berlangsung.
Tes hormon antidiuretik
Tes hormon antidiuretik (ADH) bertujuan untuk mengetahui reaksi tubuh pasien setelah diberikan suntik ADH. Prosedur ini dilakukan setelah tes deprivasi air.
Jika produksi urine menurun dan menjadi lebih pekat, kemungkinan pasien mengalami diabetes insipidus sentral (kranial) akibat kekurangan hormon ADH. Namun, apabila tidak ada perubahan, kemungkinan pasien mengalami diabetes insipidus nefrogenik, yaitu ginjal tidak merespons ADH dengan baik.
Magnetic resonance imaging (MRI)
Magnetic resonance imaging (MRI) dilakukan jika diduga terdapat gangguan pada hipotalamus atau kelenjar pituitari. Melalui MRI, dokter dapat mendeteksi kemungkinan penyebab, seperti tumor, cedera kepala, infeksi, atau kelainan struktur otak.
Pemeriksaan Tambahan
Selain pemeriksaan di atas, dokter juga dapat melakukan beberapa pemeriksaan tambahan lainnya, seperti:
- Tes fungsi ginjal, untuk mengevaluasi kemungkinan gangguan ginjal
- Pemeriksaan kehamilan, jika dicurigai mengalami diabetes insipidus gestasional
Untuk memastikan diagnosis dan mendapatkan penanganan yang tepat, pemeriksaan sebaiknya dilakukan sedini mungkin. Anda dapat melakukan Booking Dokter secara online melalui aplikasi ALODOKTER untuk memilih jadwal konsultasi sesuai kebutuhan.