Flutison adalah obat yang digunakan untuk meredakan gejala rhinitis alergi, seperti hidung tersumbat, bersin-bersin, hidung meler, atau mata gatal dan berair. Obat dengan kandungan fluticasone ini digunakan dengan cara disemprotkan ke dalam hidung. 

Fluticasone yang terkandung dalam Flutison bekerja dengan cara meredakan pembengkakan pada jaringan yang membuat hidung tersumbat. Bahan aktif ini juga dapat menghambat pelepasan zat peradangan yang memicu timbulnya gejala bersin-bersin, mata gatal dan berair, serta hidung meler.

Flutison

Dengan cara menekan reaksi alergi dan peradangan di lapisan hidung, Flutison dapat membantu mengendalikan gejala rhinitis alergi, baik yang musiman maupun menahun. Penggunaan obat ini harus diawasi oleh dokter, terutama bila digunakan dalam jangka panjang atau pada anak-anak.

Apa Itu Flutison

Bahan aktif 0,5 mg fluticasone
Golongan Obat resep
Kategori Kortikosteroid
Manfaat Meredakan gejala rhintis alergi
Digunakan oleh Dewasa dan anak-anak
Flutison untuk ibu hamil Kategori C: Studi pada binatang percobaan memperlihatkan adanya efek samping terhadap janin, tetapi belum ada studi terkontrol pada ibu hamil.
Obat ini hanya boleh digunakan jika besarnya manfaat yang diharapkan melebihi besarnya risiko terhadap janin.
Flutison untuk ibu menyusui Flutison umumnya aman digunakan oleh ibu menyusui bila memang diperlukan dan sesuai saran dokter. Diskusikan dengan dokter mengenai dosis yang sesuai selama menyusui
Bentuk obat Semprot hidung (nasal spray)

Peringatan sebelum Menggunakan Flutison

Ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan sebelum menggunakan Flutison, yaitu:

  • Informasikan kepada dokter seputar riwayat alergi yang dimiliki. Flutison tidak boleh digunakan oleh individu yang alergi terhadap fluticasone.
  • Sampaikan kepada dokter jika Anda pernah atau sedang menderita penyakit liver; glaukoma; katarak; diabetes; sistem imun yang lemah; atau penyakit infeksi, seperti herpes pada mata, infeksi kulit, atau tuberkulosis.
  • Beri tahu dokter jika Anda memiliki luka pada hidung, baru saja mengalami cedera atau menjalani operasi pada hidung.
  • Bicarakan dengan dokter jika Anda sedang mengonsumsi obat, suplemen, atau produk herbal tertentu. Tujuannya adalah untuk mengantisipasi interaksi obat yang tidak diinginkan.
  • Hindari kontak dengan penderita penyakit yang mudah menular, seperti campak, cacar air, atau flu, terutama bila daya tahan tubuh Anda sedang menurun.
  • Lakukan pemeriksaan tumbuh kembang anak secara rutin selama menjalani pengobatan dengan Flutison. Hal ini karena penggunaan fluticasone dalam jangka panjang dapat memperlambat proses tumbuh kembangnya.
  • Pastikan untuk memberi tahu dokter jika Anda sedang hamil, menyusui, atau sedang merencanakan kehamilan.
  • Segera ke dokter jika mengalami reaksi alergi obat atau efek samping serius selama menggunakan Flutison.

Dosis dan Aturan Pakai Flutison

Dosis Flutison bisa berbeda-beda pada tiap pasien, tergantung pada usia dan kondisi pasien. Berikut adalah dosis umum penggunaan Flutison untuk mengatasi rhinitis alergi:

  • Dewasa dan anak usia >12 tahun: dosis awal 2 semprot (100 mcg), ke tiap rongga hidung, 1 kali sehari. Dosis bisa diturunkan menjadi 1 kali semprot (50 mcg), ke tiap rongga hidung, 1 kali sehari, bila keluhan sudah terkontrol. 
  • Anak usia 4–11 tahun: 1 semprot (50 mcg), ke tiap rongga hidung, 1 kali sehari.

Cara Menggunakan Flutison dengan Benar

Ikuti anjuran dokter dan baca informasi yang tertera pada kemasan obat sebelum menggunakan Flutison. Jangan menambah dosis obat tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter.

Agar pengobatan menjadi efektif, ikuti aturan pakai Flutison dengan benar berikut:

  • Sebelum menggunakan Flutison, bersihkan hidung dari ingus atau kotoran. Jika dianjurkan pada kemasan, kocok botol obat sebelum digunakan.
  • Dongakkan kepala dan masukkan ujung semprotan ke salah satu lubang hidung. Tutup lubang hidung yang lain saat Anda menyemprotkan obat, kemudian bernapaslah secara perlahan. Ulangi langkah yang sama di lubang hidung yang satunya jika perlu.
  • Buang Flutison setelah jumlah semprotan yang tertera pada kemasan tercapai, meskipun masih tampak ada sisa cairan di dalam botol. 
  • Jika Anda lupa menggunakan Flutison, segera gunakan begitu teringat bila jeda dengan jadwal berikutnya belum terlalu dekat. Apabila sudah dekat, abaikan dosis yang terlewat dan jangan menggandakan dosis selanjutnya.
  • Simpan Flutison di tempat yang sejuk, kering, dan terhindar dari sinar matahari langsung. Jauhkan obat ini dari jangkauan anak-anak.

Interaksi Flutison dengan Obat Lain

Kandungan fluticasone dalam Flutison dapat menimbulkan interaksi dengan obat lain. Penggunaan Flutison bersama ketoconazole, itraconazole, atau ritonavir dapat meningkatkan kadar fluticasone sehingga risiko terjadinya efek samping menjadi lebih tinggi.

Untuk mencegah terjadinya interaksi antarobat, pastikan untuk berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu bila hendak menggunakan Flutison bersama obat, suplemen, atau produk herbal tertentu.

Efek Samping dan Bahaya Flutison

Ada beberapa efek samping yang dapat terjadi setelah menggunakan Flutison, yaitu:

  • Mimisan ringan
  • Hidung kering, perih, atau seperti terbakar
  • Iritasi atau gatal pada hidung
  • Luka atau bercak putih di dalam hidung
  • Batuk
  • Sakit kepala
  • Sakit tenggorokan

Lakukan pemeriksaan ke dokter atau konsultasikan lewat chat jika efek samping di atas tidak kunjung membaik atau makin berat. Segera ke dokter jika mengalami reaksi alergi obat atau efek samping yang lebih serius, seperti:

  • Mimisan yang berat atau sering kambuh
  • Luka pada hidung yang tidak kunjung sembuh atau terdengar bunyi siulan saat bernapas melalui hidung
  • Bercak putih atau nyeri pada mulut maupun tenggorokan
  • Demam tinggi, menggigil, atau tanda-tanda infeksi lainnya
  • Penglihatan buram, nyeri mata, atau melihat lingkaran di sekitar sumber cahaya

Meskipun jarang terjadi, Flutison dapat terserap ke dalam aliran darah dan menyebabkan efek samping kortikosteroid sistemik, terutama bila digunakan dalam dosis tinggi atau dalam jangka panjang. Risiko ini lebih besar pada anak-anak. Efek samping tersebut meliputi:

  • Lelah atau lemas yang tidak biasa
  • Penurunan berat badan
  • Pembengkakan pada kaki atau pergelangan kaki
  • Rasa haus atau sering buang air kecil yang berlebihan