Diet FODMAP adalah pola makan yang efektif untuk meredakan keluhan pencernaan, seperti perut kembung, nyeri, dan diare. Diet ini menekankan pemilihan makanan tertentu, sehingga cocok untuk Anda yang sering mengalami masalah saluran cerna, terutama akibat sindrom iritasi usus besar.
FODMAP merupakan singkatan dari fermentable oligosaccharides, disaccharides, monosaccharides, and polyols. Ini adalah sekelompok karbohidrat yang sulit diserap oleh usus, sehingga dapat difermentasi oleh bakteri di saluran cerna dan memicu penumpukan gas serta peningkatan kadar air di usus.

Kondisi ini dapat menimbulkan berbagai keluhan pencernaan, seperti perut kembung, nyeri perut, begah, diare, atau sembelit, terutama pada orang dengan sistem pencernaan yang sensitif, misalnya penderita sindrom iritasi usus besar (IBS). Oleh karena itu, menjalani diet FODMAP penting untuk membuat perut terasa lebih nyaman.
Tujuan dan Manfaat Diet FODMAP
Diet FODMAP bertujuan memberi waktu bagi saluran cerna untuk beristirahat dan menurunkan proses fermentasi berlebihan di usus. Dengan begitu, berbagai gejala pencernaan pun menjadi lebih terkendali.
Untuk lebih jelasnya, inilah berbagai manfaat diet FODMAP:
- Meredakan keluhan perut kembung dan rasa tidak nyaman di perut
- Mengurangi frekuensi dan keparahan nyeri perut
- Membantu mencegah diare atau sembelit yang berulang
- Memudahkan Anda mengenali makanan pemicu gejala
- Memberikan panduan makan yang lebih terarah bagi penderita IBS
- Membantu mengontrol gejala tanpa harus mengandalkan obat terus-menerus
Daftar Makanan Tinggi dan Rendah FODMAP
Diet FODMAP terdiri dari tiga tahap utama, yakni eliminasi (menghindari makanan tinggi FODMAP), reintroduksi (mencoba kembali secara bertahap), dan personalisasi (menyesuaikan pola makan sesuai respons tubuh).
Berikut ini adalah beberapa makanan tinggi FODMAP:
- Produk susu sapi, yoghurt, dan keju lunak
- Roti dan pasta dari gandum biasa
- Bawang putih dan bawang bombai
- Apel, semangka, mangga, dan pir
- Kacang merah, kacang tanah, dan lentil
- Permen karet atau permen dengan pemanis sorbitol/manitol
Sementara itu, daftar makanan rendah FODMAP yang umumnya aman dikonsumsi antara lain:
- Susu bebas laktosa
- Nasi, mi jagung, dan kentang
- Tomat, wortel, selada, dan brokoli
- Pisang, stroberi, dan jeruk
- Ikan
- Daging segar tanpa bumbu tambahan
- Minyak, mentega, dan berbagai rempah alami
Memilih makanan rendah FODMAP dan menghindari yang tinggi FODMAP pada tahap awal akan membantu tubuh Anda beradaptasi dan mengurangi gejala pencernaan.
Hal yang Perlu Diperhatikan saat Diet FODMAP
Diet FODMAP tergolong aman apabila dijalankan dengan pendampingan dokter atau ahli gizi. Meski demikian, jika diet dilakukan terlalu ketat atau dalam jangka waktu yang lama, risiko kekurangan nutrisi dapat meningkat.
Selain itu, diet FODMAP bukanlah pengganti utama pengobatan untuk sindrom iritasi usus besar (IBS) maupun gangguan pencernaan lainnya, melainkan bagian dari strategi pengelolaan gejala. Oleh karena itu, menjaga variasi makanan tetap penting agar kebutuhan nutrisi harian terpenuhi.
Menjalankan diet FODMAP memerlukan kesabaran dan pemantauan secara rutin, terutama dalam mengenali makanan mana yang benar-benar aman bagi tubuh Anda. Hasil diet FODMAP umumnya mulai terasa setelah 2–6 minggu dijalani secara konsisten.
Sebelum memulai diet FODMAP, pastikan Anda sudah mendapatkan diagnosis yang jelas dan arahan langsung dari dokter atau ahli gizi. Bila Anda belum yakin dengan penyebab keluhan pencernaan atau gejala berlangsung lama dan berat, sebaiknya konsultasikan ke dokter terlebih dahulu agar memperoleh solusi yang tepat.
Konsultasi bisa dilakukan kapan pun dan dimana pun melalui layanan Chat Bersama Dokter di ALODOKTER. Nantinya, dokter bisa merekomendasikan diet sesuai kebutuhan Anda.