Irritable Bowel Syndrome

Pengertian Irritable Bowel Syndrome

Irritable bowel syndrome (IBS) adalah gangguan jangka panjang pada sistem pencernaan yang umum terjadi. Penyakit ini menyerang usus besar untuk jangka waktu yang lama, dengan gejala yang kambuh dari waktu ke waktu.

IBS lebih sering dialami oleh wanita dewasa muda yang berusia kurang dari 50 tahun. Setiap kambuh, IBS bisa terjadi selama beberapa hari atau bisa juga beberapa bulan, dan keadaan ini dapat dipicu oleh keadaan stres, makanan tertentu, atau perubahan hormon (seperti saat periode menstruasi).

alodokter-irritable-bowel-syndrome

Gejala-gejala Irritable Bowel Syndrome

Beberapa gejala yang mungkin terjadi adalah:

  • Diare atau konstipasi, yang keduanya terkadang muncul bergantian.
  • Perut kembung.
  • Perut terasa sakit atau kram. Gejala ini biasanya akan berkurang setelah buang air besar.
  • Tinja disertai lendir.
  • Sakit kepala.
  • Mual.
  • Sering bersendawa dan buang gas.
  • Kelelahan.
  • Nyeri punggung.
  • Cepat kenyang.
  • Nafsu makan turun.
  • Rasa panas di dada.

Orang yang mengalami IBS akan mengalami waktu di mana gejala tersebut bisa makin buruk, berangsur-angsur membaik, atau hilang sepenuhnya. Dianjurkan untuk segera memeriksakan diri ke dokter apabila Anda juga mengalami penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, buang air besar berdarah, berdebar-debar, sesak, atau terdapat benjolan pada perut.

Penyebab dan Faktor Pemicu Irritable Bowel Syndrome

Belum diketahui secara pasti penyebab irritable bowel syndrome (IBS). Beberapa faktor yang diduga bisa memicu terjadinya IBS adalah:

  • Infeksi di saluran pencernaan.
  • Perubahan kondisi bakteri normal di dalam usus kecil.
  • Gangguan pada fungsi otak sewaktu mengirim sinyal ke usus.
  • Makanan yang terlalu cepat atau terlalu lambat dicerna di saluran pencernaan, sehingga menyebabkan diare atau konstipasi.
  • Makanan atau minuman tertentu yang sulit untuk dicerna, contohnya yang makanan dengan kadar asam, lemak, gula, atau karbohidrat yang tinggi.
  • Perubahan kadar hormon atau zat kimia lainnya di dalam tubuh yang berperan untuk mentransmisikan sinyal-sinyal saraf.
  • Gangguan kesehatan mental, seperti gangguan panik, cemas, depresi, dan stres.

Diagnosis Irritable Bowel Syndrome

Dokter dapat mencurigai seorang pasien menderita irritable bowel syndrome (IBS) apabila terdapat keluhan pada pencernaan, yang bisa berupa sakit di perut, perut kembung, atau perubahan pada kebiasaan BAB serta bentuk tinja, yang sudah berlangsung setidaknya selama tiga bulan.

Tidak ada pemeriksaan khusus untuk mendiagnosis IBS, tetapi dokter perlu melakukan beberapa pemeriksaan lanjutan untuk menyingkirkan kemungkinan lainnya, di antaranya adalah:

  • Tes darah. Bertujuan untuk mengetahui apakah ada kondisi lain yang memiliki gejala sejenis, misalnya penyakit celiac atau intoleransi laktosa.
  • Pengambilan sampel tinja. Tinja diperiksa untuk melihat adanya infeksi bakteri atau parasit.
  • Pencitraan dan endoskopi. Foto Rontgen, CT scan, atau endoskopi yang menggunakan selang berkamera, baik masuk melalui mulut ataupun dubur, dapat melihat keadaan saluran cerna dan mendeteksi kemungkinan infeksi atau kelainan struktur lainnya.

Pengobatan Irritable Bowel Syndrome

Tidak ada obat maupun suatu pola makan spesifik yang cocok untuk semua penderita irritable bowel syndrome (IBS). Namun, terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi gejala, sehingga orang dengan IBS dapat hidup secara normal, yang merupakan tujuan dari pengobatan IBS. Beberapa cara tersebut di antaranya adalah:

  • Mengatur pola makan dan jenis makanan.
    • Mengonsumsi makanan dengan porsi kecil.
    • Tidak telat makan.
    • Mengurangi konsumsi alkohol, kafein, dan minuman soda.
    • Mencukupi kebutuhan cairan dengan minum, paling tidak 8 gelas air putih.
    • Menghindari makanan berlemak dan makanan kaleng.
    • Mengonsumsi buah tidak melebihi dari 3 porsi (satu porsi sekitar 80 g).
    • Mengunyah makanan dengan baik, tidak terburu-buru.
  • Sesuaikan jenis makanan dengan keluhan yang dialami.
    • Perut kembung. Hindari makanan yang dapat mengakibatkan peningkatan gas dalam saluran cerna, seperti kacang-kacangan, kol, kembang kol, brokoli, dan juga permen karet.
    • Diare. Kurangi konsumsi makanan tinggi serat seperti gandum, dan makanan yang mengandung pemanis buatan seperti sorbitol.
    • Konstipasi. Tingkatkan konsumsi serat, seperti sayuran, buah, dan gandum. Proses ini sebaiknya dilakukan secara bertahap, jangan tiba-tiba, karena akan membuat keluhan semakin buruk.
  • Rutin berolahraga. Olahraga seperti senam aerobik, jalan cepat atau bersepeda, dapat meningkatkan pergerakkan usus dan mengurangi tingkat stres.
  • Menurunkan tingkat stres. Selain olahraga, meditasi dan pijatan dapat mengurangi stres. Bila keluhan tidak membaik, dapat dilakukan psikoterapi.  
  • Mengonsumsi probiotik, yaitu suplemen yang dapat membantu menyehatkan sistem pencernaan dengan mengembalikan keseimbangan bakteri normal dalam usus secara alami.
  • Mengonsumsi obat-obatan. Beberapa obat-obatan yang dapat digunakan pada penderita IBS:
    • Antikolinergik (contoh: hyoscine butylbromide).
    • Antidiare (contoh: loperamide).
    • Antidepresan trisiklik (contoh: amitriptyline).
    • Pencahar.
    • Suplemen serat.

Komplikasi Irritable Bowel Syndrome

Diare dan sembelit kronis yang timbul akibat irritable bowel syndrome (IBS) dapat mengarah pada hemoroid atau penyakit wasir. Selain itu, IBS juga dikaitkan dengan gangguan mental seperti gangguan cemas dan depresi. Gangguan cemas dan depresi ini bahkan dapat menyebabkan IBS makin parah. Dalam sejumlah kasus, pasien yang mengalami IBS tingkat sedang hingga parah memiliki kualitas hidup yang buruk, terutama dalam produktivitas kerja.

Ditinjau oleh : dr. Tjin Willy

Referensi