Gigi bungsu berlubang sering dianggap sepele, padahal bisa menimbulkan nyeri hebat dan infeksi serius jika dibiarkan. Lubang kecil di gigi bungsu dapat menyebabkan bengkak, infeksi, hingga komplikasi. Penting untuk mengetahui penyebab, gejala, dan cara mengatasinya agar kesehatan mulut tetap terjaga.
Gigi bungsu berlubang cenderung lebih sering terjadi karena letaknya yang sulit dijangkau saat menyikat gigi. Selain itu, posisi gigi bungsu yang bisa tumbuh miring atau terjebak sebagian di gusi juga membuat sisa makanan lebih mudah menumpuk.

Kondisi ini menciptakan lingkungan yang ideal bagi bakteri untuk berkembang dan merusak jaringan gigi, sehingga lubang pun terbentuk. Penting untuk dipahami bahwa lubang pada gigi bungsu tidak hanya menyebabkan ngilu atau rasa sakit, tetapi juga dapat memicu komplikasi serius seperti infeksi atau abses.
Penyebab Gigi Bungsu Berlubang
Beberapa faktor utama yang membuat gigi bungsu berlubang, antara lain:
1. Sisa makanan menumpuk
Gigi bungsu terletak di bagian paling belakang mulut, sehingga sulit dijangkau saat menyikat gigi. Akibatnya, sisa makanan dan plak mudah menumpuk di area ini dan menjadi tempat berkembangnya bakteri. Jika tidak dibersihkan dengan baik, bakteri akan menghasilkan asam yang merusak lapisan luar gigi hingga menimbulkan gigi bungsu berlubang.
2. Posisi gigi tidak normal
Gigi bungsu sering tumbuh miring, sebagian tertanam di gusi atau bahkan terjebak dalam rahang. Kondisi ini membuat sela antara gigi bungsu dan gusi menjadi sulit dibersihkan dengan sikat gigi biasa. Bakteri pun lebih mudah berkembang di area tersebut, mempercepat proses pembusukan dan pembentukan lubang pada gigi.
3. Kebiasaan jarang menyikat gigi
Tidak menjaga kebersihan mulut secara rutin akan membuat plak menumpuk di permukaan gigi, termasuk gigi bungsu. Plak ini mengandung bakteri yang memecah sisa makanan menjadi asam penyebab karies. Menyikat gigi dua kali sehari dan menggunakan benang gigi sangat penting untuk mencegah gigi bungsu berlubang.
4. Konsumsi makanan dan minuman manis
Gula dari makanan dan minuman manis menjadi sumber energi utama bagi bakteri penyebab gigi bungsu berlubang. Saat bakteri menguraikan gula, terbentuklah asam yang secara perlahan melarutkan lapisan email gigi. Jika kebiasaan ini terus berlangsung, gigi bungsu akan lebih cepat berlubang dibanding gigi lainnya.
5. Faktor lain
Mulut kering, kebiasaan merokok, atau efek samping obat-obatan bisa membuat produksi air liur berkurang. Kurangnya air liur menurunkan kemampuan mulut dalam menetralkan asam dan membersihkan sisa makanan. Padahal, air liur berperan penting dalam menjaga keseimbangan bakteri di mulut dan melindungi gigi dari pembusukan.
Gejala dan Komplikasi Gigi Bungsu Berlubang yang Harus Diwaspadai
Inilah beberapa gejala yang sering muncul saat gigi bungsu berlubang:
- Nyeri di belakang rahang saat mengunyah
- Bengkak di sekitar gigi bungsu
- Bau mulut
- Gigi ngilu terhadap panas, dingin, atau manis
- Gusi berdarah atau bernanah jika sudah terinfeksi
- Pada kasus berat, Anda akan kesulitan untuk membuka mulut lebar
Apabila sudah seperti ini, gigi bungsu berlubang perlu mendapatkan penanganan yang tepat. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat menyebabkan:
- Infeksi jaringan sekitar (abses), contohnya bakteri menyebar ke gusi, pipi, atau leher
- Kerusakan gigi tetangga, karena infeksi dapat menjalar ke gigi di sebelahnya
- Gangguan makan dan bicara, karena rasa sakit yang ditimbulkan dari gigi bungsu berlubang
- Penyebaran infeksi ke organ lain melalui aliran darah
Penanganan Gigi Bungsu Berlubang
Penanganan gigi bungsu berlubang disesuaikan dengan tingkat keparahan dan kondisi gigi setiap orang. Dokter gigi akan menilai apakah gigi masih bisa dipertahankan atau perlu dicabut untuk mencegah komplikasi lebih lanjut.
Berikut beberapa langkah penanganan yang umum dilakukan untuk mengatasi gigi bungsu berlubang:
1. Pembersihan dan penambalan
Jika lubang masih kecil dan belum mencapai saraf, dokter akan membersihkan area yang rusak kemudian menambalnya dengan bahan khusus seperti resin komposit atau amalgam. Tindakan ini bertujuan menghentikan proses pembusukan, mencegah lubang melebar, dan mengembalikan fungsi gigi.
Prosedur penambalan biasanya cepat dan dilakukan dengan anestesi lokal agar pasien merasa nyaman. Setelahnya, Anda disarankan menjaga kebersihan mulut agar tambalan bertahan lama dan gigi tetap sehat.
2. Pemberian antibiotik
Jika gigi bungsu berlubang disertai infeksi, seperti bengkak, nanah, atau nyeri berdenyut, dokter akan meresepkan antibiotik. Obat ini membantu mengurangi peradangan dan menghambat pertumbuhan bakteri penyebab infeksi.
Penggunaan antibiotik hanya bersifat sementara dan tidak menggantikan perawatan utama seperti penambalan atau pencabutan. Oleh karena itu, penting untuk tetap melakukan pemeriksaan lanjutan agar penyebab infeksi dapat ditangani secara tuntas.
3. Cabut gigi bungsu berlubang
Apabila gigi bungsu sudah berlubang parah, rapuh, tumbuh miring, atau sering menyebabkan infeksi berulang, pencabutan biasanya menjadi pilihan terbaik. Prosedur ini dilakukan dengan anestesi lokal sehingga aman dan minim rasa sakit.
Setelah gigi dicabut, dokter akan memberikan panduan perawatan agar area bekas pencabutan cepat pulih, termasuk anjuran menghindari makanan keras dan menjaga kebersihan luka. Dengan mengangkat sumber infeksi, risiko komplikasi seperti abses atau kerusakan gigi lain dapat dicegah.
4. Operasi kecil (odontektomi)
Jika gigi bungsu terbenam sebagian di gusi atau rahang, dokter mungkin perlu melakukan odontektomi, yaitu operasi kecil untuk mengangkat gigi dan jaringan di sekitarnya. Prosedur ini dilakukan dengan anestesi lokal, dan sayatan kecil dibuat pada gusi untuk memudahkan pengangkatan gigi.
Odontektomi membantu mencegah infeksi berulang serta menghilangkan rasa nyeri akibat tekanan gigi yang tumbuh tidak sempurna.
Agar gigi bungsu tidak berlubang, ada beberapa langkah pencegahan yang bisa Anda lakukan dengan mudah, yaitu:
- Sikat gigi dua kali sehari dengan teknik yang benar.
- Gunakan benang gigi untuk membersihkan sela-sela gigi belakang.
- Batasi konsumsi makanan dan minuman manis.
- Rutin periksa gigi ke dokter gigi, minimal setiap 6 bulan.
Jika Anda merasakan nyeri, bengkak, atau bau mulut akibat gigi bungsu berlubang, segera periksakan diri ke dokter gigi. Pemeriksaan dan penanganan sejak dini dapat mencegah infeksi menyebar serta kerusakan gigi lainnya. Anda juga bisa Chat Bersama Dokter terlebih dahulu melalui aplikasi ALODOKTER untuk mendapatkan saran awal, lalu dilanjutkan dengan pemeriksaan secara langsung jika keluhan tidak membaik.