Setiap orang tua mungkin khawatir ketika melihat anaknya yang masih balita suka memukul, apalagi jika ia bisa memukul temannya hingga menangis. Namun, Bunda jangan frustrasi dengan perilaku anak seperti ini, karena semua itu ada alasannya dan ada beragam cara pula untuk mengatasinya.

Pertama-tama, yang perlu Bunda pahami adalah balita suka memukul bukan berarti Bunda salah dalam mendidik anak atau Si Kecil akan tumbuh menjadi anak yang suka melakukan perundungan (bullying). Sebenarnya, perilaku agresif ini adalah bagian dari tahap awal perkembangan yang umum terjadi pada balita.

Ini yang Perlu Dilakukan jika Balita Suka Memukul - Alodokter

Berbagai Kemungkinan Alasan Balita Suka Memukul

Karena balita belum lancar bicara, tangan menjadi alat komunikasi mereka. Terkadang, salah satu bentuk komunikasi yang dilakukan adalah memukul. Bunda perlu memahami arti di balik perilaku tersebut.  Meski begitu, perilaku ini harus diarahkan agar Si Kecil tidak terbiasa melakukannya, apalagi sampai melukai orang lain.

Di bawah ini adalah beberapa alasan balita suka memukul yang perlu Bunda pahami:

1. Mencoba mempertahankan area atau miliknya

Balita yang posesif terhadap mainannya bisa memukul jika mainannya diambil. Selain itu, dia juga mungkin memukul jika habis kesabaran karena anak lain tidak mau bergantian menggunakan mainan.

Jika kata-kata Si Kecil tidak lagi digubris oleh anak lain, ia mungkin akan mencari perhatian dengan memukul.

2. Tidak mampu mengungkapkan perasaannya

Balita belum memiliki perbendaharaan kata yang banyak, sehingga sangat mungkin dia tidak bisa menemukan kata yang tepat untuk mengekspresikan kebutuhan atau keinginannya. Ketika frustrasi, balita terkadang memilih memukul sebagai cara untuk mengekspresikan diri.

3. Merasa tidak nyaman

Balita juga bisa memukul saat merasa lelah, lapar, haus, bosan, atau merasakan ketidaknyamanan. Bunda dapat mengurangi kemungkinan ini dengan memastikan Si Kecil sudah cukup makan dan tidur sebelum bermain dengan temannya.

4. Perubahan dalam keluarga

Balita bisa saja tiba-tiba menjadi suka memukul atau menggigit ketika ada perubahan besar dalam keluarga. Contohnya adalah pindah rumah, kelahiran adik baru, atau kekerasan dalam rumah tangga.

5. Kurang kegiatan untuk menyalurkan energi

Terkadang, balita bisa memukul karena mereka tidak punya ruang untuk menyalurkan energinya. Masa balita adalah masa ketika anak ingin menjelajahi banyak hal. Jika tidak mendapatkan ruang untuk beraktivitas, balita bisa menyalurkannya dalam bentuk pukulan.

Selain alasan-alasan di atas, balita juga bisa memukul anak lain untuk melakukan pembelaan diri, misalnya ketika ia digigit atau dipukul anak lain.

Tips agar Balita Tidak Suka Memukul

Reaksi Bunda saat melihat Si Kecil memukul adalah kunci perubahan kebiasaannya. Maka dari itu, simak beberapa panduan di bawah ini agar Si Kecil yang masih berusia berhenti memukul:

1. Hindari menggunakan kekerasan

Memukul, mencubit, atau melakukan tindakan fisik apa pun yang termasuk kekerasan pada anak justru akan membuatnya semakin agresif. Untuk memberi pelajaran pada Si Kecil, cobalah melakukannya dengan cara yang lembut, seperti memeluknya dengan tenang seraya menasihatinya, meskipun dengan tegas.

2. Jauhkan dari anak-anak lain

Apabila memungkinkan, jauhkan Si Kecil dari anak-anak lain ketika Bunda melihat ia memukul karena mainannya direbut. Untuk mengalihkan perhatiannya, arahkan ia ke mainan lain.

Namun, jika Si Kecil yang mengambil mainan anak lain, sebaiknya hindarkan ia dari mainan tersebut agar ia tahu bahwa bersikap kasar membuatnya tidak mendapatkan apa pun.

3. Ajak minta maaf

Mintalah Si Kecil untuk meminta maaf apabila ia telah memukul temannya. Meski ia menolak atau tidak tulus, setidaknya Bunda sudah mencoba menanamkan kebiasaan baik.

Si Kecil mungkin belum bisa membayangkan dirinya ada di posisi anak yang dipukulnya. Namun, sikap terpuji ini perlahan-lahan akan meresap dalam dirinya dan membuat ia menyadari konsekuensi dari tindakannya.

4. Diskusikan tindakannya

Saat Si Kecil sudah merasa tenang, ajak ia berdiskusi tentang alasannya melakukan pemukulan seraya menasihatinya dengan lembut tapi tegas. Misalnya dengan mengatakan, “Dipukul itu sakit. Menyakiti orang lain itu tidak baik.”

Bunda juga bisa menjelaskan kepada Si Kecil bahwa emosi sesekali itu tidak apa-apa, tetapi ada batasan untuk tidak sampai memukul, apalagi menyakiti teman.

5. Ajarkan untuk menggunakan tangan dengan baik

Bunda perlu memberikan banyak waktu untuk memeluk, membelai, atau memijat Si Kecil agar ia belajar untuk menggunakan tangan dengan cara lembut. Mungkin jika ia ingin mulai memukul, Bunda dapat mengalihkannya, misalnya dengan gerakan “Tos!”

6. Berikan konsekuensi bila mengulangi perbuatannya

Memberikan hukuman tidak harus berupa kekerasan. Ada banyak cara lain yang bisa Bunda lakukan sebagai konsekuensi atas tindakan Si Kecil. Misalnya, Bunda bisa mengurangi waktunya bermain bersama mainan favoritnya.

Penting juga untuk Bunda pahami bahwa terkadang balita bisa bersiap agresif akibat meniru adegan kekerasan pada film maupun acara TV. Untuk mengatasi hal ini, Bunda harus harus membatasi dan selalu mengawasi tontonan Si Kecil. Bila perlu, pastikan untuk mengatur program TV yang ditonton Si Kecil terbatas untuk program anak-anak saja.

Memiliki balita yang suka memukul memang menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua. Namun, dengan memahami alasan dan mengetahui beragam cara menanganinya, diharapkan anak mampu mengubah perilaku ini secara perlahan hingga tidak mengulanginya lagi di kemudian hari.

Akan tetapi, jika perilaku ini masih terus berlanjut, jangan segan untuk meminta bantuan psikolog anak. Psikolog akan menelaah penyebab utama balita suka memukul dan membantu Bunda dalam memperbaikinya.