Penyakit yang disebabkan bakteri E. coli sering terjadi akibat konsumsi makanan atau minuman yang kurang bersih. Infeksi ini bisa menyebabkan beragam keluhan, mulai dari diare, kram perut, lemas, mual muntah, hingga dehidrasi. Mengenali gejala dan cara mencegahnya sangat penting agar Anda dan keluarga tetap sehat dan terhindar dari bahaya.
Bakteri Escherichia coli atau E. coli sebenarnya hidup normal di usus manusia dan hewan. Namun, beberapa jenis E. coli tertentu dapat menyebabkan infeksi bila masuk ke tubuh melalui makanan atau air yang terkontaminasi.
Saat seseorang terinfeksi, gejala yang muncul bisa berupa diare, kram perut hebat, perut kembung, lemas, dehidrasi, mual, muntah, dan demam. Umumnya, gejala-gejala ini muncul dalam 1–3 hari setelah terpapar bakteri ini. Dengan memahami penyakit yang disebabkan bakteri E. coli, Anda dapat lebih waspada dan segera mengambil langkah penanganan yang tepat.
Beragam Penyakit yang Disebabkan Bakteri E. Coli
Berikut ini adalah beberapa jenis penyakit yang disebabkan bakteri E. coli:
1. Disentri
Disentri bisa disebabkan oleh bakteri E. coli, terutama jenis yang menghasilkan toksin kuat dan merusak dinding usus. Ketika bakteri masuk melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi, E. coli dapat memicu peradangan pada usus besar hingga menyebabkan diare berdarah, kram perut, dan demam.
Infeksi ini umumnya muncul secara tiba-tiba dan dapat menyebabkan tubuh kehilangan banyak cairan, sehingga penderita mudah mengalami dehidrasi dan rasa lemas. Karena itu, disentri akibat E. coli perlu mendapatkan perhatian medis agar tidak berkembang menjadi komplikasi yang lebih serius.
2. Infeksi saluran kemih (ISK)
Infeksi saluran kemih menjadi salah satu penyakit yang disebabkan oleh bakteri E. coli. Secara alami, E. coli memang hidup di usus manusia dan sebenarnya tidak berbahaya selama tetap berada di tempatnya.
Namun, masalah muncul ketika bakteri ini berpindah ke area yang seharusnya steril, yaitu saluran kemih. Begitu masuk, E. coli dapat menempel pada dinding saluran kemih dan berkembang biak dengan cepat. Nah, hal inilah yang kemudian bisa memicu iritasi dan peradangan, sehingga muncul berbagai keluhan, mulai dari nyeri saat buang air kecil hingga rasa tidak tuntas setelah berkemih.
Perpindahan E. coli ke saluran kemih biasanya terjadi karena jarak antara anus dan uretra cukup dekat, terutama pada wanita. Inilah sebabnya wanita lebih sering mengalami ISK dibandingkan pria.
Selain itu, aktivitas sehari-hari seperti cara membersihkan area genital yang salah, hubungan seksual, atau sering menahan buang air kecil dapat membuat bakteri lebih mudah berpindah dan berkembang lho. Ditambah lagi, penggunaan toilet yang tidak bersih, kurang minum, serta melemahnya daya tahan tubuh juga dapat meningkatkan risiko bakteri masuk ke saluran kemih.
3. Infeksi saluran pencernaan
Infeksi saluran pencernaan juga termasuk penyakit yang disebabkan oleh bakteri E. coli lho. Soalnya, bakteri ini dapat menghasilkan racun (toksin) yang merusak lapisan usus ketika masuk ke tubuh dalam jumlah besar atau berasal dari strain yang berbahaya.
Normalnya, E. coli yang hidup di usus tidak menimbulkan masalah. Namun, jika seseorang mengonsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi strain E. coli patogen, bakteri ini akan berkembang biak dan mengganggu keseimbangan flora normal dalam usus. Akibatnya, dinding usus menjadi iritasi dan meradang sehingga muncul berbagai keluhan pencernaan.
Gejala infeksi saluran pencernaan akibat E. coli umumnya mulai terasa dalam 1–3 hari setelah seseorang terpapar bakteri. Umumnya, penderita akan mengalami berbagai keluhan, mulai dari kram perut, perut kembung, mual, muntah, tubuh lemas, dan diare.
4. Hemolitik uremik sindrom (HUS)
Penyakit yang disebabkan oleh bakteri E. coli adalah hemolitik uremik sindrom (HUS), khususnya pada anak-anak. Kondisi ini muncul ketika racun dari bakteri tersebut masuk ke aliran darah dan merusak sel darah merah, serta pembuluh darah kecil di ginjal. Akibatnya, fungsi ginjal dapat menurun drastis dan tubuh tidak mampu membuang racun dengan baik.
Hemolitik uremik sindrom umumnya muncul beberapa hari setelah diare terjadi, terutama bila diare berdarah. Pada tahap ini, penderita mulai menunjukkan tanda-tanda seperti berkurangnya jumlah urine, tubuh yang membengkak, kulit tampak pucat, mudah memar, hingga rasa lemas yang semakin berat seiring menurunnya fungsi ginjal.
Jika tidak segera mendapatkan penanganan medis, kondisi ini dapat berkembang menjadi komplikasi serius yang membahayakan nyawa.
5. Sepsis
Dalam kasus yang sangat jarang, E. coli dapat masuk ke aliran darah dan menyebabkan sepsis, yaitu kondisi infeksi berat yang memengaruhi berbagai organ tubuh.
Saat bakteri ini masuk ke aliran darah, tubuh memberikan respons berlebihan untuk melawan infeksi. Respons ini justru menyebabkan peradangan berat di seluruh tubuh, sehingga mengganggu fungsi organ-organ vital seperti jantung, ginjal, paru-paru, dan otak. Inilah sebabnya sepsis dianggap sebagai bentuk infeksi E. coli yang paling berbahaya dan harus ditangani secepatnya.
6. Pneumonia
Meski tidak umum, pneumonia juga bisa disebabkan oleh bakteri E. coli lho. Kondisi ini biasanya terjadi ketika bakteri menyebar dari bagian tubuh lain, seperti saluran cerna atau aliran darah, hingga akhirnya mencapai paru-paru dan memicu peradangan.
Pneumonia akibat E. coli lebih sering dialami oleh orang dengan daya tahan tubuh lemah, pasien yang sedang dirawat di rumah sakit, atau mereka yang menggunakan alat bantu napas.
Ketika bakteri berhasil menginfeksi paru-paru, penderita dapat mengalami gejala, seperti batuk berdahak, demam, nyeri dada, dan sesak napas, sehingga membutuhkan penanganan medis untuk mencegah komplikasi yang lebih berat.
Cara Pencegahan Penyakit Akibat E. Coli
Menerapkan pola hidup bersih dapat mencegah penularan penyakit akibat E. Coli. Berikut adalah beberapa cara yang dapat dilakukan:
- Pastikan semua jenis daging, terutama daging sapi, ayam, dan telur, dimasak sampai benar-benar matang. Hindari mengonsumsi daging setengah matang atau mentah.
- Selalu cuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir sebelum makan, setelah dari toilet, setelah mengganti popok, serta setelah kontak dengan hewan atau kotoran.
- Jaga kebersihan makanan dengan mencuci buah dan sayuran di bawah air mengalir sebelum dikonsumsi.
- Konsumsi air minum yang bersih dan sudah dimasak atau disterilkan.
- Pastikan semua peralatan masak, piring, sendok, dan talenan selalu dicuci bersih setelah digunakan, terutama setelah memotong daging mentah.
- Jangan mencampurkan atau menggunakan peralatan yang sama untuk makanan mentah dan makanan matang guna mencegah kontaminasi silang.
- Pilih susu dan produk olahan susu yang telah melalui proses pasteurisasi agar bebas dari bakteri berbahaya, termasuk E. coli.
- Pastikan lingkungan sekitar rumah bersih, saluran air limbah terjaga, dan buang sampah pada tempatnya untuk mengurangi risiko penularan bakteri.
Mengetahui berbagai penyakit yang disebabkan bakteri E. coli serta gejalanya dapat membantu Anda lebih waspada terhadap risiko infeksi. Dengan memahami bagaimana bakteri ini menular dan langkah pencegahan yang dapat dilakukan, Anda dapat melindungi diri serta keluarga dari penyakit infeksi berbahaya.
Meski sebagian kasus dapat membaik dengan perawatan mandiri, infeksi E. coli tertentu dapat menyebabkan komplikasi serius. Oleh karena itu, jika keluhan tidak membaik dalam 2–3 hari dan disertai diare berdarah, kram perut hebat, dan demam tinggi, segera periksakan diri ke dokter ya.
Di samping itu, jangan ragu juga untuk memanfaatkan layanan Chat Bersama Dokter di aplikasi Alodokter untuk mengetahui lebih lanjut cara mencegah dan menangani penyakit yang disebabkan bakteri E. coli sesuai kondisi Anda.
