Inseminasi buatan adalah prosedur untuk mengatasi masalah gangguan keseburan (infertilitas) dengan menempatkan sperma langsung di dalam rahim pada saat pelepasan sel telur (ovulasi). Tujuan inseminasi buatan adalah untuk meningkatan jumlah sperma yang dapat mencapai saluran indung telur (tuba falopii), sehingga terjadi pembuahan dan kehamilan. 

Tindakan inseminasi buatan dapat dilakukan dalam hitungan menit pada pasien rawat jalan di rumah sakit. Keberhasilan inseminasi buatan dapat meningkat jika dilakukan tidak hanya 1 kali (siklus). Wanita yang melakukan program inseminasi buatan memiliki peluang untuk hamil sekitar 10-20% setiap siklus. Namun, bila dilakukan berkali-kali,  keberhasilannya mencapai 45%. Salah satu penelitian mengatakan bahwa wanita yang telah melakukan 6 siklus inseminasi buatan, memiliki keberhasilan untuk hamil sebesar  40%. Akan tetapi keberhasilan itu juga bergantung kepada usia, penyebab infertilitas, dan penggunaan obat kesuburan tertentu.

Inseminasi Buatan, Ini yang Harus Anda Ketahui - Alodokter

Indikasi Inseminasi Buatan

Inseminasi buatan dapat dilakukan pada pasien yang mengalami masalah infertilitas, baik yang tidak diketahui penyebabnya atau yang diketahui. Misalnya, akibat jumlah dan kualitas sperma yang buruk, serta endometriosis. Selain itu, prosedur ini bisa dilakukan oleh pasien yang memiliki lendir serviks terlalu kental, sehingga menghalangi jalannya sperma.

Peringatan Inseminasi Buatan

Untuk menjalankan inseminasi buatan, kondisi seorang wanita harus dipastikan dalam keadaan sehat, terutama kondisi tuba falopiinya. Inseminasi buatan sebaiknya tidak dilakukan pada wanita yang memiliki kelainan pada tuba falopii, seperti menyempitnya tuba falopii akibat radang pangul. Dokter akan melakukan pemeriksaan untuk mengetahui adanya hambatan pada saluran tersebut, serta  kemungkinan penyebabnya. Pemeriksaan dapat diakukan melalui histerosalpingografi (HSG) dengan menggunakan Rontgen, laparoskopi, atau hysterosalpingo-contrast sonography (HyCoSy) dengan gelombang suara.

Sebelum Inseminasi Buatan

Inseminasi buatan diawali dengan menyiapkan sampel sperma. Dari sampel sperma tersebut akan diambil sperma yang sehat, sehingga memperbesar kemungkinan wanita untuk hamil.

Selain menyiapkan sampel sperma, penetapan waktu pelaksanaan inseminasi buatan sangat penting. Karena itu, perlu dilakukan pemantauan prediksi terjadinya ovulasi untuk menentukan pelaksanaan inseminasi buatan. Ovulasi biasanya terjadi . Pemantauan dapat dilakukan dengan prediksi ovulasi dari urine dengan melihat pelepasan hormon LH, atau berdasarkan pengamatan melalui USG transvaginal untuk melihat pertumbuhan sel telur. Terkadang, obat kesuburan digunakan dokter untuk merangsang ovulasi.

Setelah ovulasi dapat terdeteksi, dokter akan menentukan waktu pelaksanan inseminasi buatan. Pelaksaan inseminasi buatan umumnya dilakukan satu atau dua hari pasca terlihat adanya tanda ovulasi.

Prosedur Inseminasi Buatan

Saat pelaksanaan inseminasi buatan, pasien dibaringkan. Selanjutnya, dokter kandungan memasukkan alat penyangga (spekulum) ke dalam vagina, untuk melebarkan vagina. Pada tahap ini, kateter berisi sampel sperma sehat dimasukkan ke dalam vagina, melewati pintu rahim, dan masuk ke dalam rahim. Sperma akan didorong  hingga masuk ke dalam rahim. Setelah itu, inseminasi buatan dianggap selesai dan kateter bisa dilepas, begitu juga spekulum.

Prosedur inseminasi buatan pada umumnya tidak menimbulkan rasa sakit, meski sebagian wanita merasakan kram sesaat. Seluruh tindakan inseminasi buatan hanya berlangsung sekitar 10 menit. Pasien dapat pulang ke rumah setelah tindakan selesai dilakukan.

Setelah Inseminasi Buatan

Sesudah pelaksanaan inseminasi intrauterine, tahap berikutnya adalah menantikan hasil dengan tes kehamilan. Tes ini dapat dilakukan 2 minggu setelah pelaksanaan inseminasi. Jika belum berhasil hamil, dokter dapat menyarankan inseminasi buatan ulang. Pelaksanaan inseminasi ulang dapat dilakukan dalam kembali dalam 3-6 bulan ke depan untuk memperbesar kemungkinan hamil.

Komplikasi Inseminasi Buatan

Inseminasi buatan pada umumnya merupakan prosedur yang tidak rumit dan aman, sehingga risikonya kecil untuk menimbulkan komplikasi. Namun beberapa risiko mungkin terjadi setelah prosedur inseminasi buatan, salah satunya adalah terjadinya infeksi. Selain itu, pemakaian kateter dalam rahim saat inseminasi buatan dapat menimbulkan perdarahan pada vagina. Meski demikian, perdarahan ini tidak berpengaruh pada kemungkinan untuk hamil. Inseminasi buatan juga dapat meningkatkan risiko terjadinya kehamilan kembar atau ganda. Hal ini dianggap komplikasi karena kehamilan kembar berisiko mengakibatkan berat badan lahir bayi rendah atau kelahiran prematur.