Banyak ibu hamil yang ingin melahirkan di rumah. Ada banyak alasannya, misalnya karena lebih nyaman dan tidak perlu repot ke rumah sakit atau rumah bersalin, hingga keinginan untuk melewati persalinan sambil dikelilingi keluarga. Namun, apakah melahirkan di rumah tergolong aman?

Jika kondisi ibu dan bayi sehat, sebetulnya proses persalinan boleh saja dilakukan di rumah, meski lebih baik dilakukan di fasilitas medis yang lengkap. Akan tetapi, meski lebih baik melahirkan di fasilitas medis, beberapa rumah sakit atau rumah bersalin ada yang membatasi atau bahkan tidak memberikan izin pada anggota keluarga untuk mendampingi ibu hamil saat persalinan.

Kamu Bisa Melahirkan di Rumah Bila Sudah Penuhi 5 Hal Ini - Alodokter

Hal ini sebenarnya bertujuan agar keluarga tidak mengganggu dokter atau bidan saat berusaha menolong ibu dan bayi selama proses persalinan. Namun, pembatasan tersebut justru menjadi salah satu bahan pertimbangan sebagian besar ibu hamil untuk melahirkan di rumah.

Amankah Melahirkan di Rumah?

Sejumlah studi di luar negeri menunjukkan bahwa melahirkan di rumah sama amannya dengan melahirkan di rumah sakit, terutama jika ibu hamil dan bayi memang berisiko rendah mengalami komplikasi persalinan.

Akan tetapi belum ada penelitian di dalam negeri yang dapat memastikan bahwa melahirkan di rumah aman untuk dilakukan. Selain itu, perlu diingat bahwa selama persalinan ibu tetap harus selalu didampingi oleh bidan atau dokter.

Hal ini karena bisa saja selama persalinan ibu hamil membutuhkan penanganan medis tertentu, seperti induksi, episiotomi, atau bahkan operasi caesar.

Selain karena alasan diperlukannya tindakan medis tertentu, jarak antara rumah dan rumah sakit atau rumah bersalin pun harus cukup dekat. Alasannya adalah agar saat persalinan tidak berjalan lancar, ibu dapat segera dirujuk ke rumah sakit. Karena itu, para dokter dan bidan lebih menganjurkan para ibu untuk melahirkan di rumah sakit.

Beberapa Persyaratan Melahirkan di Rumah

Tidak semua ibu hamil bisa melahirkan di rumah. Ada beberapa hal yang perlu dipenuhi agar kamu dapat menjalani persalinan dengan aman di rumah. Berikut ini beberapa syaratnya:

1. Kondisi kesehatan yang baik

Ibu bisa melahirkan di rumah bila kondisi kehamilan berjalan normal dan tidak berisiko. Hal ini bisa diketahui dengan rutin melakukan pemeriksaan kehamilan ke dokter kandungan atau bidan.

Jika memiliki kondisi tertentu atau penyulit yang berisiko menyebabkan persalinan terganggu, maka ibu sebaiknya melahirkan di rumah sakit. Beberapa hal yang membuat seorang ibu hamil tidak dianjurkan untuk melahirkan di rumah, yakni:

  • Pernah menjalani operasi caesar pada persalinan sebelumnya.
  • Hamil kembar.
  • Gawat janin.
  • Kelahiran prematur, yaitu kelahiran dengan usia kandungan kurang dari 37 minggu.
  • Kehamilan posmatur, yaitu usia kehamilan lebih dari 41 – 42 minggu, namun janin belum juga lahir.
  • Posisi bayi sungsang.
  • Memiliki masalah kesehatan tertentu selama kehamilan, seperti diabetes gestasional, preeklamsia, atau infeksi ketuban saat hamil.

Apabila kamu memiliki salah satu dari kondisi di atas, maka pilihan untuk melahirkan di rumah sudah tentu tidak disarankan. Hal ini karena beberapa kondisi di atas membutuhkan penanganan khusus yang harus dilakukan oleh dokter spesialis kandungan di rumah sakit.

2. Bukan pertama kali melahirkan

Bila kamu sedang menjalani kehamilan untuk pertama kalinya, kamu dianjurkan untuk menjalani persalinan di fasilitas kesehatan, seperti klinik bersalin, puskesmas, atau rumah sakit. Hal ini dilakukan untuk menghindari risiko yang dapat membahayakanmu kondisimu dan bayi.

Namun, untuk kehamilan anak kedua dan berikutnya, asalkan kondisimu dan janin di dalam kandungan sehat, maka boleh saja untuk melahirkan di rumah, selama ada bidan atau dokter yang membantu persalinan.

3. Persalinan ditolong oleh bidan atau dokter

Pastikan persalinan di rumah ditangani oleh dokter kandungan atau bidan yang memiliki izin praktik resmi dan kompetensi yang baik. Jika kamu memilih untuk dibantu bidan, bidan tersebut harus terhubung dengan dokter kandungan dan rumah sakit terdekat untuk kondisi darurat.

Selama persalinan, bidan atau dokter akan secara berkala memeriksa denyut nadi, suhu tubuh, tekanan darah, dan detak jantung bayi. Setelah melahirkan, kondisi ibu dan bayi akan diperiksa secara saksama. Apabila ibu atau bayi yang baru lahir membutuhkan penanganan medis, maka dokter atau bidan akan merujuk ke rumah sakit.

Meski memutuskan bersalin dengan dibantu bidan, kamu harus tetap berkonsultasi seputar pilihan melahirkan di rumah dengan dokter kandungan.

4. Sarana dan tempat tinggal yang memadai

Konsultasikan dengan dokter tentang apa yang harus dipersiapkan untuk menjalani persalinan di rumah. Selain itu, pastikan bidan membawa peralatan yang diperlukan untuk melakukan tindakan darurat, seperti oksigen, infus, dan persediaan obat-obatan untuk menghentikan perdarahan pasca melahirkan.

Sebelum mendekati hari perkiraan lahir (HPL), bidan biasanya akan menilai apakah rumahmu cukup layak sebagai tempat bersalin, mulai dari segi kebersihan rumah dan lingkungan sekitar, serta apakah rumah memiliki akses atau jarak yang dekat dengan rumah sakit terdekat.

5. Akses ke rumah sakit untuk keadaan darurat

Selain jarak yang dekat, pikirkan pula soal ketersediaan transportasi untuk membawamu dari rumah ke rumah sakit. Selain itu, jarak dan waktu tempuh yang ideal dari rumah ke rumah sakit disarankan tidak lebih dari 15 menit. Makin cepat waktu tempuh, maka semakin cepat pula penanganan dapat dilakukan.

Kondisi yang Mengharuskan Dirujuk ke Rumah Sakit

Proses persalinan memang tidak bisa diprediksi. Persalinan yang awalnya berjalan lancar, bisa saja tiba-tiba mengalami kendala. Beberapa kendala selama persalinan yang mengharuskan persalinan dilakukan di rumah sakit, antara lain:

  • Gawat janin, misalnya karena lilitan tali pusar.
  • Persalinan lama atau tidak mengalami kemajuan.
  • Masalah pada plasenta, misalnya plasenta previa atau plasenta tercabut dari dalam dinding rahim sebelum bayi berhasil dilahirkan (solusio plasenta).
  • Air ketuban berbau busuk atau bernanah (air ketuban terinfeksi bakteri).
  • Setelah melahirkan, plasenta tidak keluar atau keluar dengan tidak utuh.
  • Janin menelan mekonium atau tinjanya sendiri.
  • Bayi berisiko terlahir dengan masalah pernapasan berat atau memiliki nilai Apgar.

Di Indonesia sendiri persalinan dihimbau untuk dilakukan di fasilitas kesehatan yang memadai.

Akan tetapi, melahirkan di rumah masih menjadi pilihan bagi ibu hamil yang tinggal di daerah terpencil. Kondisi geografis dan keterbatasan akses menuju puskesmas atau rumah sakit, membuat mereka lebih mudah untuk melahirkan di rumah dengan dibantu bidan yang berkompetensi.

Meski demikian, tidak semua ibu hamil bisa memilih untuk melahirkan di rumah. Dibutuhkan banyak persiapan, pengetahuan seputar kehamilan, serta kesiapan fisik dan mental untuk menjalani persalinan di rumah.

Perlu dicatat bahwa pemerintah tetap menganjurkan ibu hamil untuk melahirkan di fasilitas kesehatan yang memadai. Hal ini dilakukan agar proses persalinan bisa berjalan dengan aman.