Bronkopneumonia adalah salah satu jenis infeksi pernapasan yang sering menyerang anak berusia 2 tahun ke bawah atau pun lansia yang berusia 65 tahun ke atas. Kenali lebih dalam penyebab bronkopneumonia pada anak dan cara mencegahnya.

Berdasarkan laporan dari UNICEF dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), pada tahun 2015 terdapat sekitar 20.000 anak balita di Indonesia meninggal karena pneumonia. Bronkopneumonia atau yang bisa disebut sebagai pneumonia lobularis, merupakan jenis pneumonia akibat infeksi dan peradangan pada saluran napas utama, yaitu bronkus, akibat infeksi bakteri, virus, atau jamur.

Kenali Bronkopneumonia pada Anak dan Cara Mencegahnya - Alodokter

Selain itu, risiko terkena bronkopneumonia juga dapat meningkat karena beberapa faktor risiko, seperti usia yang terlalu muda atau terlalu tua, lingkungan yang kotor, paparan asap rokok, gaya hidup, penggunaan obat penekan sistem kekebalan tubuh, dan kondisi kesehatan tertentu, misalnya malnutrisi.

Gejala Bronkopneumonia pada Anak

Gejala bronkopneumonia yang muncul dapat bervariasi mulai dari ringan hingga berat tergantung penyebabnya. Selain itu, gejala bronkopneumonia bisa mirip dengan gejala penyakit paru-paru lain, yaitu bronkitis atau bronkiolitis, sehingga diperlukan pemeriksaan fisik dan penunjang berupa tes darah dan foto Rontgen oleh dokter, untuk membantu membedakan kedua penyakit tersebut.

Berikut beberapa gejala bronkopnumonia pada anak:

  • Batuk berdahak
  • Demam
  • Sesak napas atau napas menjadi cepat
  • Menggigil
  • Dada terasa sakit
  • Rewel atau sulit untuk tidur
  • Kehilangan nafsu makan
  • Gelisah
  • Muntah
  • Wajah terlihat pucat
  • Perubahan warna di bagian bibir dan kuku yang menjadi kebiruan
  • Mengi

Bila gejala-gejala bronkopneumonia pada anak tidak segera diobati, akan berakibat pada kemungkinan munculnya komplikasi lain yang lebih berbahaya.

Komplikasi Bronkopneumonia

Komplikasi bronkopneumonia umumnya lebih sering terjadi pada anak-anak, orang dewasa yang lebih tua (usia 65 tahun atau lebih), dan orang yang memiliki masalah kesehatan tertentu, seperti diabetes. Beberapa komplikasi bronkopneumonia yang mungkin terjadi, di antaranya:

  • Infeksi darah
    Kondisi ini terjadi akibat adanya bakteri yang masuk ke dalam aliran darah dan menyebabkan infeksi ke organ-organ lain. Infeksi darah atau sepsis berpotensi menyebabkan terjadinya kegagalan organ.
  • Abses paru-paru
    Abses paru-paru dapat terjadi ketika nanah terbentuk di dalam rongga paru-paru, biasanya kondisi ini dapat ditangani dengan antibiotik. Namun terkadang juga membutuhkan prosedur pembedahan untuk membuangnya.
  • Efusi pleura
    Efusi pleura adalah kondisi di mana cairan memenuhi ruang di sekitar paru-paru dan rongga dada. Cairan yang terinfeksi biasanya dikeringkan menggunakan jarum atau tabung tipis. Dalam beberapa kasus, efusi pleura yang serius memerlukan prosedur operasi untuk membantu mengeluarkan cairan.
  • Gagal napas
    Kondisi akibat kerusakan berat pada paru-paru sehingga tubuh tidak dapat mencukupi kebutuhan oksigen karena terganggunya fungsi pernapasan. Jika tidak segera diobati, gagal napas dapat membuat organ tubuh tidak dapat berfungsi dan pernapasan terhenti sama sekali. Jika hal ini terjadi, maka penderitanya perlu mendapatkan napas bantuan dengan bantuan mesin (ventilator).

Bagaimana Merawat Anak yang Menderita Bronkopneumonia?

Perawatan untuk anak yang menderita bronkopnemoia tergantung dari penyebabnya. Pada bronkopneumonia ringan yang disebabkan oleh virus, biasanya dapat sembuh dalam beberapa hari atau beberapa minggu.

Untuk bronkopneumonia yang disebabkan oleh bakteri, dokter akan meresepkan obat antibiotik untuk mamatikan kuman penyebab bronkopneumonia dan mempercepat pemulihan. Jika kondisi anak cukup stabil dan dapat dirawat di rumah, dokter akan memberikan obat-obatan antibiotik sirup atau tablet serta obat penurun panas. Dokter juga akan menyarankan orang tua agar anak beristirahat total dan menjauhi anak dari paparan asap rokok.

Selain itu, hal lain yang bisa Anda lakukan di rumah ketika anak mengalami brokopnemonia, misalnya mengatur waktu istirahat anak, memperbanyak konsumsi cairan anak, dan memberikan asupan makanan yang teratur agar anak tetap bertenaga.

Apabila kondisi anak sudah melemah dan gejala yang dialami berat, maka penanganan rawat inap di rumah sakit diperlukan untuk mengobati bronkopneumonia. Beberapa kondisi bronkopneumonia pada anak yang memerlukan penanganan medis segera di antaranya, kesulitan untuk bernapas, kadar oksigen dalam darah rendah, mengalami dehidrasi, tampak lesu, atau anak mulai hilang kesadaran.

Dokter akan memberikan obat antibiotik suntikan melalui cairan infus, dan memberikan oksigen dan napas bantuan jika diperlukan untuk merawat kondisi anak dengan bronkopneumonia berat.

Cara Mencegah Bronkopneumonia Pada Anak?

Sepintas, bronkopneumonia pada anak memang mengerikan. Namun, penyakit ini dapat dicegah. Berikut beberapa langkah sederhana untuk mencegah brokopneumonia pada anak, seperti:

  • Usahakan untuk selalu menjaga kebersihan tangan anak Anda untuk mengurangi penularan penyakit.
  • Hindarkan anak-anak dari paparan asap rokok.
  • Jauhkan bayi atau anak dari penderita bronkopneumonia.
  • Lengkapilah imunisasi anak agar terlindungi dari bakteri dan virus yang menyebabkan infeksi bronkopneumonia.

Anak-anak memang lebih rentan terserang bronkopneumonia, terutama yang berusia di bawah 2 tahun atau anak-anak dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah. Bila anak Anda mengalami gejala yang mirip dengan bronkopneumonia, segera konsultasikan ke dokter spesialis anak untuk mendapatkan pemeriksaan dan pengobatan yang tepat. Semakin cepat ditangani, risiko terjadinya komplikasi akibat bronkopneumonia pada anak akan semakin kecil.