Kenali Risiko di Balik Suntik Vitamin C Dosis Tinggi

Selama ini masyarakat mengenal sumber vitamin C yang alami seperti buah dan sayuran atau berupa suplemen yang diminum. Selain kedua jenis tadi, ada juga metode suntik vitamin C dosis tinggi yang sering digunakan untuk berbagai tujuan. Namun, apakah asupan vitamin C tersebut benar-benar bebas risiko?

Vitamin C atau asam askorbat adalah jenis vitamin yang dibutuhkan tubuh untuk berbagai fungsi. Mulai dari membentuk kolagen pada tulang, tulang rawan, otot serta pembuluh darah, hingga untuk alasan kosmetik. Umumnya vitamin C bisa diperoleh dari konsumsi sehari-hari, seperti buah dan sayuran, juga bisa didapat dari obat-obatan suplemen minum maupun suntik.

Kenali risiko dibalik suntik vitamin C mega dosis - alodokter

Asupan Dosis Tinggi

Untuk memenuhi kebutuhan nutrisi ideal, orang dewasa, direkomendasikan mendapat asupan vitamin C sebanyak 65-90 mg per hari, anak-anak berusia 1-3 tahun sebanyak 15 mg per hari, dan anak-anak berusia 4-8 tahun 25 mg per hari.

Sementara itu, asupan vitamin C melalui suntikan memiliki dosis yang beragam. Biasanya dosis vitamin jenis ini cukup tinggi, melebihi anjuran asupan konsumsi per hari. Meski pada umumnya tidak berbahaya, dosis vitamin C yang terlalu tinggi bisa membawa risiko bagi tubuh, antara lain:

  • Diare
  • Kelebihan zat besi
  • Berkurangnya penyerapan vitamin B12
  • Penurunan kemampuan tubuh menyerap zat tembaga
  • Insomnia
  • Sakit kepala
  • Peningkatan risiko batu ginjal

Perlu diketahui, suntik vitamin C tidak dapat dilakukan sembarangan dan harus dilakukan ahli medis profesional karena ada beberapa efek samping yang bisa terjadi, di antaranya muncul rasa nyeri di sekitar lokasi suntikan dan munculnya rasa pusing atau bahkan pingsan jika proses penyuntikannya terlalu cepat.

Menangani Kondisi Khusus

Ada beberapa kondisi yang menandakan seseorang mengalami kekurangan vitamin C, antara lain tubuh mudah lelah, penyembuhan luka yang lama, pertumbuhan tulang dan gigi terganggu, serta radang gusi dan gusi berdarah.

Ada pula kondisi yang menyebabkan kebutuhan vitamin C seseorang meningkat, misalnya saat terkena infeksi seperti infeksi saluran pernapasan, kekurangan asupan protein, kekurangan zat besi, mengalami diare, inflamasi, hipertiroidisme, dan memiliki kebiasaan merokok.

Suntik vitamin C umumnya dilakukan untuk menangani beberapa kondisi, antara lain:

  • Masa pemulihan dari penyakit
  • Keracunan
  • Anemia
  • Defisiensi vitamin C, baik akibat pola makan maupun gangguan penyerapan vitamin C

Kini untuk keperluan kosmetik, suntik vitamin C banyak digunakan untuk tujuan memutihkan kulit, memperlambat proses penuaan, serta untuk mengatasi hiperpigmentasi.Vitamin C juga bisa melindungi kulit dari polusi dan sengatan sinar matahari.

Perhatikan Kondisi Khusus

Prosedur suntik vitamin C dosis tinggi sangat berisiko, sehingga harus dilakukan di bawah pengawasan dokter, terutama untuk:

  • Orang yang mengalami kelainan darah atau yang mengonsumsi obat pengencer darah, sebab vitamin C yang dikonsumsi dengan dosis tinggi tanpa adanya penyesuaian dosis dapat mengganggu kerja obat pengencer darah.
  • Penderita darah tinggi, karena vitamin C dapat meningkatkan tekanan darah, termasuk pada wanita hamil yang berisiko tinggi mengalami hipertensi selama kehamilan.
  • Penderita diabetes, hipoglikemia, serta mereka yang mengonsumsi obat-obatan pengontrol gula darah, karena vitamin C dapat memengaruhi kadar gula darah.
  • Orang yang diketahui memiliki riwayat alergi terhadap bahan-bahan dalam produk vitamin C, perlu menghindari suntik vitamin ini.
  • Pengguna antibiotik, obat antikanker dan HIV, estrogen serta suplemen zat besi.
  • Orang yang mengalami penyakit ginjal, terutama gagal ginjal atau yang berisiko mengalami gangguan ginjal.
  • Penderita kanker, katarak, defisiensi Glukosa-6-fosfat dehidrogenase (G6PD), gangguan perut, batu ginjal dan anemia sel sabit.

Untuk mendapatkan kecukupan vitamin C sehari-hari, terapkan pola makan kaya sayur dan buah. Jika ingin melakukan prosedur suntik vitamin C, selalu konsultasikan dengan dokter terlebih dahulu, karena harus selalu dilakukan oleh tenaga medis yang terlatih.

 

Ditinjau oleh : dr. Allert Noya

Referensi