Perubahan ritme detak jantung seperti detak jantung cepat dapat membuat seseorang tidak nyaman, bahkan merasa cemas dan hendak pingsan. Ada beberapa alasan dan kondisi medis yang menyebabkan terjadi detak jantung cepat.

Saat tepat mengecek detak jantung yaitu saat bangun tidur pagi. Tempelkan dua jari, biasanya jari telunjuk dan jari tengah, pada pergelangan tangan yang sejajar dengan jempol jari selama 15 detik. Hitung berapa denyut jantung yang dirasakan, kemudian dikali empat untuk mengetahui detak jantung per menit. Ini adalah detak jantung dasar atau detak jantung saat istirahat.

Ketahui Alasan Detak Jantung Cepat dan Cara Mengatasinya - Alodokter

Tidak seperti anggapan masyarakat umum, detak jantung yang lambat saat istirahat justru menandakan kondisi kesehatan seseorang dalam keadaan baik. Ini menandakan otot jantung dalam kondisi prima, sehingga tidak perlu bekerja terlalu keras. Kecuali detak jantung lambat ini disertai keluhan pusing, sesak napas, atau nyeri dada.

Sebaliknya, ketika detak jantung cepat, berarti jantung bekerja lebih keras guna mengalirkan darah dengan efektif ke seluruh tubuh. Detak jantung cepat dapat terjadi saat seseorang berolahraga, stres, kelelahan, atau karena gangguan medis tertentu.

Detak jantung cepat disebut juga dengan istilah takikardia. Ini adalah kondisi yang terjadi karena adanya gangguan listrik di jantung yang berperan dalam mengontrol irama detak jantung. Digolongkan takikardia yaitu jika seseorang yang sedang dalam kondisi beristirahat memiliki detak jantung melebihi dari 100 kali per menit. Takikardia bisa muncul tanpa menimbulkan komplikasi, namun juga bisa meningkatkan risiko stroke, gangguan fungsi jantung hingga henti jantung, dan bahkan kematian.

Mengenali Faktor Pemicu

Terdapat beberapa faktor pemicu detak jantung cepat, yaitu usia, olahraga, stres atau cemas, demam, terlalu banyak konsumsi kafein atau minuman beralkohol, efek samping obat, dan kebiasaan merokok.

Selain itu, ada pula kondisi kesehatan tertentu yang dapat menyebabkan detak jantung cepat, contohnya seperti tekanan darah tinggi, anemia, hipertiroid, gagal jantung, gangguan elektrolit pada tubuh, serta gangguan listrik jantung (aritmia).

Semakin bertambahnya usia, detak jantung cenderung akan semakin melambat. Namun, hal tersebut tidak berlaku jika ada faktor tertentu yang membuat detak jantung justru menjadi semakin cepat.

Penanganan yang Tepat

Detak jantung cepat yang terjadi bukan karena penyakit umumnya tidak membutuhkan pengobatan karena dapat membaik dengan sendirinya. Jika disebabkan oleh kondisi medis tertentu, penanganan detak jantung cepat akan disesuaikan dengan faktor penyebabnya. Penanganan yang dilakukan bertujuan untuk memperlambat detak jantung cepat hingga dalam batas normal, mencegah terulangnya kembali hal tersebut, dan menekan risiko komplikasi.

Pada sebagian kasus, detak jantung yang cepat dapat melambat hanya dengan dibantu beberapa gerakan sederhana, atau disebut manuver Vagal. Gerakan seperti batuk, mengejan sebagaimana tengah buang air besar, melakukan pijatan pembuluh darah karotis di leher, atau menaruh es pada wajah, dapat memengaruhi saraf vagus yang mengatur detak jantung. Namun, jika tindakan tersebut tidak berhasil, maka dokter kemungkinan akan memberikan suntikan berisi obat antiaritmia atau obat-obatan lain untuk menormalkan detak jantung cepat.

Pada kondisi yang dianggap gawat darurat dan obat tidak berhasil, maka dokter akan melakukan prosedur kardioversi menggunakan alat kejut listrik pada jantung. Tindakan ini diharapkan akan memperbaiki impuls listrik jantung sehingga detak jantung kembali normal.

Beberapa tindakan lanjutan lain untuk mengatasi detak jantung cepat yang berkelanjutan seperti ablasi kateter, penggunaan alat pacu jantung (pacemaker), hingga bedah jantung yang memerlukan pertimbangan medis menyeluruh.

Menjaga berat badan ideal dan tetap aktif, sekaligus mengurangi stres dan menghindari rokok merupakan beberapa cara agar jantung tetap sehat dan terhindar dari detak jantung cepat. Jika detak jantung cepat berkelanjutan dan tidak diketahui dengan pasti apa penyebabnya. Konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut.