Batas toleransi makanan kadaluarsa kerap menjadi pertanyaan banyak orang saat menemukan makanan di rumah yang sudah melewati tanggal kadaluarsa. Memahami batas toleransi ini penting agar Anda dapat terhindar dari risiko keracunan makanan, sekaligus mengurangi pemborosan akibat membuang makanan yang masih layak konsumsi.

Perlu diketahui bahwa tanggal kadaluarsa pada kemasan tidak selalu menjadi penentu mutlak keamanan makanan. Arti dari tanggal tersebut dapat berbeda-beda, tergantung pada jenis produk, cara penyimpanan, serta kondisi fisik makanan itu sendiri.

Ketahui Batas Toleransi Makanan Kadaluarsa dan Aturannya - Alodokter

Sayangnya, masih banyak kekeliruan seputar batas toleransi makanan kadaluarsa yang membuat sebagian orang ragu dan memilih langsung membuang makanan tanpa memperhatikan tanda-tanda kerusakan lainnya.

Batas Toleransi Makanan Kadaluarsa dan Aturannya

Setiap jenis makanan memiliki batas toleransi berbeda terkait tanggal kadaluarsa yang tertera pada kemasannya. Berikut ini adalah beberapa poin penting yang perlu Anda perhatikan:

1. Makna tanggal kadaluarsa

Tanggal kadaluarsa (expired date) adalah batas waktu yang ditetapkan produsen untuk menjamin kualitas produk, mulai dari rasa, tekstur, aroma, hingga kandungan gizinya tetap berada dalam kondisi terbaik. Namun, tanggal kadaluarsa tidak selalu berarti makanan langsung berbahaya begitu melewati tanggal tersebut.

Pada beberapa jenis makanan, produk masih bisa aman dikonsumsi dalam jangka waktu tertentu setelah tanggal tertera, terutama jika disimpan dengan baik dan tidak menunjukkan tanda-tanda kerusakan, seperti bau asam atau tengik, perubahan warna, muncul jamur, kemasan menggembung, atau perubahan tekstur yang tidak wajar.

Meski begitu, tidak semua makanan memiliki batas toleransi yang sama. Produk yang mudah rusak, seperti susu, daging, seafood, dan makanan siap saji, umumnya lebih berisiko menyebabkan keracunan makanan jika dikonsumsi setelah melewati masa simpannya.

2. Label “best before” dan “use by

Label best before menunjukkan batas waktu kualitas terbaik suatu produk. Setelah melewati tanggal tersebut, makanan mungkin mengalami penurunan kualitas, seperti rasa yang berubah, aroma berkurang, tekstur tidak lagi optimal, atau kandungan gizi yang menurun.

Namun, produk umumnya aman dikonsumsi selama tidak menunjukkan tanda-tanda kerusakan. Label ini biasanya terdapat pada makanan yang lebih tahan lama, seperti biskuit, sereal, makanan kaleng, pasta, atau camilan kemasan.

Sementara itu, label use by menandakan batas akhir keamanan konsumsi makanan. Setelah melewati tanggal ini, produk sebaiknya tidak lagi dikonsumsi karena risiko pertumbuhan bakteri penyebab keracunan makanan dapat meningkat, meskipun tampilan atau aromanya masih terlihat normal.

Label use by umumnya ditemukan pada produk yang mudah rusak, seperti susu segar, daging, makanan siap saji, dan produk olahan yang harus disimpan dalam suhu dingin.

3. Jenis makanan dan batas toleransinya

Batas toleransi makanan kadaluarsa dapat berbeda-beda, tergantung jenis makanan, cara penyimpanan, serta kondisi kemasannya. Ada makanan yang masih relatif aman dikonsumsi beberapa waktu setelah tanggal tertentu, tetapi ada juga yang sebaiknya langsung dibuang karena berisiko tinggi menyebabkan keracunan makanan. Berikut penjelasannya:

Makanan kering

Makanan kering, seperti beras, pasta, sereal, tepung, biskuit, dan mie instan, umumnya memiliki daya simpan lebih lama. Produk ini sering kali masih aman dikonsumsi hingga 1–2 bulan setelah tanggal best before, terutama jika kemasan belum dibuka dan disimpan di tempat sejuk, kering, serta terhindar dari kelembapan.

Namun, makanan sebaiknya tidak dikonsumsi jika sudah berbau apek, berubah warna, menggumpal, atau terdapat kutu dan jamur.

Makanan kaleng

Makanan kaleng dapat bertahan cukup lama, bahkan hingga lebih dari 1 tahun setelah tanggal tertentu, selama kondisi kaleng masih baik. Pastikan kaleng tidak penyok, berkarat, bocor, menggembung, atau mengeluarkan bau tidak normal saat dibuka.

Jika kemasan rusak, makanan kaleng sebaiknya langsung dibuang karena ada risiko kontaminasi bakteri berbahaya, termasuk bakteri penyebab botulisme.

Produk susu, daging, dan makanan olahan

Produk susu, daging segar, ikan, ayam, makanan siap saji, serta makanan olahan yang harus disimpan dingin umumnya tidak disarankan dikonsumsi setelah melewati tanggal kadaluarsa. Jenis makanan ini lebih mudah terkontaminasi bakteri patogen yang dapat menyebabkan keracunan makanan, meskipun tampilan atau aromanya belum berubah.

Risiko akan semakin tinggi jika makanan disimpan pada suhu yang tidak sesuai atau terlalu lama berada di luar lemari pendingin.

Makanan beku

Makanan beku cenderung lebih aman melewati tanggal kadaluarsa apabila sejak awal disimpan dalam kondisi tetap beku dan suhu freezer stabil. Meski demikian, kualitas rasa dan tekstur bisa menurun seiring waktu.

Hindari mengonsumsi makanan beku yang tampak berlendir, berubah warna, berbau menyengat, atau mengalami freezer burn yang parah. Selain itu, makanan yang sudah dicairkan lalu dibekukan kembali juga memiliki risiko kontaminasi bakteri lebih tinggi.

4. Tanda-tanda makanan tidak layak konsumsi

Selain memperhatikan batas toleransi makanan kadaluarsa, penting juga untuk mengenali tanda-tanda makanan yang sudah tidak layak dikonsumsi. Pasalnya, makanan dapat mengalami kerusakan lebih cepat jika disimpan dengan cara yang kurang tepat, meskipun belum melewati tanggal kadaluarsa yang tertera.

Beberapa tanda makanan sudah rusak meliputi:

  • Perubahan warna yang tidak normal
  • Bau tengik, asam, atau menyengat
  • Tekstur berlendir, lembek, atau menggumpal
  • Muncul jamur pada permukaan makanan
  • Kemasan menggembung, bocor, berkarat, atau penyok parah
  • Rasa makanan berubah tidak seperti biasanya

Jika menemukan salah satu tanda tersebut, sebaiknya jangan mengonsumsi makanan tersebut karena dapat meningkatkan risiko keracunan makanan dan gangguan kesehatan lainnya.

Tips Aman Saat Menemukan Makanan Kadaluarsa

Mengonsumsi makanan yang sudah melewati batas toleransi kadaluarsa atau mengalami kerusakan dapat meningkatkan risiko kontaminasi bakteri berbahaya, seperti Salmonella, E. coli, atau Staphylococcus. Kondisi ini dapat menyebabkan keracunan makanan dengan gejala berupa mual, muntah, diare, sakit perut, demam, hingga dehidrasi berat.

Agar lebih aman, perhatikan beberapa tips berikut sebelum memutuskan mengonsumsi makanan yang melewati tanggal kadaluarsa:

  • Periksa tampilan, bau, tekstur, dan rasa makanan, bukan hanya tanggal pada kemasan.
  • Pastikan makanan disimpan sesuai petunjuk, misalnya di kulkas, freezer, atau wadah kedap udara.
  • Hindari mengonsumsi makanan dengan kemasan menggembung, bocor, berkarat, atau penyok parah.
  • Jangan mencicipi makanan yang tampak mencurigakan untuk memastikan masih layak konsumsi, karena bakteri berbahaya tidak selalu mengubah rasa atau aroma makanan.
  • Untuk produk hewani, susu, makanan siap saji, dan makanan berlabel use by, sebaiknya jangan mengambil risiko jika sudah melewati tanggal yang tertera.
  • Jangan memberikan makanan kadaluarsa kepada bayi, anak-anak, ibu hamil, lansia, atau orang dengan daya tahan tubuh lemah karena mereka lebih rentan mengalami komplikasi akibat keracunan makanan.
  • Jika ragu terhadap keamanan makanan, lebih baik buang makanan tersebut daripada berisiko menimbulkan gangguan kesehatan.

Membiasakan diri memeriksa kondisi makanan sebelum membuangnya dapat membantu mengurangi limbah makanan di rumah. Namun, keamanan tetap harus menjadi prioritas utama, terutama pada makanan yang berisiko tinggi mengalami kontaminasi.

Oleh karena itu, tanggal kadaluarsa sebaiknya tetap dijadikan acuan utama, disertai pemeriksaan kondisi fisik makanan, seperti aroma, warna, tekstur, dan kondisi kemasannya.

Jika Anda ragu terhadap batas toleransi makanan kadaluarsa, sebaiknya hindari mengonsumsinya. Selain itu, apabila muncul gejala keracunan makanan, seperti mual, muntah, diare, sakit perut, atau demam setelah mengonsumsi makanan kadaluarsa, segera konsultasikan ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Anda dapat memanfaatkan layanan Chat Bersama Dokter di aplikasi ALODOKTER agar bisa berkonsultasi tanpa perlu keluar rumah.