Tak hanya manusia, kucing juga bisa pilek, lho. Penyebab kucing pilek yang paling umum adalah infeksi virus, tetapi berbagai faktor lain juga bisa menjadi penyebab kondisi ini. Jika kucingmu sedang pilek, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mempercepat pemulihannya.

Pilek pada kucing merupakan gejala dari kondisi medis tertentu yang umumnya disebabkan oleh infeksi virus. Selain itu, beberapa hal lain seperti infeksi bakteri, alergi, dan paparan zat iritan, juga bisa menyebabkan kucing pilek.

Ketahui Penyebab Kucing Pilek dan Cara Tepat Menanganinya - Alodokter

Kucing pilek akibat infeksi virus umumnya tidak menular dari manusia, melainkan sesama hewan seperti kucing atau anjing. Ketika kucing sedang pilek, ia akan mengalami beberapa gejala seperti sering bersin, hidung dan mata berair, batuk, lemas dan lesu, nafsu makan menurun, serta demam.

Dalam kasus yang parah, pilek pada kucing bisa menyebabkan hidung tersumbat dan keluarnya cairan berwarna kuning kehijauan dari hidung atau matanya. Kucing juga rentan mengalami dehidrasi saat pilek karena nafsu makannya berkurang.

Berbagai Hal yang Menjadi Penyebab Kucing Pilek

Berikut ini adalah beberapa virus yang bisa membuat kucing peliharaanmu mengalami pilek:

Infeksi virus herpes kucing (feline rhinotracheitis virus)

Pilek akibat virus herpes kucing bisa bertahan selama 5–10 hari untuk kasus yang ringan dan 6 minggu untuk kasus yang parah. Penyakit menular pada kucing ini umumnya disebabkan oleh feline herpesvirus tipe-1 (FHV-1).

Virus herpes kucing menular melalui paparan air liur atau ingus kucing yang sakit, makanan atau minuman yang tercemar virus, dan peralatan makan yang jarang dibersihkan. Virus tersebut bisa menyerang kucing peliharaan maupun kucing liar

Infeksi feline calicivirus

Sama seperti virus herpes kucing, feline calicivirus juga bersifat menular. Selain pilek dan flu, infeksi virus ini juga bisa membuat kucing mengalami luka di mulut, penumpukan cairan di paru-paru (edema paru), atau pneumonia.

Penularan feline calicivirus pada kucing umumnya hampir sama dengan FHV-1, yaitu dari air liur atau ingus kucing yang sakit atau dari peralatan makan, seperti mangkuk air dan makanan, yang jarang dibersihkan.

Virus tersebut paling sering menginfeksi anak kucing berusia 8–12 minggu dan umumnya akan mereda dalam waktu 7–10 hari.

Alergi dan iritasi hidung

Tidak hanya manusia, alergi juga bisa menyerang hewan peliharaan, termasuk kucing. Pencetus alergi dan iritasi di hidung kucing bisa bermacam-macam, mulai dari debu, serangga, kutu, jamur, makanan atau minuman tertentu, asap rokok, hingga parfum.

Saat terkena alergi, hidung dan saluran napas kucing bisa mengalami iritasi dan membengkak. Hal ini membuat kucing mengalami pilek, batuk, sering bersin, napas berbunyi, serta hidung dan mata berair. Alergi juga bisa membuat kucing sering menggaruk tubuhnya karena gatal.

Benda asing dalam hidung

Kucing merupakan hewan yang suka bermain dan penasaran dengan lingkungan di sekitarnya. Hal ini bisa membuatnya rentan menelan atau menghirup benda asing.

Saat kemasukan benda asing di hidungnya, kucing bisa mengalami pilek dan bersin, serta tampak lebih rewel. Beberapa benda asing yang bisa membuat kucing pilek adalah benang atau manik-manik dari mainan, rumput, atau hair ball.

Cara Menangani Kucing Pilek yang Bisa Dicoba di Rumah

Untuk meringankan gejala pilek pada kucing dan mempercepat pemulihannya, kamu bisa mencoba beberapa penanganan berikut ini:

1. Mengusap mata dan hidung kucing dengan kapas basah

Agar kucingmu bisa bernapas dengan mudah serta makan dan minum dengan lebih lancar, kamu dapat mengusap hidung dan matanya dengan kapas yang telah direndam air hangat. Cara ini bertujuan untuk menyeka kotoran yang keluar dari hidung dan matanya selama ia terkena pilek.

2. Memberikan makanan hangat dan beraroma kuat

Hidung tersumbat akibat pilek membuat kucing kesayanganmu susah makan dan minum karena indra penciumannya terganggu. Kamu bisa mencoba memberi makanan hangat dan beraroma kuat, seperti ikan tuna, teri, atau sarden, agar nafsu makannya kembali normal.

3. Menjaga kualitas udara di dalam rumah

Ini merupakan salah satu langkah yang penting dilakukan untuk mencegah kucingmu pilek karena alergi atau iritasi. Sebisa mungkin cobalah untuk menjaga kebersihan rumah dan jauhkan kucingmu dari paparan iritan, seperti asap rokok, debu, atau parfum.

Jika ruangan yang ditempati oleh kucingmu terlalu kering, cobalah untuk meletakkan pelembap udara. Udara lembap dan bersih dapat meredakan hidung tersumbat serta membuat kucing yang pilek merasa lebih baik.

4. Mengurangi stres pada kucing

Stres merupakan salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya pilek pada kucing. Oleh karena itu, kamu disarankan untuk memberikan kucingmu ruangan yang nyaman dan dilengkapi dengan kotak pasir, makanan, air minum, serta alas tidur yang hangat.

5. Mengeluarkan ingus kucing

Tumpukan ingus atau lendir kental di dalam hidung bisa membuat kucing pilek dan sulit bernapas. Untuk mengeluarkan ingus dan melancarkan pernapasannya, kamu bisa memberikan uap hangat kepada kucingmu.

Cara ini bisa kamu lakukan dengan membawa kucing peliharaanmu ke kamar mandi. Tutup pintu kamar mandi dan nyalakan pancuran air panas hingga kamar mandimu terisi uap. Biarkan kucing peliharaanmu berada di kamar mandi beruap tersebut selama 10–15 menit.

Terapi uap hangat ini bisa dilakukan sebanyak 1–3 kali sehari. Kamu juga dianjurkan masuk ke dalam kamar mandi untuk menemani kucingmu agar ia tidak stres atau cemas.

Kucing pilek kerap menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi para pecinta kucing. Namun, dengan penanganan yang tepat, gejala kucing pilek seperti bersin, batuk, serta hidung dan mata berair bisa mereda dalam 7–10 hari.

Untuk mencegah kucingmu terkena infeksi virus yang menjadi penyebab pilek, jangan lupa untuk membawanya ke dokter hewan untuk mendapatkan vaksinasi.

Bila gejala kucing pilek tidak kunjung membaik atau bahkan bertambah parah hingga kucing kesayanganmu sulit bernapas atau tidak mau makan dan minum, segeralah bawa ia ke dokter hewan terdekat untuk mendapatkan penanganan.