Kista umumnya akan hilang dengan sendirinya tanpa penanganan khusus. Langkah penanganan tergantung dari jenis dan ukuran kista, serta usia penderita. Pilihan penanganan yang dapat dilakukan antara lain:

Pemantauan Rutin

Pemantauan rutin biasa dilakukan jika kista masih berukuran kecil dan tidak menimbulkan gejala. Pemantauan dilakukan dengan pemeriksaan USG beberapa minggu atau bulan kemudian setelah diketahui ada kista, untuk mengetahui apakah kista sudah hilang.

Pada penderita pascamenopause, pemeriksaan USG, dan tes darah perlu dilakukan tiap 4 bulan. Hal ini dilakukan karena penderita dalam kondisi ini lebih berisiko mengalami kanker ovarium.

Konsumsi Pil KB

Dokter dapat meresepkan pil KB untuk mencegah kista muncul kembali. Kendati demikian, konsumsi pil KB tidak dapat mengecilkan kista yang sudah ada.

Prosedur Operasi

Operasi dilakukan jika kista terus membesar, masih tetap ada setelah melewati lebih dari 3 siklus menstruasi, atau menimbulkah gejala nyeri. Prosedur operasi bertujuan mengangkat kista. Namun pada beberapa kasus yang lebih parah, pengangkatan kista juga termasuk mengangkat ovarium.

Operasi pengangkatan kista yang masih kecil dapat dilakukan dengan metode laparoskopi, yaitu dengan membuat sayatan kecil dibantu alat laparoskop, yaitu alat seperti selang berkamera. Namun untuk kista yang lebih besar atau kista yang bersifat ganas, dokter akan melakukan pembedahan perut terbuka atau laparotomi.

Semua operasi pasti memiliki risiko, termasuk operasi pada kista ovarium. Komplikasi yang dapat terjadi adalah infeksi daerah operasi yang ditunjukkan dengan gejala perdarahan, perut terasa nyeri atau bengkak, demam, serta keputihan berwarna gelap dan berbau busuk.

Dampak Pengobatan terhadap Kesuburan

Operasi pengangkatan kedua ovarium (bukan hanya kista), akan membuat penderita tidak dapat memiliki keturunan. Dalam menangani kista, dokter akan berupaya menjaga kesuburan penderita kista ovarium yang belum menopause.

Jika terpaksa harus mengangkat ovarium, maka pengangkatan hanya akan dilakukan pada satu ovarium, sementara ovarium lainnya tetap dibiarkan keberadaannya sehingga penderita masih dapat hamil. Pastikan berdiskusi dengan dokter terlebih dahulu sebelum melakukan tindakan pengobatan, seperti operasi, untuk mengetahui manfaat dan dampak yang dapat ditimbulkan.