Manusia kerap membuang sampah plastik dan limbah di sungai dan laut. Tindakan yang tidak bertanggung jawab ini pada akhirnya akan membahayakan tubuh manusia yang mengonsumsi ikan dan hewan laut yang hidup di perairan tersebut. Sistem jaring-jaring makanan akan membantu Anda memahaminya.

Jaring-jaring makanan adalah keterhubungan antara satu rantai makanan dengan rantai makanan lain dalam sebuah ekosistem. Rantai makanan sendiri terdiri dari makhluk hidup satu yang mengonsumsi makhluk hidup lain. Oleh karena itu, satu makhluk hidup dapat memakan lebih dari satu jenis makanan dan makhluk hidup dapat dimakan oleh lebih dari satu makhluk hidup lain, maka terbentuklah jaring-jaring makanan.

Memahami Jaring-jaring Makanan dan Risiko Racun di dalam Hewan Laut - Alodokter

Jika terjadi ketidakseimbangan atau gangguan pada sistem jaring-jaring makanan tersebut, maka akan terjadi dampak kesehatan bagi semua makhluk yang terlibat di dalamnya, tak terkecuali manusia.

Tahapan Jaring-jaring Makanan

Contoh dari fase jaring-jaring makanan sederhana yang bermula dari tumbuhan dapat diumpamakan seperti berikut ini:

  • Tumbuhan menggunakan sinar matahari untuk membentuk biji, daun, dan buah.
  • Tumbuhan, misalnya rumput, kemudian dikonsumsi oleh sapi sebagai herbivora atau konsumen tingkat 1.
  • Sapi kemudian dikonsumsi oleh manusia sebagai konsumen tingkat 2 atau karnivora atau konsumen puncak.
  • Jasad manusia yang mati diuraikan oleh cacing dan bakteri lain yang kemudian dimanfaatkan tumbuhan untuk berkembang.

Jaring-jaring makanan ini juga terdapat di laut, yaitu pada ikan yang awalnya mengonsumsi plankton, kemudian dikonsumsi oleh manusia. Namun, persoalan baru muncul saat perairan tercemar. Hal ini membuat ikan yang akan Anda konsumsi menjadi terkontaminasi oleh limbah yang berada di lautan atau sungai.

Jaring-jaring Makanan Laut dan Bahan Kimia Berbahaya

Mengkombinasikan konsumsi ikan dan hewan laut memang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan protein, vitamin, mineral, dan lemak baik seperti omega-3. Namun setelah memahami jaring-jaring makanan tersebut, kita menjadi mengerti bahwa apa yang dikonsumsi oleh hewan akan masuk ke dalam tubuh pada saat Anda mengonsumsinya. Jika hewan mengonsumsi makanan atau tinggal di lingkungan yang tercemar, racun yang didapatkannya juga akan masuk ke dalam tubuh manusia.

Pencemar umumnya adalah bahan kimia limbah manusia yang tidak larut. Sekali dilepaskan ke alam, bahan ini akan terakumulasi di dalam jaring-jaring makanan sehingga menyebabkan gangguan pada seluruh makhluk hidup yang mengonsumsi, termasuk manusia.

Bahan pencemar ini biasanya akan terus tinggal di dalam tubuh hewan-hewan laut, hingga akhirnya dikonsumsi oleh manusia. Salah satu contohnya adalah merkuri. Sebagian besar merkuri yang terdapat pada ikan sebenarnya dapat ditoleransi oleh tubuh. Tetapi, sebagian ikan dan hewan laut dapat mengandung merkuri dalam kadar tinggi. Pada kadar tinggi inilah, anak-anak dan wanita hamil menjadi kelompok yang paling berisiko terkena efek negatif.

Merkuri dalam kadar tinggi dapat menyebabkan kerusakan pada otak dan sistem saraf janin. Saat manusia mengonsumsi ikan yang terkontaminasi, merkuri tersebut akan terserap juga ke dalam tubuhnya dan menyebabkan gangguan pada dosis yang tinggi. Seiring waktu, merkuri ini akan keluar dari tubuh melalui urine dan tinja.

Mengurangi Risiko Keracunan Merkuri

Jika tidak tahu pasti apakah ikan atau hewan laut yang dikonsumsi benar-benar bebas merkuri dan pecemar lain, ada baiknya untuk mengambil langkah berikut:

  • Batasi mengonsumsi jenis hewan laut, terutama ketika Anda sedang hamil.
  • Hindari memancing ikan untuk dikonsumsi di area-area yang berisiko terpapar merkuri.
  • Hati-hatilah saat mengonsumsi ikan. Pastikan makan ikan yang diambil dari lingkungan yang bersih sehingga Anda yakin bahwa ikan yang disajikan bebas dari merkuri.
  • Cuci tangan dengan sabun segera jika Anda merasa terkena merkuri.
  • Rutinlah melakukan tes darah untuk mengetahui kadar merkuri di dalam tubuh.

Selain merkuri, Anda juga harus mewaspadai kontaminasi pestisida yang dapat mencemari ikan air tawar di sekitar lahan pertanian. Di samping itu, ada pula bahan pencemar lain yang banyak terdapat di perairan, yaitu bisphenol A (BPA). Bisphenol A sendiri merupakan salah satu bahan dasar pembuat plastik.

Seiring waktu, limbah plastik akan mencapai laut dan terdegradasi menjadi serpihan-serpihan yang lebih kecil (mikroplastik). Akibatnya, mikroplastik ini dapat terserap dan terakumulasi di dalam tubuh hewan laut. Jika hewan laut ini dikonsumsi oleh manusia, maka partikel mikroplastik diyakini dapat memengaruhi kinerja organ di dalam tubuh, seperti hati, ginjal, dan usus.

Dampak kesehatan secara langsung pada manusia masih perlu diteliti lebih lanjut. Namun untuk mengurangi risiko, Anda disarankan berhati-hati dalam mengonsumsi sumber makanan yang tercemar, pastikan makanan yang Anda konsumsi berasal dari lingkungan yang bersih dan bebas polusi.