Pulmonologi merupakan salah satu ilmu kedokteran yang fokus dalam menangani gangguan kesehatan pada sistem pernapasan, seperti paru-paru, bronkus, bronkiolus, dan alveolus. Dokter spesialis yang mempelajari ilmu pulmonologi dikenal sebagai dokter paru (pulmonolog).

Untuk menjadi dokter spesialis paru, seorang dokter harus menjalani masa residensi kurang lebih selama 7 semester. Setelah menyelesaikan masa residensi, maka seorang dokter paru dapat bekerja secara mandiri dengan membuka praktik pribadi ataupun menjadi bagian dari tim dokter di rumah sakit.

Memahami Peran Dokter Paru di Sini - Alodokter

Bidang Kerja Dokter Paru

Pada dasarnya, tugas pokok seorang dokter paru adalah mendiagnosis dan menentukan jenis pengobatan yang tepat untuk berbagai masalah yang berhubungan dengan sistem pernapasan, khususnya saluran pernapasan bagian bawah termasuk trakea, bronkus, dan paru-paru. Guna mempermudah dalam proses penanganan pasiennya, maka bidang pulmonologi dibagi menjadi beberapa divisi, yaitu:

  • Divisi pulmonologi intervensi dan gawat darurat napas
    Merupakan divisi pulmonologi yang khusus untuk mendiagnosis dan memberikan tindakan medis nonbedah untuk menangani masalah pada saluran pernapasan, seperti pada efusi pleura, batuk darah, henti napas, sumbatan pada saluran napas bagian bawah karena benda asing, tumor, dan pneumothorax.
  • Divisi asma dan PPOK
    Dalam divisi ini, dokter spesialis paru fokus dalam mengobati pasien yang mengalami penyempitan saluran pernapasan. Penyakit yang biasanya menyebabkan penyempitan saluran pernapasan adalah asma dan penyakit paru obstuktif kronik (PPOK).
  • Divisi paru dan kerja lingkungan
    Dokter spesialis paru ini bekerja secara khusus menangani penyakit paru akibat terlalu sering terpapar partikel berbahaya saat bekerja di luar ruangan. Misalnya serat asbes dan debu silica, yang menyebabkan penyakit asbestosis dan silikosis.
  • Divisi transplatasi paru
    Divisi pulmonologi yang khusus mengevaluasi kondisi pasien sebelum ataupun sesudah melakukan tindakan transplantasi paru. Hal ini untuk mengantisipasi reaksi penolakan organ yang dapat terjadi sesudah melakukan transplatasi paru.
  • Divisi infeksi
    Divisi ini lebih terfokus pada penanganan gangguan saluran pernapasan bagian bawah yang diakibatkan oleh infeksi virus, bakteri, parasit, dan jamur. Penyakit yang dapat ditimbulkan oleh infeksi ini meliputi TB paru, bronkitis, dan pneumonia.
  • Divisi onkologi toraks
    Divisi onkologi toraks lebih mengkhususkan diri dalam penanganan pasien yang mengalami tumor dan kanker di saluran pernapasan bawah. Biasanya, divisi ini akan memberikan pengobatan dengan menggunakan metode bedah atau operasi dan kemoterapi. Dalam melakukan pembedahan, divisi onkologi toraks tidak bekerja sendiri melainkan menjadi bagian dari tim dokter di rumah sakit.

Selain divisi pulmonologi di atas, ada pula divisi lain yang bisa membantu kesembuhan pasiennya, salah satunya adalah divisi imunologi klinik dan faal paru. Divisi ini lebih berfokus dalam menangani masalah saluran pernapasan bagian bawah termasuk paru-paru, yang disebabkan oleh gangguan autoimun. Sedangkan divisi faal paru berperan dalam mengevaluasi fungsi paru, dan memberikan arahan terapi untuk memperbaiki fungsi paru yang terganggu.

Kemampuan yang Harus Dimiliki Dokter Paru

Keterampilan medis yang harus dikuasai seorang dokter paru meliputi::

  • Melakukan wawancara medis dan pemeriksaan fisik umum, terutama inspeksi dada, palpasi dada, perkusi dada, serta auskultasi dada.
  • Melakukan pemeriksaan tambahan. seperti pengukuran laju penghembusan udara (spirometry) dan pengambilan cairan pleura di paru-paru (pungsi pleura).
  • Menginterpretasi hasil pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan laboratorium, dan tes pemindaian paru termasuk Rontgen dada, CT-scan, dan MRI rongga dada.
  • Melakukan prosedur tes provokasi bronkial, tes fungsi paru, bronkskopi, uji oksimetri, thoracocentesis, sleep study terkait gangguan saluran pernapasan, biopsi, lobektomi, manajemen jalan napas serta trakeostomi.
  • Memberikan pengobatan dan tindakan medis pada saluran napas, berupa dekompresi jarum, fasilitasi napas buatan, pemasangan Water Seal Drainage (WSD), terapi inhalasi dan nebulalisasi, serta terapi oksigen.

Daftar Penyakit yang Bisa Ditangani Dokter Paru

Penyakit dan kondisi yang dapat ditangani oleh dokter paru, di antaranya adalah:

  • Asma.
  • Infeksi paru, termasuk pneumonia, bronkitis, dan abses paru.
  • Bronkiektasis.
  • Penyakit paru obstruktif kronik (PPOK).
  • Emboli paru.
  • Tuberkulosis paru dengan atau tanpa komplikasi.
  • Displasia bronkopulmonar.
  • Pneumonia aspirasi.
  • Efusi pleura.
  • Atelektasis.
  • Pneumothorax.
  • Edema paru.
  • Kistik fibrosis.
  • Sleep apnea.
  • Emfisema paru.
  • Penyakit paru interstisial.
  • Kanker paru.
  • Gagal napas.

Jika Anda mengalami gejala seperti batuk parah yang tidak kunjung sembuh, sesak napas, nyeri di bagian dada terutama ketika menarik atau menghembuskan napas, batuk darah, dan penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, segera lakukan konsultasi ke dokter paru. Dokter paru akan melakukan serangkaian pemeriksaan fisik dan penunjang tambahan guna memastikan penyebab munculnya gejala-gejala tersebut dan menentukan diagnosis penyakit.

Hal yang Perlu di Persiapkan Sebelum Bertemu Dokter Paru

Sebelum bertemu dengan dokter paru, ada baiknya Anda memerhatikan dan mempersiapkan beberapa hal berikut ini, untuk mempermudah dokter spesialis paru mendiagnosis dan menentukan pengobatan yang sesuai dengan kebutuhan Anda:

  • Membawa semua hasil pemeriksaan medis yang pernah Anda jalani.
  • Menyampaikan berbagai keluhan dan gejala yang Anda rasakan secara spesifik kepada dokter paru, termasuk sejak kapan keluhan dirasakan dan apa faktor pemberat atau pencetus munculnya keluhan.
  • Memberi tahu dokter mengenai riwayat penyakit, obat-obatan yang sedang dikonsumsi, serta alergi yang Anda miliki.
  • Meminta keluarga atau teman menemani Anda ketika bertemu dengan dokter paru.

Selain hal-hal di atas, jika memiliki asuransi, persiapkan berkas atau surat yang dibutuhkan sebelum bertemu dengan dokter paru, agar biaya konsultasi dan pemeriksaan dapat ditanggung oleh asuransi, sesuai dengan jenis perlindungannya.