Gangguan kesehatan jiwa, termasuk depresi, sering kali dianggap remeh. Padahal depresi dapat menjadi masalah besar bila tidak ditangani dengan cepat. Agar bisa ditangani sesegera mungkin, Anda perlu mengenali gejala-gejala depresi dan melakukan tes depresi untuk memastikannya.

Tujuan utama dilakukannya tes depresi adalah untuk mengukur sejauh mana tingkat depresi yang dialami seseorang. Dengan demikian, dokter dan psikolog dapat merencanakan langkah penanganan yang sesuai dengan kondisi pasien.

Memahami Serba-Serbi Tes Depresi - Alodokter

Kenali Gejala Depresi Terlebih Dahulu

Perlu Anda pahami bahwa sebenarnya banyak orang yang sedang mengalami depresi, tapi tidak menyadarinya. Hal itu terjadi karena kurangnya pemahaman terkait gejala depresi.

Gejala depresi tidak hanya berupa rasa sedih yang berkepanjangan. Rasa cemas dan rendah diri terus menerus, putus asa, serta hilangnya minat untuk beraktivitas juga merupakan bagian dari tanda-tanda kemungkinan seseorang mengalami depresi.

Tidak hanya itu, ada juga beberapa gejala depresi perlu Anda ketahui, di antaranya:

  • Mudah marah dan tersinggung.
  • Mengalami gangguan tidur.
  • Mengalami perubahan nafsu makan.
  • Adanya perasaan bersalah pada diri sendiri.
  • Suka menyendiri, menghindari kontak sosial dengan orang-orang di sekitar.
  • Mengalami kesulitan membina hubungan dengan lingkungan sekitar, baik dalam lingkungan keluarga, teman, maupun rumah tangga.

Bahkan dalam keadaan yang berat, depresi dapat menimbulkan keinginan untuk bunuh diri.

Manfaat Tes Depresi

Karena gejala depresi begitu beragam dan tidak selalu dapat disadari, para ahli telah menyusun tes depresi yang dapat dilakukan secara mandiri, maupun dibantu oleh profesional medis seperti psikolog dan psikiater.

Pada dasarnya, tes depresi dibuat sebagai salah satu cara agar psikolog atau psikiater mengetahui bagaimana kondisi psikologis seseorang, termasuk bagaimana risikonya terhadap depresi. Tes depresi umumnya berupa kuesioner untuk mengumpulkan informasi dari pasien sebanyak-banyaknya.

Namun, perlu Anda pahami bahwa tes depresi ini bukanlah langkah untuk menentukan diagnosis pasti. Tes depresi hanyalah upaya deteksi dini dalam melihat seberapa besar tingkat risiko pasien terhadap depresi.

Setelah mendapat gambaran kondisi psikologis melalui hasil tes depresi, Anda perlu berkonsultasi lebih lanjut pada psikolog atau psikiater. Tujuannya agar dapat dilakukan pemeriksaan yang lebih seksama, guna menentukan diagnosis depresi. Dengan begitu, psikolog maupun psikiater dapat memberikan penanganan yang dibutuhkan.

Contoh Jenis Tes Depresi

Mengingat pentingnya pencegahan dan penanganan depresi sejak dini, baik yang dialami oleh anak-anak maupun orang dewasa, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia memberikan beberapa program tes depresi guna membantu deteksi dini depresi.

Ada beragam jenis tes depresi yang bisa Anda ikuti secara mandiri dan gratis. Berikut beberapa di antara tes depresi yang dapat diakses secara online dari Kemenkes RI:

Geriatric Depression Scale 15

Geriatric Depression Scale merupakan salah satu instrumen yang paling sering digunakan untuk mendiagnosis depresi pada usia lanjut. Tes depresi ini di dalamnya memiliki 15 pertanyaan pilihan ganda yang terdiri dari berbagai instrumen terkait kondisi atau gejala yang mungkin Anda alami.

Self Reporting Questionnaire 20

Tes depresi ini termasuk yang paling umum dilakukan, karena bisa dilakukan oleh semua usia. Pertanyaan-pertanyaan di dalamnya sangat berhubungan dengan keluhan dan ketidaknyamanan yang mungkin dirasakan atau mengganggu Anda selama 30 hari terakhir.

Jika Anda atau orang di sekitar Anda tampak mengalami gejala-gejala depresi, disarankan mencoba tes depresi tersebut. Jawab setiap pertanyaan pada tes depresi dengan jujur, agar hasilnya akurat. Jika hasil tes menunjukkan Anda mengalami depresi, jangan tunda untuk meminta bantuan psikolog atau psikiater.