Carcinoma in situ adalah sekelompok sel abnormal yang muncul pada organ pertama kali dan belum menyebar ke bagian lain. Sel abnormal ini bisa berkembang menjadi kanker dan menyebar ke jaringan normal yang ada di sekitarnya.

Dalam kaidah medis, carcinoma in situ dikenal sebagai bentuk paling awal dari penyakit kanker yang belum menyebar. Istilah carcinoma in situ ini digunakan pada beberapa jenis kanker yang menyerang bagian tubuh tertentu. Berikut beberapa kondisi carcinoma in situ yang kerap ditemukan.

Mengenal Carcinoma In Situ: Stadium Paling Awal Penyakit Kanker - Alodokter

Ductal Carcinoma In Situ

Ductal Carsinoma in Situ (DCIS) adalah sel-sel abnormal yang muncul pada saluran susu di payudara. DCIS dianggap sebagai bentuk paling awal dari kanker payudara. DCIS bersifat noninvasif artinya belum menyebar keluar dari saluran susu dan menyerang jaringan payudara lainnya.

Pada banyak kasus, DCIS tidak menyebabkan tanda-tanda atau gejala tertentu. Namun terkadang, DCIS dapat menyebabkan tanda dan gejala seperti munculnya benjolan pada payudara, serta keluarnya cairan disertai darah pada puting. DCIS biasanya ditemukan melalui prosedur mammogram yang merupakan bagian dari skrining kanker payudara.

Hingga kini belum diketahui apa yang menyebabkan terjadinya DCIS. DCIS terbentuk ketika terjadi mutasi genetik dalam DNA sel saluran payudara. Mutasi genetik menyebabkan perubahan pada sel-sel normal di payudara, tetapi sel-sel ini belum memiliki kemampuan untuk keluar dari saluran payudara. Namun, ada sejumlah faktor yang mungkin memicu terjadinya DCIS termasuk gen dari orang tua atau faktor keturunan, lingkungan, dan gaya hidup.

DCIS tidak membahayakan nyawa tetapi memerlukan pengobatan untuk mencegahnya menjadi ganas. Segera temui dokter jika Anda menemukan perubahan dan gejala pada payudara. Pertimbangkan untuk melakukan skrining kanker payudara secara rutin bagi wanita yang berusia 40 tahun ke atas.

Lobular Carcinoma In Situ

Lobular carcinoma in situ (LCIS) atau disebut juga neoplasia lobular merupakan sel-sel yang terlihat seperti sel kanker yang tumbuh di kelenjar susu (lobulus). LCIS tidak dianggap sebagai kanker, dan umumnya tidak menyebar melampaui kelenjar susu atau menjadi kanker payudara invasif meski tidak diobati. Kendati demikian, LCIS dapat meningkatkan risiko terkena kanker payudara. Wanita yang menderita LCIS memiliki risiko sekitar 7 sampai 12 kali lebih tinggi untuk mengalami kanker ganas di kedua payudara.  Oleh sebab itu, wanita dengan LCIS perlu rutin menjalani skrining kanker payudara dan tindak lanjut oleh dokter sangat diperlukan.

Seringkali, LCIS tidak menyebabkan benjolan yang bisa dirasakan atau perubahan yang bisa dilihat pada mammogram. Dalam kebanyakan kasus, LCIS ditemukan saat biopsi dilakukan untuk gangguan pada payudara akibat kondisi lain yang ada di dekatnya.

Cervical Carcinoma In Situ

Cervical carcinoma in situ adalah sel-sel abnormal yang muncul pada permukaan serviks dan belum menembus lebih dalam ke jaringan di sekitarnya. Cervical carcinoma in situ dianggap sebagai stadium paling awal dari kanker serviks yang biasanya disebabkan oleh human papillomavirus (HPV) yang menyebar melalui kontak seksual dan gaya hidup yang tidak sehat seperti merokok, melakukan hubungan seksual sejak usia dini, diet rendah buah dan sayuran, menggunakan pil KB untuk jangka waktu lama, dan terinfeksi klamidia.

Kanker serviks seringkali tidak menimbulkan gejala di tahap cervical carcinoma in situ, gejala bisa muncul setelah berkembang ke tahap selanjutnya. Karena itu penting bagi Anda untuk melakukan pap smear, kolposkopi, atau pun biopsi sebagai langkah deteksi dini kanker serviks. Skrining kanker serviks direkomendasikan bagi wanita berusia 21–65 tahun.

Colorectal Carcinoma In Situ

Colorectal carcinoma in situ adalah sel abnormal yang ditemukan di mukosa atau lapisan terdalam dinding usus besar atau rektum, namun pertumbuhannya belum melampaui mukosa. Kendati demikian, sel abnormal ini bisa berkembang menjadi kanker. Stadium kanker kolorektal umumnya ditentukan dari hasil pemeriksaan fisik, biopsi, dan tes pencitraan seperti CT scan, MRI, atau pun Rontgen.

Nasopharyngeal Carcinoma In Situ

Nasopharyngeal carcinoma in situ merupakan sel-sel abnormal yang tumbuh di dinding permukaan nasofaring. Sel-sel abnormal tersebut belum menyebar ke jaringan terdekat, kelenjar getah bening, atau organ lain di tubuh Anda. Kendati sel abnormal belum menyebar, ada kemungkinan besar berkembang menjadi kanker ganas jika tidak diobati. Nasopharyngeal carcinoma in situ adalah tahapan paling awal atau stadium 0 kanker nasofaring.

Squamous Cell Carcinoma In Situ

Squamous cell carcinoma in situ dikenal juga dengan istilah penyakit Bowen adalah bentuk paling awal dari kanker kulit atau karsinoma sel skuamosa.

Squamous cell carcinoma in situ tampak seperti bercak kemerahan pada kulit. Penyakit Bowen umumnya tidak menimbulkan gejala, meski bisa terasa gatal atau sakit pada kulit yang mengalami kelainan. Seperti kebanyakan kanker kulit lainnya, kondisi ini paling sering muncul di daerah yang sering terpapar sinar matahari, tapi bisa juga muncul di area anus dan area kelamin. Penyakit Bowen terkadang bisa berkembang menjadi kanker kulit sel skuamosa yang ganas, sehingga dokter biasanya merekomendasikan penanganan khusus untuk mengatasinya. Penderita squamous cell carcinoma in situ lebih berisiko mengalami kanker kulit jenis lainnya, sehingga tindak lanjut oleh dokter sangat penting.

Pengobatan Carcinoma In Situ

Secara umum, pengobatan carcinoma in situ pada bergantung pada lokasi sel abnormal muncul, jenis kanker dan juga kondisi kesehatan penderitanya. Penanganan kanker stadium awal ini bisa dengan obat-obatan kemoterapi, terapi radiasi, hingga dengan pembedahan. Semakin awal kondisi ini tertangani, maka semakin tinggi angka harapan kesembuhannya.

Jangan ragu untuk berkonsultasi pada dokter jika Anda memiliki anggota keluarga yang menderita kanker, dan lakukanlah skrining secara rutin.